
Makan siang pun telah siap di atas meja. Namun Elvan tak kunjung datang. Alia memilih untuk menjalankan sholat dzuhur terlebih dahulu. Dengan khusyuk Alia bersujud dan ada nama Elvan dalam doanya. Berharap Elvan bisa berubah menjadi seseorang yang lebih baik dan melupakan dendam dan bencinya di masa lalu. Selesai sholat, Alia mengirimkan pesan untuk Elvan.
''Kamu dimana? aku sudah di rumah dan menyiapkan makan siang untuk kamu,'' tulis Alia. Namun ternyata ponsel Elvan mati.
''Kok centang satu ya? dimana ya Elvan? kok aku jadi khawatir,'' gumam Alia.
Dua jam lebih Elvan menunggu Sandra hingga pemotretan Sandra selesai. Sandra senang sekali karena Elvan benar-benar bersamanya.
''Pacar kamu, San?'' tanya Rudi, fotografer Sandra yang sedikit kemayu.
''Iya.''
''Setia banget sih nungguin daritadi,'' kata Rudi.
''Iya dong. Ya udah Kak Rudi, aku pamit dulu ya. Makasih ya.''
''Sama-sama, San. Thanks juga ya selalu membantu eike. Di jamin nanti bakal jadi super model.''
''Amin.'' Sandra segera menghampiri Elvan yang sedari tadi tak beranjak dari duduknya.
''Ayo El kita pulang.''
''Oh udah selesai.''
''Yap! thanks banget ya udah temenin aku. Gimana kalau kita ke bar. Butuh refreshing.'' Ajak Sandra.
''Hmmmm,'' singkat Elvan.
''Oh ya, Fandi sama Leon mana?''
''Mana gue tahu,'' singkat Elvan. Sandra lalu menggandeng lengan Elvan dan berjalan keluar meninggalkan studio. Di luar studio, Fandi dan Leon masih saja menggoda para gadis.
''Fandi! Leon! cabut yuk,'' ajak Sandra.
''Siap Nona Sandra,'' jawab Fandi dan Leon dengan kompak. Sandra lalu mengajak Elvan, Fandi dan Leon menuju sebuah bar. Mereka makan siang bersama dan tak lupa selalu ada wine di tengah-tengah mereka. Selesai makan, Sandra mengeluarkan vape dan menghisapnya lalu menghembuskannya pada wajah Elvan. Elvan hanya diam tak bergeming dan menikmati aroma vanilla dari vape yang di hembuskan oleh Sandra. Sementara Leon dan Fandi entahlah sudah mencari mangsa.
__ADS_1
''Elvan, ayo dong minum. Ini wine terbaik yang aku pesan,'' kata Sandra sambil menyodorkan wine pada Elvan. Elvan lalu menenggaknya, ketika ia mengingat kebersamaan Alia dan Rendra hari ini. Elvan lalu menuangkan lagi wine ke dalam gelas dan menenggaknya sampai habis. Tak berhenti di situ, Elvan langsung meminumnya dari botol wine tersebut. Sandra tercengang melihat Elvan yang meminum seperti orang yang sedang keserupan.
''Elvan! berhenti!" kata Sandra. Namun ucapan Sandra tak di hiraukan oleh Elvan. Elvan justru membuka botol kedua dan menenggaknya langsung. Kebersamaan Rendra dan Alia terus melintas dalam benaknya. Berharap dengan minum, dia akan segera mabuk dan tertidur.
''Elvan! udah! kamu gila ya,'' kata Sandra sambil memegangi tangan Elvan.
''Elo yang ngajak kesini dan gue minum, ngapain elo larang-larang. Hah!" kata Elvan dengan matanya yang melotot, membuat Sandra merasa takut. Elvan mendorong tubuh Sandra hingga Sandra jatuh dari atas kursi.
''Elvan! kamu keterlaluan banget sih!" kata Sandra dengan kesal dan berusaha berdiri.
