
Hari itu, tiga cowok playboy itu tunduk di hadapan Alia. Mereka dengan semangat mengikuti apa yang Alia ajarkan. Hingga petang pun menjelang, Fandi dan Leon pun bergegas pulang.
''Al, kita antar aja yuk!" ajak Fandi.
''Nggak usah! Alia urusan gue. Kalian balik aja sana," sela Elvan.
"Baiklah Tuan Elvan. Kita permisi!" kata Leon sembari berlalu meninggalkan rumah Elvan.
''Al, elo mandi aja dulu. Kalau mau sholat silahkan aja. Habis itu siapan makan malam buat gue ya.''
''Kenapa kamu nggak sholat sekalian?'' tanya Alia yang membuat Elvan terpojok.
''Udahlah jangan bawel. Mandi sana!" perintah Elvan dengan ketus. Alia lalu menuju kamar Bi Minah untuk meminjak mukenah dan sholat di sana. Selesai mandi dan sholat, Alia segera menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Saat masak makan malam selesai, Alia tak kunjung melihat Elvan keluar. Akhirnya Alia berjalan menuju kamar Elvan.
''Elvan, makan malamnya udah siap. Aku pamit pulang ya,'' kata Alia sembari mengetuk pintu kamar Elvan.
''Jangan dulu! tugas kamu belum selesai.'' Sahut Elvan dari dalam kamar. Elvan kemudian membuka pintu kamarnya. Dan Alia sangat terkejut melihat Elvan, mata Alia sama tidak berkedip melihat begitu tampannya ciptaan Tuhan. Elvan mengenakan sebuah baju koko berlengan panjanh, warna putih dan sebuah songkok berwarna hitam tersemat di atas kepala Elvan. Elvan semakin tampan, saat kedua lesung pipi itu terlihat saat ia tersenyum. Namun seketika Alia segera menyadari karena ia menganggap ini pasti trik Elvan untuk menarik hatinya.
''Jangan terpengaruh Alia. Ini pasti trik Elvan untuk mengelabuhi kamu,'' gumam Alia dalam hati.
''Kamu ngapain pakai baju kayak gitu?''
''Lagi nyoba aja. Keren nggak?''
''Aku pikir kamu habis sholat. Kenapa nggak sekalian sholat?''
''Nggak tahu caranya dan lupa. Jadi pakai bajunya aja dulu.''
''Ya Allah, kasihan sekali kamu Elvan. Bahkan orang tua kamu tidak membekali kamu hal sepenting ini,'' kata Alia dalam hati dengan tatapan sedih.
''Hei, ayo! aku lapar.'' Kata Elvan.
''I-iya,'' kata Alia. Mereka segera turun untuk makan malam.
''Ya Allah, Den Elvan ganteng banget pakai baju muslim kayak gitu. Masya Allah semakin menambah kegantengan Den Elvan,'' seru Bi Marni yang sedang menata makanan di atas meja makan.
''Iya lho, Den. Masya Allah adem banget lihat Den Elvan seperti itu. Apalagi di sampingnya ada Mbak Alia. Udah kayak pasangan pengantin baru aja,'' timpal Bi Minah. Ucapan Bi Minah ternyata cukup membuat Elvan salah tingkah.
__ADS_1
''Tenang Alia. Ini pasti cuma trik Elvan saja,'' gumam Alia dalam hati.
''Apaan sih, Bi. Ya udah kalian kembali ke dapur sana,'' kata Elvan yang berusaha menutupi salah tingkahnya.
''Alia, doa mau makan gimana? aku nggak bisa. Biasanya cuma baca bismillah aja,'' kata Elvan. Alia tersenyum lalu memimpin doa makan bersama Elvan.
''Gampang kan? masak lupa? Chelsea aja bisa,'' ledek Alia.
''Udahlah jangan bandingin gue sama anak itu,'' ketusnya. Elvan lalu mulai menyantap makan malam sampai habis. Alia memandangi Elvan yang makan begitu lahapnya.
''Ya Allah, Elvan memang sangat tampan. Apalagi mengenakan pakaian seperti ini. Kenapa aku kasihan sama dia ya? apa orang tuanya sama sekali tidak mengajarkan agama padanya,'' gumam Alia dalam hati penuh tanya.
''Oh ya, memangnya orang tua kamu nggak ajarin kamu, El?''
''Ajarin apa?''
''Ya ajarin sholat, ngaji atau doa-doa gitu.''
''Di ajarin sih sama Mama. Cuma ya gimana? ya udah lah nggak usah di bahas.'' Kata Elvan yang enggan menceritakan masa lalunya. Alia hanya bisa diam dan mencoba memahami perasaan Elvan.
''Gue udah selesai. Ayo gue antar pulang. Tapi gue ganti baju dulu, gerah.''
''Sorry ya, Al. Gue sengaja pakai kayak gini, biar elo terpesona aja, hehehe. Pasti tipe cowok elo kayak gini kan? pakai baju muslim dan bersongkok? tapi ini bukan gue, Al. Gue ya seperti itu, gue Elvan.'' Kata Elvan dengan entengnya sambil berlalu menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Mendengar ucapan Elvan, sangat membuat Alia kecewa.
