
Sesampainya di rumah, Alia merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Masya Allah, hari ini capek banget. Tapi seneng juga. Akhirnya semuanya berjalan lancar." Gumam Alia.
"Oh ya, Elvan kenapa ya? ada apa sama Mamanya? Udah dua kali ini aku pergokin dia kayak gitu.'' Kata Alia yang berdialog pada dirinya sendiri.
''Eh, eh, tapi kenapa juga aku mikirin dia. Kan bukan urusan aku. Sadar, Alia. Mending kamu ambil wudhu dan sholat tahajud." Kata Alia yang menyadarkan kembali pikirannya. Sementara seperti biasa, Elvan bersama Leon dan Fandi pergi ke club malam.
''Akhirnya kita bebas hari ini!" teriak Leon dengan keras sambil mengangkat gelas kristalnya yang berisi wine.
"Aduh, benar-benar deh hari yang melelahkan. Cheers!" Kata Fandi sambil mengangkat gelas dan mengadunya dengan gelas Leon. Namun Elvan sedari tadi hanya diam. Ia duduk sambil menyilangkan kakinya dan dengan tangan yang sedari tadi cuma memegang gelas aja. Wine dalam gelas itu pun masih utuh. Fandi dan Leon saling melirik, seolah bertanaya ada apa dengan Elvan?
''Woi, kenapa lo?" tanya Leon sambil menepuk pundak Elvan.
''Apaan sih? nggak kenapa-kenapa juga.'' Ketus Elvan.
"Kenapa sih, El? Daritadi kita perhatiin bengong aja. Tuh cewek-cewek pada takut deketin elo, soalnya muka elo asem banget.'' Timpal Fandi.
''Bodoh amat!" singkat Elvan. Elvan lalu mulai menenggak wine dalam gelasnya, kemudaian ia menuang lagi dan meminumnya lagi, hingga botol wine itu pun kosong.
''Aneh banget nih bocah!" celetuk Leon dengan heran.
...****************...
''Chelsea! Ayo sayang kita sarapan.'' Panggil Milka pada putri kecilnya.
''Iya, Mi." Sahut Chelsea yang sudah berjalan menuju meja makan.
''Morning, sayang.'' Sapa Endrew sambil mengecup putri kecilnya.
__ADS_1
''Morning juga, Daddy." Jawab Chelsea.
''Sayang, aku hari ini harus keluar kota." Kata Endrew sembari menyantap nasi goreng di hadapannya.
''Lho, kok mendadak sih, Mas. Lagian ini juga weekend. Aku sekarang juga ada seminar fashion di luar kota. Terus Chelsea gimana?" kata Milka dengan wajah yang tampak kecewa.
''Memangnya si Nina belum balik?"
''Belum, Mas. Dia kan cuti nikah, aku juga nggak tau setelah ini bakalan balik apa nggak. Terus Bi Surti juga libur. Nggak mungkin aku cancel kan acaranya. Apalagi aku sebagai pembicaranya, Mas." Kata Milka. Mendengar kesibukan pekerjaan istrinya, Endrew terdiam dan menghentikan aktivitas makannya sejenak. Ia mencoba berfikir sembari menopang dagunya. Sesekali ia melirik kearah Chelsea yang dengan polosnya, sangat menikmati sarapan paginya. Sementara istrinya yang sedari tadi mondar-mondir merangkap pekerjaan dapur dengan ponsel yang terjepit diantara telinga dan pundaknya. Milka terlihat menghubungi asistennya. Endrew menarik nafas panjang setelah berfikir sejenak.
''Oke. Setelah ini aku antar Chelsea ke rumah Elvan.'' Kata Endrew.
''Oke, itu lebih baik, Mas. Daripada Chelsea di rumah sendirian.'' Sahut Milka sembari meletakkan ponselnya dan kembali menyelesaikan pekerjaan dapurnya.
''Selalu saja sibuk." Gumam Chelsea dalam hati dengan perasaan kesalnya. Namun Chelsea hanya bisa pasrah. Ia lebih baik tinggal di rumah sendirian daripada bersama dengan Elvan. Tentu saja Elvan selalu mengabaikannya. Di rumah bersama Elvan, seperti tidak bersama manusia karena Elvan selalu acuh terhadap Chelsea.