''Elvan? kamu kenapa sih?'' kata Sandra sembari memeluk Elvan berusaha menenangkannya. Elvan pun mulai mabuk.
''Gue nggak suka sama elo! jadi jangan paksa gue dan jangan serahin tubuh elo buat gue! dasar murahan!" kata Elvan dengan geram sambil melepaskan tangan Sandra yang melingkar di tubuhnya. Keributan itu pun mendapat perhatian para pengunjung bar. Elvan yang sudah mulai mabuk, berjalan sempoyongan dan segera menuju mobilnya. Sandra benar-benar marah dan merasa di hina oleh Elvan karena ucapannya. Karena semua pengunjung bar menatap sinis ke arah Sandra. Fandi dan Leon pun tidak tahu jika Elvan telah pulang. Karena mereka berdua masih bersenang-senang dengan para gadis di lantai dua.
...****************...
Alia pun masih di rumah Elvan. Ia sedang duduk dengan cemas di ruang tamu menunggu Elvan. Sesekali Alia melihat karah luar jendela kaca. Apa yang di lakukan Alia sama persis seperti seorang istri yang sedang cemas menunggu suaminya pulang.
''Mbak? Den Elvan belum juga ya?'' kata Bi Minah yang kasihan melihat Alia menunggu sedari tadi.
''Iya, Bi. Saya coba kirim pesan nggak bisa dan saya barusan telepon nggak nyambung," kata Alia yang merasa khawatir.
"Sebaiknya jangan, Bi. Saya khawatir kalau nanti Elvan justru marah. Ini juga sudah hampir maghrib dan makanannya juga sudah dingin."
"Ya sudah mbak kalau gitu saya panasin aja ya. Biar buat makan malam."
"Kalau nggak ke makan, mending di bagi-bagiin kayak kemarin aja, Bi. Sayang kan kalau nggak ke makan, malah mubadzir."
"Iya Mbak."
"Sudah adzan maghrib Bi. Saya numpang sholat maghrib ya, Bi."
"Iya Mbak, silahkan."
"Kasihan Mbak Alia. Den Elvan ini memang keterlaluan. Tapi saya khawatir jangan-jangan Den Elvan mabuk-mabukan lagi," gumam Bi Minah dalam hati. Selesai sholat maghrib, Alia kembali menuju ruang tamu untuk menunggu Elvan. Duduk, berdiri, mondar-mandir, itulah yang Alia lakukan. Entah kenapa ia sangat khawatir dengan Elvan. Hingga akhirnya terdengar suara deru mobil Elvan. Alia segera keluar untuk menjemput Elvan. Elvan keluar dari mobil dalam keadaan mabuk berat.
__ADS_1
''Elvan, kamu darimana aja? aku udah nunggun kamu dari tadi,'' kata Alia dengan cemas.
''Udah minggir sana!" ketus Elvan sambil berlalu masuk ke dalam rumah dengan jalannya yang sempoyongan. Alia pun mengejar Elvan dan membuntutinya. Saat Elvan menaiki tangga, Elvan pun tersungkur. Alia terkejut dan mendekati Elvan lalu membantunya berdiri.
''Hati-hati dong, El. Sini aku bantu,'' kata Alia sambil membantu Elvan berdiri. Elvan menatap tajam mata Alia.
''Nggak usah sok baik,'' ketus Elvan dengan mengeratkan rahangnya. Elvan lalu mencoba berdiri dan berjalan kembali menuju kamarnya. Namun baru beberapa langkah, Elvan terjatuh lagi. Alia kesal karena Elvan begitu keras kepala. Tanpa banyak bicara, Alia membantu Elvan berdiri. Alia mengalungkan lengan Elvan di lehernya dan Alia merangkul pinggang Elvan. Entah kenapa kali ini Elvan tak bisa berkutik. Ada rasa nyaman dan marah yang memburu di hati Elvan. Akhirnya mereka berdua sampai di kamar Elvan. Elvan menyeringai dan mengunci pintu kamarnya dan memasukkan kunci itu ke dalam saku celananya.
