Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"

Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"
EPISODE 19 PANTI ASUHAN


__ADS_3

Mereka lalu melanjutkan perjalanan dan tiba di panti asuhan jam empat sore.


''Akhirnya sampai juga. Alhamdulillah." Kata Alia.


''Nggak salah disini tempatnya, Al?" tanya Leon.


''Iya lah. Emang tempatnya di pelosok desa, Leon." Sahut Alia.


''Jangan salah, disini enak banget. Sejuk, alami, airnya aja langsung dari pengunungan. Kalau kalian nggak suka, pulang sana!" ketus Rani.


''Galak amat sih!" Kata Leon.


''Udah ayo kita turun! Cowok-cowok, turunin semua barang-barangnya ya.'' Kata Rendra. Mereka semua lalu segera turun dari mobil. Elvan, Rendra, Leon dan Fandi mengangkat semua barang-barang yang ada di mobil. Alia, Rani dan Diana berjalan di depan sembari membawa barang yang ringan-ringan. Panti asuhan yang terletak di pelosok desa yang indah nan asri. Meskipun begitu, panti asuhan ini memiliki bangunan yang sangat besar dan luas. Dan bulan ini adalah giliran Panti Asuhan Kasih Bunda, target mereka.


''Assalamualaikum!" Kata Alia sambil mengetuk pintu.


''Waalaikumsalam!" Sahut Ibu Mira. Ibu pengasuh panti asuhan tersebut.


''Eh, Mbak Alia! Ayo masuk!" Kata Ibu Mira.


"Saya bawa pasukan, Bu. Yang pakaiannya agak aneh ini, namanya Elvan. Terus yang telinganya ada antingnya namanya Leon. Yang pakai kalung nggak jelas ini namanya, Fandi. Dan di ujung sana, paling kalem namanya, Rendra. Maaf ya, Bu kalau ada teman-teman Alia aneh." Kata Alia sambil menoleh kearah empat cowok tampan tersebut.


''Enak aja aneh." Gerutu Elvan dalam hati.


''Wah, wah, alhamdulillah. Iya nggak apa-apa kok. Ayo masuk semuanya. Ibu sudah menyiapkan jamuan untuk kalian.'' Jawab Ibu Mira dengan senyum lebarnya.


''Tidak usah repot-repot, Bu.'' Kata Alia.


''Ya Allah, banyak sekali yang kalian bawa untuk kami." Kata Bu Mira.


''Alhamdulillah, Bu. Semakin banyak yang mau berbagi sama-sama adik-adik di panti ini.'' Setelah meletakkan semua barang bawaan di ruang tengah, Ibu Mira lalu mengajak mereka kehalaman belakang panti yang sangat luas. Di sana para anak panti sedang bersih-bersih sore menyapu halaman. Ada juga sebagian dari mereka sedang bermain bola.


''Senang sekali melihat mereka tertawa lepas." Sahut Rendra.

__ADS_1


''Iya. Mereka terlihat bahagia sekali." Sahut Alia.


''Tapi di dalam hati mereka pasti sedih dan kesepian. Karena mereka merindukan kasih sayang dari orang tua. Pasti dari mereka juga sedih, mengapa mereka di tinggal disini begitu saja.'' Sahut Elvan sembari menatap anak-anak panti itu lekat-lekat. Ucapan Elvan membuat perhatian mereka terpusat pada Elvan.


''Iya, Nak Elvan. Apa yang kamu katakan itu benar sekali. Sebenarnya mereka kesepian dan merindukan memiliki orang tua.'' Sahut Ibu Mira. Alia tidak menyangka jika Elvan bisa mengucapkan kata-kata yang lembut. Karena dulu, Elvan dan Mamanya setiap bulan sering mengunjungi panti asuhan dan berbagi bersama mereka. Menyadari apa yang ia katakan, Elvan tampak terkejut.


''Maaf ya, Bu. Saya salah bicara ya." Kata Elvan.


''Ah, tidak kok.'' Kata Ibu Mira dengan senyum lebarnya.


''Ayo, di makan. Maaf ya makanan kampung. Cuma ada singkong rebus, ubi kukus, gorengan dan teh manis saja. Ini juga hasil dari kebun sendiri.''


''Tidak apa-apa, Bu. Ini pasti enak sekali." Kata Rendra. Rendra lalu mengawali untuk memakan singkong rebus. Lalu di susul oleh Alia, Rani dan Diana. Sementara Elvan, Fandi dan Leon hanya menatap suguhan yang ada di atas meja.


"Kalian nggak doyan?" tanya Rani dengan ketus pada tiga cowok keren di hadapan mereka.


