
Pancaran fajar di pagi hari adalah pancaran semangat. Semangat baru di hari yang baru. Sambutlah pagi dengan senyuman dan suasana hati dengan baik.
💖💖💖
"Alhamdulillah sudah pagi," gumam ku dalam hati.
"Ting," bunyi notivikasi pesan.
"Siapa sepagi ini sms," tanya ku dalam hati.
"Dhaffin."
"Tumben sms pagi - pagi begini."
Karena penasaran aku pun membuka pesannya.
Dhaffin
- "Pagi sayang sudah bangun tidur belum? Ayo sholat subuh, tempat tidurnya tinggalin aja dulu, tidak bakal hilang kok kasurnya."
Ara
- "Aku sudah bangun, dan baru mau kekamar mandi untuk membersihkan diri, sekalian berwudhu."
Dhaffin
- "Ok deh sayang, bye ... bye ... Assalamualaikum."
Ara
- "Waalaikum salam."
Akupun segera beranjak dari tempat tidur, untuk segera mandi, lalu berwudhu. Beberapa saat kemudian, kini aku sudah menyelesaikan ritual mandiku dan segera berwudhu lalu ku tunaikan kewajibanku seabagi umat muslim. Setelah selesai ku langkahkan kaki ku kearah jendela untuk membuka tirai dan membuka jendela untuk menghirup udara yang belum tercemar. Kicauan burung terdengar sangat merdu, embun pagi memperlihatkan keindahannya. Seolah - olah ingin mengucapkan salamat pagi untuk ku.
Pagi mulai datang. Seperti biasa kunikamti secangkir susu sambil di temani suara lagu yang melantun suara berirama syahdu. Memandang jauh keatas langit, melihat sekawanan awan berjalan menuju ketempat yang lebih jauh. Mengenang masa indah, memikirkan masa bahagia, menemukan kembali puing - puing rasa, walaupun kini terasa sudah tak sempurna. Namun, aku masih bisa menghirup wanginya cinta Inilah suara hati di pagi hari, saat kau tak lagi ada.
Sesaat kemudian kini aku sudah rapi dan siap pergi bekerja. Aku pun segera turun kelantai bawah, menemui segera bunda ku.
Kini aku sudah di bawah.
"Bunda, Bunda."
"Apa sih Ra teriak - teriak?" ujar sang Bunda yang datang dari taman belakang.
"Hee ... he ... he ... Maaf," ujar ku seraya menyunggingkan senyum terbaikku.
"Kamu sudah mau berangkat kerja?" tanya sang Bunda.
"Iya Bun, Ara mau berangkat kerja."
"Kamu tidak sarapan dulu? Kebiasaan ya kamu. Tunggu bentar di meja itu ada roti dan susu kesukaanmu yang sudah Bunda siapkan, Bunda ambilin dulu ya," ujar Bunda seraya berlalu pergi.
Beberapa menit kemudian sang Bunda pun kembali dengan nampan berisi roti dan satu gelas susu. Bunda pun meletakkan nampan itu di atas meja yang tak jauh dari aku berdiri.
"Sini!" ajak sang Bunda.
Aku pun berjalan mendekat kesana, kemudian duduk di samping sang Bunda.
"Di makan dulu rotinya!" perintah sang Bunda.
Akupun memakan dan menghabiskannya, setelah habis, "Bund, Ara berangkat dulu ya,"
"Iya, hati - hati dijalan ya sayang!"
"Assalamualaikum," ucapku seraya meraih dan mencium punggung tangan sang Bunda.
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
Kini aku sudah berada di dalam mobil dan siap melajukan mobilku di jalan raya. Tidak lama kemudian mobilku sudah berbaur dengan mobil satu dan mobil lainnya di jalan raya.
Sesaat kemudian kini aku sudah memasuki halaman restoranku, aku pun memarkir segera mobilku, setelah terparkir aku pun segera turun dan segera masuk kedalam.
"Assalamualaikum, selamat pagi," ucap ku dan menyapa para karyawanku yang sedang bekerja pagi ini.
"Waalaikumsalam, selamat pagi Bu," jawab mereka serentak.
"Silahkan kembali bekerja!"
"Baik Bu," ucap mereka kompak.
Kini aku sudah diruanganku di lantai dua.
Tok ... tok ... tok ... suara pintu terketuk dari luar.
"Masuk."
Ceklek, suara pintu di buka.
"Eh ... kamu Fhan, ada apa?"
Dia pun berjalan mendekat kemudian berucap, "Nanti kita makan siang diluar ya, sudah lama kita tidak makan diluar sama - sama."
"Baiklah, Nona Fhani," ujar Ara yang kini sudah berdiri dan membungkukan badannya dengan tangan didada seolah - olah memberikan penghormatan untuk majikannya.
"Ok." Fhani pun keluar dari ruangan Ara dan kembali bekerja.
Kini hari sudah beranjak siang, dan sudah saatnya untuk istirahat dan makan siang.
