
Hari yang di tunggu Mami Yoelitta dan Antony pun tiba, kini mereka sudah mengemas barang yang akan mereka bawa. Bunda Amira dan Arapun turut mengantar mereka kebandara, mereka memang sengaja mengambil jalur udara agar mempersingkat waktu di perjalanan. Sesampainya di bandara.
Mami Yoelitta pun berkata, "Terima kasih ya Amira sudah mau ngantar aku dan Antony sampai kebandara." seraya memegang tangan bunda Amira.
Bunda Amirapun membalas pegangan tangan mami Yoelitta kemudian berucap,
Bunda Amira pun berucap, "Semoga apa yang kamu dan Antony cita - citakan segera dapat terwujud. Jangan malu lantaran umur tua, karena bukan ilmu yang akan pergi mencarimu tapi kamu yang seharusnya mencari ilmu dan siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan memudahkan baginya jalan menuju surga." ( Hadis ).
"Aamiin, terima kasih Amira. Kami pamit dulu, Assalamualaikum." seraya berpelukan lalu kemudian beralih ke Ara. Ara pun membalas pelukan Mami Yoelitta seraya mencium punggung tangan mami Yoelitta.
Begitu pula dengan Antony mencium punggung tangan bunda Amira.
Antony sebelum melangkah pergi dengan mata berkaca - kaca, "Ara, tunggu aku pulang."
Ara hanya menganggukan kepala, kesedihan di wajahku tidak dapat ku sembunyikan hari ini, besok dan lusa dan entah sampai kapan lagi aku akan merindukan sahabatku tapi aku senang karena dia pergi demi menimba ilmu.
__ADS_1
"Hanya do, a yang bisa aku panjatkan di setiap sujudku semoga kamu sehat dan apa yang kamu cita - citakan dapat terwukudkan dan segera kembali kesini." ujar ku seraya membuka tas yang ku bawa dan mengeluarkan sebuah tasbih berwarna biru langit warna kesukaan ku.
Dan jilbab instan warna putih ku berikan buat mami Yoelitta, "Mami di pake ya." ucapku.
"Pasti mami pake, terima kasih ya." ucap mami Yoelitta seraya memasukan kedalam tasnya.
"Aku juga terima kasih, pasti aku pake tasbihnya." ujar Antony seraya memasukan kedalam tasnya.
Mereka pun berpisah di bandara. Mereka berpisah untuk pergi menuntut ilmu buat bekal didunia dan akhirat.
*********
Cinta bagai debu, terbang di terbangkan angin yang selalu sibuk berjalan - jalan dan tersesat di hati gersang. Lain lagi bila langit biru mulai menghitam, cinta adalah sunyi, tanpa bunyi. Yang selalu terdengar hanya nada - nada datar dan sumbang bergema lemah dilangit - langit kamar hatiku.
Cuaca yang terik ini bukan suatu alasan untukku merasakan panas yang serasa membara sampai kerelung jiwa. Tapi keadaan ini yang membuatku terasa semakin ( ingin ) menyesal. Tak mau rasanya aku seperti ini benar - benar tidak ingin.
__ADS_1
"Woiii....melamun aja." tepukan Fhani di bahuku menyadarkan aku dari lamunanku.
"Lagi ngelamunin apa sih?" ujar Fhani bertanya.
"Siapa yang melamun." ujar Ara menjawab.
"Kalau bukan melamun lantas apa? mengkhayal?" ujar Fhani bertanya lagi.
"Bukan juga." ujar Ara kemudian, seraya berdiri dan berlalu pergi dari hadapan Fhani.
Fhanipun heran ada apa dengan bos sekaligus sahabatnya itu. Dia pun segera berlalu pergi dan kembali melayani tamu - tamu yang siang itu lumayan rame dengan pengunjung.
💖💖💖
Maaf bertele - tele .....
__ADS_1
Silahkan tinggalkan jejak dengan cara like, vote, komen dan jangan lupa rate 5 ya. Terima kasih.....
💖💖💖