
Keesokan harinya... Hari ini Alia berangkat ke kampus naik angkot. Karena Andra ada jam tambahan pagi. Namun di tengah perjalanan, angkot tiba-tiba saja berhenti.
''Waduh, Pak. Ini kenapa angkotnya?" seru penumpang ibu-ibu.
''Sebentar ya, saya lihat dulu." Kata Sopir angkot yang segera turun dari angkotnya. Ia membuka kap mesin mobil angkot dan di sana asap mengepul.
''Mohon maaf ya, kalian harus turun di sini. Saya gratiskan nggak apa-apa," kata sopir angkot kepada semua penumpang.
''Yah, Pak. Gimana sih, kita semua juga buru-buru." Protes penumpang lain.
''Sekali lagi maaf ya," kata sopir angkot itu. Semua penumpang pun segera turun termasuk Alia. Alia melihat ke arah jam tangannya dan sepuluh menit lagi kuis akan di mulai.
''Aduh, gimana nih. Mau ada kuis lagi." Alia pun nekat berjalan sambil mencari kendaraan. Karena angkot berhenti di daerah yang sepi kendaraan umum. Fandi yang melewati jalan itupun, melihat Alia yang berjalan sendiri.
''Mangsa nih, kesempatan," gumamnya. Mobil mewah Fandi pun berhenti di depan Alia.
''Astaghfirullah, mobil siapa ini, nggak sopan banget," gerutu Alia. Alia tampak terkejut, bahwa yang turun dari mobil itu adalah salah satu geng Rich Man. Namun, Alia tidak tahu nama mereka, selain Leon.
''Assalamualaikum, Alia," sapa Fandi sambil mengatupkan tangannya.
''Waalaikumsalam. Kamu tahu namaku?"
''Siapa yang tidak kenal kamu. Hijabers kampus." Kata Fandi.
''Oh ya, namaku Fandi. Tentu kamu tidak asing dengan wajahku, kan. Kamu kenapa jalan kaki?" sambung Fandi
''Itu tadi angkotnya mogok."
''Baiklah, ayo kita berangkat bersama. Kita berangkat ke kampus bersama.''
''Tidak usah. Nanti bisa timbul fitnah kalau kita berangkat bersama."
''Fitnah? fitnah darimana? sudah tenang saja. Nanti aku turunkan kamu di depan gerbang saja."
''Ya Allah, apa aku terima saja tawarannya. Aku juga ada kuis dan bisa terlambat." Gumam Alia dalam hati.
''Ayo, tunggu apalagi. Sudah tenang saja, aku nggak akan macam-macam kok." Kata Fandi sambil membukakan pintu depan untuk Alia. Setelah berfikir, akhirnya Alia pun mau. Alia memilih membuka pintu belakang dan duduk di belakang.
''Hah? duduk di belakang, emangnya gue sopir apa? tapi ya sudahlah, permulaan," gerutu Fandi dalam hati. Fandi kemudian segera masuk dan menancap gas mobilnya.
__ADS_1
''Maaf ya kalau aku duduk di belakang.''
''Oh, nggak apa-apa kok. Aku mengerti."
''Ini cewek beneran alim atau cuma kedok atau cuma pencitraan sih," gumam Fandi dalam hati sambil sesekali mencuri pandang Alia dari cermin sun visor mobilnya. Alia tampak sibuk membaca bukunya untuk mempersiapkan kuisnya nanti. Hanya ada keheningan di dalam mobil itu. Fandi si playboy dengan segudang gombalan dan rayuan hanya bisa terdiam di hadapan Alia. Hingga akhirnya mereka sampai di gerbang kampus.
''Alia, sudah sampai."
''Oh iya, iya. Makasih ya." Kata Alia yang melihat keluar jendela, bahwa Fandi benar-benar menepati ucapannya.
''Tapi kamu harus membayarnya."
''Memangnya berapa? aku hanya membawa uang dua puluh ribu saja."
''Hah? dua puluh ribu. Yang benar saja jaman now, masih laku tuh uang," gumam Fandi dalam hati.
''Bukan, maksudku bukan uang. Bagaimana kalau kamu temani aku makan siang."
''Maaf tapi aku pulang kampus harus segera bekerja."
''Kerja?"
''I... iya, aku tahu tapi.....,"
''Maaf ya, aku ada kuis pagi ini. Sekali lagi terima kasih sekali, semoga Allah membalas kebaikan tulus kamu. Assalamualaikum," kata Alia yang kemudian segera turun dari mobil Fandi.