Aku pun merapikan meja ku sebelum ku tinggalkan ruang kerjaku. Sesaat kemudian kini aku sudah berada di lantai bawah, dan segera menemui Fhani untuk menepati janji.
"Ra, coba lihat di meja pojokan sana!" ujar Fhani seraya menunjuk salah satu meja, dan disana sedang duduk seorang laki - laki yang aku kenal.
"Sejak kapan dia ada disini?"
"Baru saja."
"Lalu bagaimana dengan makan siang kita?"
"Tidak apa-apa, lain waktu bisa kok, temui aja dulu dia."
"Beneran tidak apa - apa?"
"Iya tidak apa - apa."
"Terima kasih ya Fhan, atas pengertianmu sebagai sahabat."
"Sedah seharusnya. Temui gih sana!"
Akupun tersenyum kemudian berlalu pergi dari hadapan Fhani. Sesaat kemudian kini aku sudah tiba di meja Dhaffin dan duduk dikursi yang ada di hadapannya. "Sepertinya dia tidak menyadari kedatanganku karena jika ku perhatikan, dia sangat sibuk dengan handphone nya," gumam ku dalam hati.
"Hemmmmmmmmmm."
Diapun menoleh keasal datang nya suara.
"Eh, kamu Ra sejak kapan kamu duduk disana?"
"Makanya jangan terlalu sibuk dengan duniamu sendiri. Tidak tau kan kapan aku duduk disini," ucapku.
"Eh, iya ... iya ... maaf ini aku lagi smsan sama teman," ujar Dhaffin beralasan.
"Ohhhhhhhhhh."
__ADS_1
"Kamu kapan datang? Kok tidak ada kirim kabar sama aku kalau kamu sudah pulang dari luar negri?" tanyaku.
"Heeee ... he ... maaf aku cuma ingin memberikan kamu kejutan," jawabnya singkat.
"Oh iya kamu mau pesan makanan apa biar aku yang pergi pesankan," ucap Dhaffin kemudian.
"Samain aja dengan punyamu," jawabku singkat.
Dia pun meletakkan handhonenya di atas meja, kemudian berdiri untuk memesan makanan. Di saat dia pergi, handphone nya pun berdering jiwa kepo ku meronta - ronta ingin tau siapa yang sedang kirim pesan kepadanya. Aku pun mengambil handphone itu dan melihat di layar tertulis Clarissa dan Karina, dia mendapatkan dua pesan sekaligus dari seorang wanita.
Karena penasaran aku pun membukanya yang kebetukan handphone nya tidak memakai pengaman.
Clarissa
- "Kakak sayang, kamu lagi ngapain? Kenapa tidak ada menghubungi Clarissa?
Pesan ke dua
Karina
- "Sayang aku minta maaf, aku menyesal kata - kata mu yang lalu waktu kamu masih di Amerika tidak aku katakan ya."
Setelah ku baca, akupun meletakkan kembali handphone nya di atas meja. Tidak lama berselang Dhaffin pun datang dengan nampan berisi makanan untuk kami berdua.
Sesaat kemudian kami pun sudah menikmati makanan siang kami berdua.
Tidak lama kemudian handphonenya kembali berdering. Dia pun segera membukanya, dan kini dia sedang sibuk dengan dunianya tanpa memperdulikan aku ada bersamanya saat ini.
"Sms dari siapa sih, sepertinya penting banget deh," ucapku pura - pura tidak tau.
"Ah ... ini dari Clarissa," jawabnya tanpa melihat kelawan bicaranya seraya senyum - senyum sendiri.
"Coba sini aku lihat pesannya, boleh tidak?" tanyaku dengan masih berpura - pura.
"Tidak penting sayang, ini tuh cuman adik angkat aku doang," ucapnya yang kini sudah menatap wajahku.
"Adik atau pacar?" tanyaku penasaran.
"Adik angkat sayang."
"Mana ada adek sayang - sayangan," ucap ku lagi tak terima.
"Kamu tidak percaya sama aku? Besok aku kenalin kamu sama dia, dia baru aja kirim pesan ke aku, kalau hari ini dia terbang ke Indonesia."
"Buat nemui kamu? So sweet banget ya adek kamu itu," ucap ku seraya berdiri.
"Tunggu! Kamu ini kenapa sih? Kamu cemburu? Dia itu adik angkat aku, aku harus jelaskan apa lagi sama kamu," ucapnya membela diri.
"Kamu cemburu ya?"
"Siapa juga cemburu."
"Kalau tidak cemburu, ngapain kamu marah tidak jelas seperti ini?"
"Sudah lah aku mau ke atas dulu, kalau kamu sudah menyelesaikan makan siangmu, segeralah pulang," ucapku kemudian berlalu pergi dari hadapannya dengan membawa kekecewaan.
"Kenapa dia tega membohongi aku," ucap ku dalam hati.
💖💖💖
Teman - teman mohon dukungannya ya. Dengan cara like, vote, komen dan jangan lupa rate lima jika kalian suka...
Terima kasih dan mari saling mendukung.
💖💖💖
__ADS_1