Dirumahnya, Elvan baru saja bangun tidur. Hari ini adalah hari libur. Ia begitu malas dan enggan untuk bangun. Kepalanya terasa berat dan pusing karena efek dari mabuk semalam. Ia hanya sibuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sembari melihat layar ponselnya.
''Masuk!" Sahut Elvan dengan suara malas.
''Den, ini teh hijaunya.'' Kata Bi Minah sembari meletakkannya di atas meja.
''Terima kasih, Bi. Oh ya, kemeja kotak-kotak warna abu mana ya?"
''Itu, Den, sama Marni di bawa ke laundry. Soalnya kan Den Elvan selalu pulang malam dan setiap habis minum selalu muntah. Jadi sama Marni semua di bawa ke laundry.''
''Oh begitu. Lalu kapan bajunya datang?"
"Nanti di antar kok, Den.''
__ADS_1
''Baguslah, lebih baik di bawa ke laundry. Nanti si Marni malah ngrusakin baju aku lagi." Kata Elvan dengan ketus.
''Kalau begitu saya permisi, Den.''
''Iya.'' Kata Elvan. Bi Minah pun segera meninggalkan kamar Elvan. Elvan lalu beranjak dari tempat tidurnya dan duduk di balkon, sembari membawa secangkir teh buatan Bi Minah. Namun tiba-tiba matanya membulat saat melihat mobil Endrew masuk ke halam rumahnya.
''Ngapai sih tuh orang pagi-pagi kesini? Ini kan hari libur. Mau ngrecokin apalagi dia.'' Gumam Elvan dengan kesal. Mata Elvan semakin membuat saat Endrew datang bersama Chelsea. Ia merasa kesal sambil mengacak-acak rambutnya. Endrew yang baru saja sampai, langsung menuju kamar Elvan bersama Chelsea.
''Elvan!" Panggil Endrew sembari membuka pintu kamar Elvan tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Elvan yang mengetahui kedatangan Endrew memilih acuh dan tetap menikmati pemandangan dari balkon kamarnya. Endrew yang melihat Elvan berdiri di balkon, segera menghampirinya.
''Ada apa pagi-pagi kesini?" ketus Elvan dengan memunggungi Endrew.
''To the point amat. Aku nitip Chelsea ya. Aku mau keluar kota dan Mamanya juga ada seminar. Kemungkinan kita pulang besok. Pembantu sama pengasuh juga lagi pada libur. Sekalian aku bawain seragam sekolah Chelsea untuk besok dan juga buku-bukunya. Kebetulan Chelsea juga ada tugas dan harus di kumpulin besok jadi please bantu dia ya.'' Cerocos Endrew tanpa titik dan koma.
''Iya-iya, udah pergi sana!" ketus Elvan yang kemudian membalikkan badannya. Endrew lalu meletakkan tas sekolah dan juga ransel berisi pakaian Chelsea.
''Thanks my bro.'' Kata Endrew sambil memeluk Elvan untuk sejenak. Endrew lalu melepaskan pelukannya karena ia tahu bahwa Elvan tidak pernah mau membalas pelukannya.
''Chelsea, kamu sama Om Elvan dulu ya. Daddy dan Mami akan secepatnya pulang. Oke, sayang.'' Endrew lalu berlutut dan memeluk Chelsea. Kemudian ia mencium pipi dan kening putrinya dengan penuh kasih sayang.
''Daddy sama Mami hati-hati ya.''
''Iya, sayang. Daddy pamit ya. Kamu baik-baik ya sama Om Elvan dan jangan menyusahkan Om Elvan.'' Setelah berpamitan dengan putrinya, Endrew segera keluar dari kamar Elvan dan segera pergi. Elvan menatap keponakannya yang sebenarnya sangat manis dan lucu. Lalu ia mengahbiskan menyeruput tehnya dan pergi berlalu meninggalkan Chelsea.
''Om mau kemana?" tanya Chelsea pelan.
''Kamu disini aja. Aku mau mandi."
''Iya, Om.'' Jawab Chelsea sembari mengangguk. Di dalam hati Elvan, sebenarnya ia sangat menyayangi Chelsea namun rasa bencinya pada Endrew selalu menutupinya. Bahkan dalam hati kecilnya, ia juga menyayangi Endrew namun lagi-lagi cerita masa lalu yang menyakiti Mamanya, membuat ia selalu di selimuti rasa benci.
__ADS_1
...Ayo like, komen dan votenya ya, terima kasih 🙏❤️...