JATUH CINTA SENDIRIAN

JATUH CINTA SENDIRIAN
JCS 2. Bagian 95. Sabar 2


__ADS_3

Akupun pergi meninggalkan Dhaffin seorang diri.


Kini aku sudah berada di dalam ruanganku berdiri sendiri di jendela menatap mobil yang lewat silih berganti, "Dulu dirimu pernah membuatku terbang bahkan hingga naik kebintang - bintang, namun kini diriku, kamu hempaskan jauh kedalam jurang yang curam. Ragaku memang terlihat masih tetap masih terlihat seperti dulu, tapi tidak dengan hatiku."


"Ngapusi kui hakmu. Kewajibanku gor etok - etok rak ngerti yen mbok apusi."


Dering ponselku menyadarkan aku dari lamunanku. Dilayar tertulis "Dhaffin." memanggil, aku pun mengangkatnya, "Ada apa kamu menelphone ku?"


"Aku bisa jelaskan semuanya sama kamu."


"Tidak ada yang harus kita jelaskan, semua sudah jelas."


"Please, Ra beri aku kesempatan sekali saja untuk membuktikan kalau aku tidak salah, dan ini hanya kesalah pahaman saja."


"Kalau kamu tidak percaya besok, aku bawa dia kesini bertemu sama kamu," ujar Dhaffin kemudian.


"Baiklah kali ini kamu ku maafkan."


"Terima kasih sayang, karena kamu mau memaafkan aku."


"Iya, sama - sama."


Ketika kamu merasa sangat terluka atas sikap orang lain, maka berdo'alah kepada Allah agar kamu tidak berbuat seperti apa yang telah di lakukannya. Orang menangis bukan karena mereka lemah. Tapi, mereka menangis karena telah berusaha kuat dalam waktu yang lama.


💖💖💖


Jam sudah menunjukan pukul 16.00, aku pun bersiap - siap untuk segera pulang kerumahku. Sesaat kemudian kini aku sudah berada di parkiran mobil, dan segera masuk kedalam mobilku kemudian perlahan - lahan meninggalkan halaman restoran. Kini aku sudah berada di jalan raya, dan siap melajukan mobilku untuk pulang kerumah.


💖💖💖


Di tempat yang lain.


"Sayang kenapa kamu tidak bilang sama Bunda kalau kamu mau datang ke sini?" tanya Bunda pada tamunya yang tak lain adalah Clarissa, seraya cipika dan cipiki.


"Bunda, tidak perlu repot kan Clarissa bisa sendiri," ujar Clarissa seraya tersenyum.


"Oh iya, Bunda lupa ayo masuk!" ajak Bunda pada Clarissa.


Mereka pun berjalan beriringan masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


"Bun, kakak kemanan?" tanya Clarissa.


"Kakak sebenatar lagi pulang."

__ADS_1


Tut ... tut ... tut ... ( Bunyi klakson mobil ).


"Nah itu pasti dia yang datang," ujar sang Bunda.


Tidak lama kemudian. "Assalamualaikum," ujar orang yang ada di luar.


"Waalaikumsalam," jawab Bunda dan Clarissa bersamaan.


"Eh, kamu Fin sudah pulang," tanya sang Bunda.


"Kakak," panggil Clarissa.


Dhaffin pun menoleh keasal datangnya suara.


"Eh, kamu Clarissa, kapan datang?" tanya Dhaffin pada adik angkatnya itu seraya berjalan kearah adiknya itu, lalu duduk di samping adik nya itu.


"Baru saja," jawab Clarissa singkat.


"Tunggu bentar, Bunda buat kan dulu kalian minum," ujar sang Bunda seraya berdiri dan berlalu dari hadapan mereka.


"Kakak mau kamu bertanggung jawab," ujar Dhaffin membuka percakapan ketika sang Bunda sudah menghilang di balik tembok rumah.


"Ha .... tanggung jawab? Memangnya apa yang Clarissa lakukan? Clarissa juga tidak menyentuh kakak?" ujar Clarissa tak mengerti.


"Trus Clarissa harus bertanggung jawab apa?" tanya Clarissa tak mengerti seraya menaikkan satu alisanya.


"Gara - gara pesan dari kamu, Ara jadi marah - marah sama kakak. Pokok nya kakak tidak mau tau besok kamu harus ikut kakak menemui Ara, bantu kakak menjelaskan semuanya kalau ini hanyalah kesalah pahaman saja," ujar Dhaffin menjelaskan panjang lebar.


"Jadi, cerita nya ada yang lagi cemburu nih dengan adik, kakak yang cantik ini?" tanya Clarissa dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Siapa yang cemburu?" tanya sang Bunda yang tiba - tiba datang dari belakang.


Sontak mereka pun menoleh keasal datang nya suara.


"Bunda salah dengar. Tidak ada yang cemburu, Bun," jawab Clarissa.


"Pendengaran Bunda masih normal loh," ujar Bunda seraya meletakkan nampannya di atas meja dan mempersilahkan anak - anak nya untuk menikmati hidangan yang Bunda siapkan untuk mereka.


"Terima kasih Bunda," jawab Clarissa seraya tersenyum.


"Bun, Dhaffin kekamar dulu ya," pamit Dhaffin pada sang Bunda.


"De, kakak keatas dulu ya, kakak gerah mau mandi."

__ADS_1


Clarissa hanya menganggukan kepala.


💖💖💖


Di tempat yang lain.


"Senangnya hatiku, dapat kembali ketempat ini. Semoga tidak ada yang menyadari kehadiran aku disini. Bagaimana kabar Ara, bagaimana kabar Fhani sekarang? Tapi apa pentingnya mereka," ucap Karina dalam hati.


"Untung wajah dan penampilan ku sudah berubah, jadi aku mudah pergi kemana pun aku mau," ucap nya kemudian.


Kilas balik.


Sejak kejadian itu, Shilla memutuskan pindah keluar negri, dan memutuskan untuk merubah penampilannya, agar tidak ada yang tau tentang keberadaannya saat ini.


Mula - mula orang tuanya keberatan dengan keputusan yang Shilla buat, tapi dia tetap pada pendiriannya. Tidak lama setelah itu, dia pun berjumpa dengan Dhaffin, waktu mereka sama - sama kuliah, di universitas yang sama. Pada saat cinta bersemi di hati mereka berdua, disaat yang tidak diinginkan Dhaffin harus kembali ke Indonesia. Di situlah mereka harus mengakhiri hubungan yang belum sempat di rajut lantaran tidak mau, jika cinta mereka, mereka lalui dengan cinta jarak jauh.


💖💖💖


"Aku mau melihat siapa sih wanita yang sudah memikat hati Dhaffin," ujarnya kemudian.


"Dan untung, Clarissa tidak menyadari kehadiran ku di pesawat."


*****


Kini Ara sudah tiba di rumahnya. Setelah mobilnya terparkir diapun segera turun dan melangkahkan kakinya ke pintu utama.


"Assalamaualaikum."


"Waalaikumsalam," ucap Bunda Amira dari balik pintu rumah.


"Sudah pulang," ucap sang Bunda.


"Sudah Bund," jawab Ara seraya meraih tangan sang Bunda untuk di ciumnya.


Setelah didalam, "Bund, Ara langsung kekamar ya."


Bunda hanya menganggukan kepalanya sebagai jawabannya.


💖💖💖


Maaf ya bertele - tele....


💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2