"Do-doyan kok." Kata Leon terbata. Leon lalu mengambil gorengan yang di sajikan. Leon menggigitnya dengan ragu dan tenyata enak.


"Kok enak ya bakwannya." Kata Leon yang makan begitu lahap.


"Iya, cobain aja." Kata Leon. Fandi lalu ikut mengambilnya.


"Kalian kalau makan bakwan, sama di kasih cabai ijo gini. Makin mantep." Kata Diana.


"Emang iya?" kata Fandi.


"Cobain aja." Kata Diana. Fandi dan Leon lalu menambahkan cabai sebagai lalap.


"Enak sih? tapi kok pedes ya." Celetuk Leon.


"Leon? Namanya juga cabai. Kalau gula manis." Ketus Rani. Leon dan Fandi kompak kepedesan. Lalu mereka menenggak teh manis yang di sediakan hingga habis. Ibu Mira tertawa melihat tingkah konyol mereka.


"Bu, maafin teman-teman saya ya." Kata Alia dengan sungkan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Nak. Justru Ibu senang kalau ada mereka, biar makin ramai." Kata Ibu Mira terkekeh. Leon dan Fandi, menuang kembali teh kedalam gelas mereka. Karena mereka benar-benar kepedasan hingga berkeringat. Sementara Elvan tetap diam tak bergeming.


"Kamu nggak mau cobain ini?" kata Alia sambil memberikan singkong pada Elvan.


"Ini hasil kebun di panti ini sendiri. Anak-anak yang membantu menanamnya. Cobain deh, gurih banget." Sambung Alia. Sejenak Elvan melihatnya lalu menerima singkong dari Alia.


"Ayo, makan! Kamu nggak akan keracunan hanya karena singkong ini." Kata Alia mencoba meyakinkan Elvan. Elvan pun lalu memakannya dengan terpaksa, meskipun saat mengunyahnya rasa singkong itu sangat gurih.


"Gimana enak kan?" tanya Alia.


"Seperti ada bawangnya." Singkat Elvan.


"Iya, Nak. Pas merebus, Ibu kasih bawang putih, garam dan ketumbar, terus di ulek. Habis itu di masukin ke dalam panci jadi rasanya lebih gurih dan nikmat. Apalagi disini cuacanya selalu dingin, sangat pas di jadikan camilan, soalnya bikin perut cepat kenyang." Jelas Ibu Mira.


"Iya, enak kok, Bu." Kata Elvan.


"Ni orang, meskipun begajulan tapi bisa sopan juga." Gumam Alia dalam hati. Setelah cukup lama bercengkrama dan menikmati suguhan, saat sholat maghrib pun tiba. Rendra lalu mencoba mengumandangkan adzan.


"Subhanallah, suara adzan Rendra indah sekali." Kata Alia pada Rani dan Diana.


"Iya, ya. Bikin adem kayak ubin masji." Celetuk Rani.


"Beruntungnya punya suami kayak Rendra. Ganteng, mandiri, sholih, kurang apa coba." Timpal Diana.


"El, berat saingan elo." Celetuk Leon yang mendengar Alia dan kedua temannya begitu mengagumi Rendra.


"Tapi Rendra memang pantas sih jadi calon suami idaman untuk mereka bertiga." Timpal Fandi.


"Udah lah, gue bodoh amat. Kalian yang nyuruh gue buat maju tapi kalian juga yang bikin mood gue rusak. Udah nggak usah taruhan lagi. Pulang aja gue." Kata Elvan dengan kesal.


"Yey, gitu aja ngambek. Udah ayo ikut sholat aja. Lihat aja mereka yang masih kecil semangat buat sholat. Kayaknya kita beneran bakal tobat deh." Sahut Leon.


"Aduh, jadi cowok baik-baik nih kita." Gerutu Fandi.

__ADS_1


"Gila kalian berdua!" Kata Elvan sambil berlalu meninggalkan kedua sahabatnya yang semakin aneh. Sholat maghrib pun berjalan dengan khusyuk. Selesai sholat, mereka pun segera berpamitan. Tak lupa Alia mengambil foto kegiatan mereka hari ini. Sebagai bukti bahwa mereka benar-benar amanah. Sebelum pulang pun, mereka menyempatkan foto bersama anak-anak panti asuhan dan juga Ibu Mira. Alia sangat senang karena acara hari ini berjalan dengan lancar dan mereka bisa sampai rumah dengan selamat.


...Jangan lupa like, komen dan votenya yaaaa, biar makin semangat untuk nglanjutin next episode, terima kasih 🙏❤️...


__ADS_2