JATUH CINTA SENDIRIAN

JATUH CINTA SENDIRIAN
JCS 2. Bagian 106.


__ADS_3

Kini mereka sudah kembali kekamar masing - masing.


******


Di ruang keluarga.


"Mama juga tidak nyangka kalau kalian akan pulang lebih awal, dari pada hari yang sudah Mama jatah untuk kalian." ujar Mama Inggit mengawali pembicaraan ketika mereka sudah berkumpul di ruang keluarga.


"Banyak Ma kerjaan yang menunggu Ray disini, lagi pula disini juga bisa kok lanjut bulan mandunya, iya kan sayang," ujar Ray seraya menatap wajah istrinya yang kini sudah merah merona.


"Malu - maluin saja."


Mama Inggit hanya bisa senyum - senyum menanggapi penuturan sang Anak.


"Ma ... kapan ya Ara nikah?" tanya sang Anak ketika mereka lama terdiam.


Mama Inggit pun menoleh kearah sang Anak kemudian berkata, "Wah ... Mama juga kurang tau tuh, nanti deh Mama nanya sama Bunda Amira," ujar Mama Inggit menyesal.


Mereka kembali hening, "Sayang yuk kita kekamar istirahat?" ajak sang suami ketika di rasa tidak ada lagi yang perlu di bahas.


Sebelum Laras beranjak dari tempat duduknya, "Mama ... juga sebaiknya istirahat sekarang," ujar Laras sebelum meninggalkan mertuanya. Kemudian Laras melangkah pergi bersama sang suami kelantai dua menuju kamar mereka.


Kini mereka sudah berada di dalam kamar, mereka duduk di atas ranjang besar berukuran king size yang muat ditiduri sampai empat orang, dan Laras rebahan di paha Ray.


"Sayang ... kamu mau anak berapa?" tanya Laras kepada Ray.


Ray mengelus pipi Laras yang begitu halus dan mulus dengan ibu jarinya, "Dua cukup, satu laki - laki dan satu perempuan," ucap Ray seraya tersenyum.


Laraspun tersenyum, "Aku jadi tidak sabar ingin segera punya anak dari kamu."


"Aku pun juga demikian. Sudah tidak sabar ingin punya anak dari mu dan segera dapat melihat wajah mereka," ujar Ray tersenyum seraya mengecup kening Istrinya kemudian beralih ke bibirnya.


"Kalau dia laki - laki pasti ganteng kayak kamu, tapi jika dia perempuan pasti kecantikannya warisan dari aku dong," ujar Laras seraya tersenyum menatap wajah suaminya.


"Tapi, mau laki atau perempuan, sama saja dan aku akan tetap sayang pada mereka, karena mereka buah cinta kita ...." kemudian Ray beralih berbisik tepat di telinga Laras, "Dan hasil dari 'Permainan ranjang' Papa dan Mamanya."

__ADS_1


"Ih ... jorok...." ujar Laras malu - malu.


Setelah puas ngobrol mereka pun memutuskan untuk tidur. Mereka tidur dalam posisi berhadapan, Ray tersenyum sedetik kemudian dia mengecup bibir Laras sekilas membuat sang pemilik bibir terbengong dengan tingkah sang suami.


"A_apa yang kamu lakukan?" tanya Laras polos.


Ray tersenyum seraya mengelus pipi Laras.


"Aku mengecup bibirmu, apa salah?"


Laras pun menggeleng.


"Ayo lakukan!!" ucap Ray semangat dan langsung menyambar bibir Laras, Laras yang seakan tau apa yang akan Ray lakukan, Laras mencoba mendorong dada Ray agar Ray mau melepas ciumannya, namun tentu saja tenaga Ray lebih kuat dari Laras.


Laras benar - benar lelah memberontak. Dia hanya diam tak membalas ciuman suami.


Seakan tak peduli, Ray terus melancarkan aksinya, mulutnya sibuk turun pada leher Laras, Ray melonggarkan pelukannya pada Laras.


Merasa pelukan Ray melonggar, Laras langsung mendorong tubuh Ray hingga bokong Ray jatuh kelantai.


"Asssss...." ringis Ray masih duduk di lantai.


"Laras."


Laras terbengong sambil menggit jari telunjuknya dan melihat kearah Ray. Wajah Laras terlihat ketakutan atas apa yang dia lakukan.


"Yang, kenapa kamu diam saja!!! Cepat bantu aku berdiri. Ya ampun ini sakit sekali...."


Laras terkejut dengan teriakan dan bentakan Ray. Dengan sigap Laras turun dari kasurnya dan menghampiri Ray di lantai. Laras menjongkok menyamai tinggi tubuh Ray yang terduduk di lantai.


"Aku minta maaf," ucap Laras menundukkan wajah nya dan memainkan jarinya seakan dia merasa bersalah.


Memang dia salahkan? Disentuh suaminya kok nolak. Padahal bukan yang pertama. Sampai mendorong tubuh kelantai pula. Dosa besar itu. 😂😂😂


Ray yang melihat istrinya merasa bersalah, dia tersenyum melihat istrinya seperti itu. Artinya Laras masih menggapnya suaminya bukan? Jika Ray didiamkan saja, berarti Laras tidak menganggapnya suami.

__ADS_1


Tangan Ray telulur untuk mengusap pucuk kapala istrinya, Laras mendongak menatap mata Ray.


"Ray, aku minta maaf tadi aku refleks. Aku benar - benar minta maaf," sesal Laras.


Ray tersenyum, "Aku tidak apa - apa."


Laras tersenyum, "Benarkah? Kamu memaafkan aku? tanya Laras sumringah.


Ray mengangguk menatap wajah istrinya dengan lembut, "Bantu aku berdiri, bokong ku sakit sekali," rengek Ray pada Laras.


Laras tersenyum lalu membantu Ray berdiri dan tidur di kasur mereka. Saat Ray duduk di kasur, Ray merasa bokongnya sakit sekali, "Aaarrrggghhhh...." Laras yang sedang memegang pinggang Ray tersentak kaget mendengar jeritan Ray.


"Ray kamu kenapa? Ya Allah, apa yang telah aku lakukan pada suamiku. Ray, apa bokongmu masih sakit?" tanya Laras khawatir sambil menahan tangisnya.


"Pinggangku sakit sekali," rintih Ray.


"Kamu tidur tengkurap saja ya! agar pinggang dan bokongmu tidak tertekan," usul Laras memegang lengan Ray.


Ray mengangguk setuju usul Laras.


Laras membaringkan tubuhnya di samping Ray dengan tidur tengkurapnya.


Laras merapatkan wajahnya pada telinga Ray dan berbisik, "Itu sabagai permintaan maafku, semoga lekas sembuh my husband," bisiknya tepat di telinga Ray. Ray hanya diam menerima perlakuan manis dari Laras. Laras semakin merapatkan tubuhnya sambil tetap memeluk punggung Ray dan tak lama dia pun tidur.


Ray tersenyum melihat istrinya sudah tidur dengan memeluk punggungnya. Ray senang sekali mendapat perlakuan seperti ini. Hatinya seakan ingin meledak menerima perlakuan Laras.


Ray pun mendekatkan wajahnya pada telinga sang istri, "Terima kasih atas bantuan, pelukan, kecupan dan elusan. Aku senang malam ini kamu menganggap aku suamimu. Semoga setiap hari kamu bisa seperti ini. Thank you, my wife. Have a nice dream." bisiknya tepat di telinga Laras lalu mengecup pipinya sejenak.


💖💖💖💖


Mari saling mendukung....



Terima kasih...

__ADS_1


💖💖💖


__ADS_2