''Waalaikumsalam. Gila banget nih cewek, sumpah jual mahal banget." Gerutu Fandi. Fandi segera menuju tempat parkir, lalu segera menuju basecamp Rich Man. Sebuah ruangan yang memang di khususkan untuk mereka bertiga.
''Gila, gila banget tuh cewek. Sumpah susah banget deketin dia," kata Fandi sembari menenggak anggur dari gelasnya. Mendengar Fandi mengoceh, Leon pun tertawa.
''Emang enak? masih mending gue lah bisa makan bareng sama dia." Ledek Leon.
''Aduh, ngapain sih kalian itu ribut masalah cewek nggak penting. Halah, mereka pasti jual mahal doang. Mana ada sih cewek yang bisa menolak pesona kita. Sok alim tapi kenyatannya main pelukan sama cowok lain. Gue malah jadi benci sama cewek itu." Kata Elvan yang tak kalah kesal.
''Makanya sekarang gantian, elo dekatin dia. Kita buktiin, kalau dia selama ini cuma pencitraan." Kata Leon.
''Ya, kita lihat aja nanti." Kata Elvan menyeringai
...****...
__ADS_1
Jam mata kuliah pagi, Alia selesai. Di luar, Rendra sudah menunggu.
''Rendra, kamu sudah di sini? ada apa?" tanya Alia.
''Gimana kalau kita ngobrolnya di kantin, sambil minum-minum," ajak Rendra.
''Boleh, kok. Ya udah ayo ke sana. Rani, Diana, aku ke kantin dulu ya, nanti kalian nyusulin kita ya," kata Alia dengan suara sedikit keras.
''Oke," jawab Rani dan Diana dengan kompak. Sesampainya di kantin, Rendra segera memesan minuman untuk mereka berdua.
"Oh ya, Al. Ini ada sedikit rezeki dari aku, tolong ya kamu berikan sama anak yatim. Biasanya kan tiap satu bulan sekali, komunitas kamu mengunjungi panti asuhan." Kata Rendra sembari menyodorkan amplop pada Alia.
''Masha Allah, Ren. Terima kasih ya, alhamdulillah banget. Ren, kamu kalau mau ikut boleh kok. Sekalian kamu bisa ketemu sama mereka dan sekalian kamu tahu bahwa kami benar-benar amanah."
''Kalau amanah aku sudah yakin 100% sama kamu, Al. Tapi kalau ikut, apa benar aku boleh ikut?" kata Rendra dengan begitu antusias.
''Boleh kok, Ren. Lusa kan Sabtu, jadi kita berangkat hari itu saja."
''Makasih ya, Al. Aku sendiri yatim piatu jadi aku sangat senang kalau berbagi dengan mereka." Rupanya dari kejauhan, terlihat tiga pasang mata sedang mengawasi gerak-gerik Alia.
''Wah, benar-benar gila. Dia nolak ajakan gue dan sekarang malah di kantin sama cowok lain," gerutu Fandi dengan kesal.
''Mana mereka terlihat akrab lagi. Lihat aja ekspresinya happy banget, waktu sama gue juga nggak gitu," timpal Leon.
''Makanya gue bilang apa. Dia itu cewek munafik, pencitraan doang.'' Sahut Elvan dengan geram.
''Tapi anehnya, kenapa sama godaan kita, dia nggak tertarik ya. Apa image playboy kita sudah terlanjur nempel sama kita ya? sampai Alia nggak mau dekat-dekat sama kita." Kata Leon.
''Bisa jadi sih, mungkin kita terlalu brengsek," timpal Fandi dengan tawanya.
''Oke, serahin aja sama gue. Lihat aja, gue bakal buka kedok tuh cewek. Lebih baik apa adanya saja , iya kan? daripada harus bersikap alim dan berlindung di balik hijabnya. Gue juga eneg lihat cewek munafik kayak gitu."
''Nah gitu dong, El. Rajanya buaya akan beraksi," sahut Leon sambil menepuk pundak kekar Elvan.
''Tunjukkan kebuasan mu, El. Kita mendukung sepenuh hati, semangat," imbuh Fandi sembari mengepalkan dan mengangkat tangannya.
''Oke, kita lihat aja nanti. Jangan sok jual mahal," gumam Elvan dalam hati sambil mengeratkan rahangya
...Ayo beri dukungan untuk semua karya author, terima kasih 🙏❤️...
__ADS_1