''Benar dugaanku. Seharusnya kamu nggak usah berharap kalau Elvan berubah Alia. Dia bukan siapa-siapa kamu. Kamu nggak usah berharap atau berusaha merubah Elvan. Dan ingat, dia cuma jadiin kamu bahan taruhan,'' kata Alia yang berdialog dengan dirinya sendiri di dalam hati. Bi Minah yang mengintip dari balik dapur, menatap sedih ke arah Alia.
''Sabar Mbak Alia. Semoga Den Elvan bisa berubah,'' gumam Bi Minah.
Tak lama kemudian Elvan turun dan segera mengantar Alia pulang. Kali ini Alia duduk di bangku depan bersama Elvan karena Elvan yang memaksanya. Alia hanya bisa diam dan menuruti keinginan Elvan. Di dalam mobil hanya ada keheningan. Alia atau Elvan tidak bicara sepatah kata pun. Sampai akhirnya mereka berhenti di lampu merah. Alia melihat seorang anak kecil sedang menjual tisu dengan sebuah keranjang yang di jinjing. Namun saat anak itu menawarkan dagangannya dari mobil ke mobil dan dari pengendara motor yang berhenti, tidak ada satupun yang membeli. Alia benar-benar merasa kasihan melihat anak itu. Sampai akhirnya anak kecil itu mengetuk kaca mobil Elvan. Elvan lalu membuka kaca mobilnya.
''Kak tisunya, Kak. Cuma sepuluh ribu saja satunya.'' Kata anak itu sambil menyodorkannya pada Elvan.
''Dagangan kamu masih banyak?''
''Alhamdulillah sudah laku satu, Kak.'' Kata anak itu yang masih bisa menyunggingkan senyumnya.
''Oke. Aku beli semua kalau gitu,'' kata Elvan.
__ADS_1
''Beneran Kak?'' kata anak itu seolah tidak percaya.
''Iya. Jadi semuanya berapa?''
''Ini ada dua puluh biji, Kak. Semuanya jadi dua ratus ribu.'' Kata anak itu dengan senyumnya yang lebar. Elvan lalu merogoh saku celananya dan memberikan uang tiga ratus ribu untuk anak itu.
''Kak, ini kebanyakan.''
''Nggak apa-apa, ambil aja.'' Kata Elvan.
''Ya allah alhamdulillah. Akhirnya aku bisa membelikan adik aku makanan enak dan membelikannya buku.'' Kata anak itu dengan polosnya.
''Ya udah kamu mending langsung pulang ya. Ini sudah malam, kasihan adik kamu.''
''Iya, Kak. Terima kasih ya.'' Anak itu pun dengan wajahnya yang gembira segera pergi dan Elvan kembali menutup kaca mobilnya.
''Ya Allah, sebenarnya bagaimana lelaki yang di sampingku ini. Apakah dia benar-benar tulus membantu anak itu atau hanya ingin mengambil hatiku saja, supaya aku luluh dan menang taruhan. Tapi apapun itu aku bersyukur karena dia sudah membantu anak itu. Kasihan sekali dia,'' kata Alia dalam hati.
''Apa yang membuat kamu beli tisu ini? dan kamu membelinya semua.''
''Mama. Mama yang selalu ngajarin gue. Setiap gue pergi sama Mama dan berhenti di lampu merah, dan ada orang jualan kayak anak kecil tadi, Mama pasti memborong dagangan mereka. Padahal Mama sendiri nggak butuh. Dan saat gue tanya, kenapa Mama membelinya padahal nggak butuh. Mama justru bilang, belilah meskipun kamu tidak butuh, mereka berdagang dengan usaha bukan untuk meminta-minta. Karena dengan membeli dangan mereka, kita sudah membantu mereka untuk menafkahi keluarganya. Itu yang selalu aku ingat,'' kata Elvan yang mengingat pesan dari Mamanya.
''Subhanallah. Mama kamu pasti sangat luar biasa sekali dan pasti beliau memiliki hati yang begitu baik dan sangat tulus.''
''Iya. Mama memang sangat baik dan tulus, sampai kebaikan dan ketulusan Mama di manfaatkan.''
''Biarkan saja mereka yang memanfaatkan. Yang penting Mama kamu sudah tenang dan bahagia disana. Oh ya, tisunya mau kamu apakan?'' kata Alia yang berusaha mengalihkan pembicaraan. Karena Alia melihat kesedihan dan kebencian di dalam mata Elvan.
''Terserah elo.''
''Kok aku?''
''Ya udah, besok elo bawa ke kantin aja. Di setiap meja elo kasih tisu. Bereskan.''
''Ide bagus. Kamu pintar juga ya ternyata.''
''Ya emang gue pintar.'' Kata Elvan dengan gaya juteknya. Alia hanya tersenyum menanggapi ucapan Elvan.
__ADS_1
...Bersambung.......