''Elvan, ngapain pintunya kamu kunci?'' tanya Alia dengan suara gemetar. Elvan lalu mendekati Alia dengan tatapan seolah ingin menerkam.
''Elvan, kamu mau ngapain? kamu jangan macam-macam ya." Kata Alia sembari berjalan mundur karena Elvan terus mendekat.
''Elo cewek munafik yang pernah gue kenal sebelumnya. Berlindung di balik jilbab elo tapi di luar itu elo mau di pegang dan di peluk sama cowok kan? iya kan?'' kata Elvan dengan tatapan yang membuat Alia takut.
''Apa sih maksud kamu? aku nggak pernah kayak gitu, El. Jangan ngarang kamu ya.''
''Hhh, siapa yang ngarang? elo emang munafik. Sebenarnya elo juga kan kalau di peluk dan di pegang-pegang. Iya kan?'' Elvan terus mendekat hingga tubuh Alia tersudut pada dinding dan tidak ada jalan keluar. Elvan lalu menarik tubuh Alia dalam pelukannya dengan sangat erat.
''Elo suka kan? elo suka kan di peluk kayak gin? apalagi sama cowok kayak gue, iya kan?'' kata Elvan.
''Lepasin El! Lepasin!" kata Alia sembari memberontak namun tenaga Elvan terlalu kuat. Alia benar-benar takut dan merasa gemetar.
''Nggak usah munafik. Elo suka kan kayak gini? atau cuma selama ini cuma kedok aja? kalau gitu gue boleh dong minta lebih? masak cowok itu aja.'' Kata Elvan yang semakin erat memeluk tubuh Alia. Hingga Elvan mencium aroma pafum Alia yang sangat lembut. Alia tak berdaya lagi dan ia pun menangis.
''Lepasin aku, El. Kamu buat aku takut. Aku nggak seperti itu. Kamu pasti salah paham dan salah lihat,'' tangis Alia dalam pelukan Elvan.
''Aku mohon lepasin aku,'' lirih Alia dengan suara gemetar. Mendengar Alia menangis sesenggukan dengan suara gemetar, membuat Elvan melonggarkan pelukannya.
''Aku nggak pernah kayak gitu. Kamu keterlaluan sekali,'' kata Alia sembari menunduk. Elvan pun telah melepaskan pelukannya. Elvan lalu menjauh dari Alia dan entah kenapa ia merasa bersalah karena. Alia memeluk tubuhnya sambil terus menangis, tubuhnya pun terasa bergetar.
''Maafin gue, maafin gue,'' kata Elvan dengan rasa bersalah. Alia segera merapikan pakaian dan hijabnya yang telah berantakan. Ia kemudian berjalan keluar namun pintu kamar Elvan terkunci.
''Tolong bukain pintunya.'' Pinta Alia dengan suara bergetar. Elvan lalu mendekat ke arah pintu dan membukanya. Alia segera turun ke bawah dan langsung pulang tanpa pamit. Ia benar-benar merasa di lecehkan dan di rendahkan oleh sikap Elvan.
''Alia, tenang. Jangan sampai Ayah dan Andra tahu ini,'' gumam Alia pada dirinya sendiri. Alia segera menyeka air matanya dan berusaha untuk kembali tenang. Sampai akhirnya Alia berhenti di sebuah masjid. Alia segera mengambil air wudhu dan segera menunaikan sholat isya.
__ADS_1
''Ya Allah ampuni hamba,'' gumam Alia dalam hati sembari menengadahkan tangannya. Selesai sholat, Alia segera menuju teras masjid. Ia bingung bagaimana ia pulang. Karena tas, ponsel dan dompetnya masih tertinggal di rumah Elvan.
...Bersambung......