
nadda tidak bisa melakukan apapun,ia hanya bisa diam tangannya pun sulit bergerak,ia hanya bisa berbicara bahkan untuk duduk saja ia harus dibantu.sungguh miris begitu lah pikirnya.
bagus yang melihat nadda seperti ini pun sedih,ia akan melakukan apapun untuk wanita yang ia cintai meski wanita itu tidak membalasnya.
"nadd apa kamu mau jalan-jalan"
tanya bagus ketika melihat nadda melamun.
"emang kamu nggak kerja?"
tanya balik nadda yang tidak enak karena selalu merepotkan,seharusnya ia marah karena disembunyikan dari keluarganya.tapi entah kenapa aku tidak marah apa karena perlakuannya.
"aku bisa kerja dari rumah,lagian sudah ada Fandi dan Ipul yang menghandle.ayo kita keluar"
bagus mengangkat nadda dan mendudukkannya di kursi roda,ia mendorongnya keluar.
berhubung kejadian hampir ketahuan,bagus memindahkan nadda ke rumahnya.
nadda sebenernya ingin tahu dimana ia berada,namun ia takut ketahuan berbohong ia pun hanya diam melihat pemandangan yang indah.
rumah bagus bak istana bangunan mewah dan halaman yang luas,nadda tidak tahu kalau bagus seorang jutawan sebab ketika smp ia melihat bagus biasa saja.
"apa yang kamu pikirkan? apa kamu sudah mengingat sesuatu"
tanya bagus melihat nadda hanya diam.
"aku belum mengingat sesuatu,boleh aku bertanya"
ucap nadda yang ragu-ragu untuk menanyakan sesuatu.
"kamu boleh bertanya apapun yang kamu ingin ketahui"
ucap lembut bagus tersenyum.
__ADS_1
"kita sekarang ada di..."
ucapan nadda terpotong dengan teriakan seseorang.
"bagus aku kangen sama kamu,bagaimana kalau ya ya"
ucap seorang wanita bergaya keberatan dengan gaun minim menggoda.
"lepas dan pergi dari hidupku"
ucap dingin bagus mengusir wanita itu,wanita itupun kesal dan menatap tajam ke nadda.
"dia siapa? nggak banget pake kursi roda lagi,kasian nggak jalan.ngapain kamu repot-repot ngurusin orang tidak berguna mending kamu jalan-jalan sama aku"
ucap sinis wanita itu memandang nadda,ia berusaha menggoda bagus namun bagus justru jijik melihatnya.
"AMORA PERGI KALAU KAMU MASIH INGIN HIDUP TENANG dan jangan pernah menghina wanitaku"
Amora terdiam air matanya mengalir mendengar bentakan bagus,ia tidak pernah dibentak orang dan sekarang hanya karena wanita lumpuh ia diperlakukan seperti ini.
"awas kau kita lihat seberapa lama lo bisa hidup disini haha"
ucap Amora tersenyum manis seperti malaikat pencabut nyawa.
**
Mila membuka lemari pakaian,ia mengambil salah satu pakaian memeluk nya menangis dalam kesendirian ia mengingat masa dimana pertama kali bertemu.
Nadda.
nama yang tertera dalam baju yang ia peluk,baju dibeli saat mereka dimall.
Mila masih mengingat dimana mereka jalan-jalan tanpa membeli apapun lalu nadda melihat stan baju ia membeli dua satu untuk mila satu untuk nadda.
__ADS_1
sungguh ia menyesal menyuruh nadda untuk pulang,kalau tahu begini ia tidak akan menyuruhnya pulang.
"aaargh kenapa! kenapa harus seperti ini hiks hiks hiks aaargh"
teriak kesedihan Mila memanggil nadda menyalahkan dirinya.
tok.
tok.
tok.
"Mila..apa kau didalam?"
teriak Myung Soo memanggil Mila,ketika mendengar teriakan dari dalam Myung Soo berusaha membuka pintu.
"Mila...Mila kau tidak apa-apa Mila buka pintunya,jangan buat aku kawatir.mila!"
Myung Soo mencari bantuan untuk membuka pintu secara paksa.
brukk.
"Mila..Mila kamu dimana?"
setelah pintu terbuka ia berterima kasih ke orang-orang yang sudah membantunya,ia mencari Mila kekamar ia pun terkejut melihat Mila terbaring dengan memeluk baju bertuliskan nama nadda.
"mil bangun"
Myung Soo menepuk pipi mila namun tidak ada jawaban ia pun memanggil ambulans.
terima kasih sudah baca.
jangan lupa like and koment.
__ADS_1