
Kini mereka telah duduk di salah satu meja dan kursi panjang yang langsung menghadap jalan raya. Tiba - tiba, Sontak Ara dan Fhani mengangkat lengan untuk menutupi mata mereka masing - masing dari sinar lampu mobil yang akan parkir tepat di hadapan mereka duduk. "Tuh orang nggak sopan banget sih mentang - mentang punya mobil bagus dan mahal." gerutu Fhani.
"Siapa tahu dia juga mau beli sate disini." ujar ara.
"Ya kan parkirnya bisa lurus dipinggir jalan, nggak usah miring gitu." kekeuh Fhani.
"Mbak boleh duduk disini ya." ucap salah satu dari mereka yang baru keluar dari mobil yang baru parkir itu. Modelnya mahasiswa yang baru pulang kuliah, Walaupun sudah kusut pakaiannya tapi muka masih kece.
"Duduk, duduk aja mas. Meja sama kursi bukan punya saya kok." sahut Fhani judes.
"Fhan jangan gitu dong." bisik Ara sambil melototi sahabat nya itu, "Silahkan mas, itu masih kosong." balas Ara ramah.
"Makasih mbak, ngomong - ngomong temennya habis makan cacing ya." Fhani langsung melotot mendengar ucapan pria itu.
"Ehh."
"Siapa tau masih nyangkut di tenggorokan."
"Eh, Ada Nak Kevin dan Nak Laras." pekik Bu Imah saat ia mengantar pesanan Fhani.
__ADS_1
"Silahkan mbak."
"Bu, Kevin dan Laras pesan minum aja dulu ya, Masih nunggu teman yang lain nih pergi ke supermarket di seberang jalan." ujar pria yang duduk di samping Fhani itu.
Bu Imah mengangguk paham, "Kayak biasakan nak Kevin, nak Laras?"
"Iya dong, bu." Kevin lalu mengambil sate dari piring Fhani dengan asal.
"Tunggu bentar ya Nak Kevin." ujar bu Imah seraya berlalu pergi.
"Mas, kayak nya itu punya saya deh." protes Fhani.
Fhani mengepalkan tangan nya tanda bahwa gadis itu tengah dirundung emosi yang tinggi.
"Udah Fhan, Nanti aku ambilin lagi." tutur Ara menengahi.
"Nih Nak minumnya." Bu imah sudah kembali dan menyerahkan dua gelas es jeruk kepada Kevin dan Laras.
Tidak lama setelah itu orang - orang yang ditunggu kevin pun datang dan langsung duduk di meja dan kursi yang sama dengan Ara dan Fhani.
__ADS_1
"Bu es teh nya satu." ujar Kirana seraya mendudukan tubuhnya di kursi yang sama dengan Ara dan Fhani.
"Sip deh neng Kirana, kalau Nak Ray mau minum apa?" tanya bu Imah.
"Es teh aja bu, cuaca lagi panas enak nya minum yang adem - adem." ujar Ray menjawab.
Kunyahan Gigi Ara terhenti, Suara itu di dunia ini banyak, Ra." batin membentengi diri. Sendok di tangan nya jatuh seketika, Ara lalu mendongakkan kepalanya. Suara itu memang banyak tapi tidak mungkin milik orang lain.
Ara dan Ray pun saling tatap menatap, "Mata itu, senyum itu," batin Ara. Ara pun sibuk pada dunia hingga tidak memperhatikan suara Fhani yang sedari tadi memanggil sahabatnya itu.
"Sepertinya wajah wanita ini sangat familiar tapi pernah ketemu dimana ya." batin Ray yang belum melepas tatapan mata nya dari wajah Ara.
Kevin yang melihat itu, " Woi, melamun aja." senggolan Kevin menyadarkan Ray dan kembali kedunianya.
Laras, Kirana, Syilla dan Fhani hanya bisa bengong melihat kelakuan Ara dan Pria yang kini duduk tepat di hadapan Ara setelah Fhaia dan Kevin bergeser ke kanan guna memberi kesempatan bokong Ray duduk. Sementara Laras dan Kirana duduk satu kursi dengan Ara. Kirana yang menyaksikan adegan itu tiba - tiba matanya memerah dan tangan mengepal dari balik meja. Ada rasa yang tak biasa hinggap di hati nya saat ini.
💖💖💖
Silahkan tinggalkan jejak dengan cara like, vote dan koment dan jangan lupa beri rate lima. dan jangan lupa follow profilku terimakasih.
__ADS_1
💖💖💖