
"Astaga, El. Elo belum bangun juga," seru Fandi yang kini sudah berada di dalam kamar Elvan. Bahkan tirai di kamar Elvan pun masih tertutup. Fandi yang kesal pun membuka tirai kamar Elvan dan juga jendela yang masih tertutup rapat.
''Ini jam berapa El? ini jam dua lewat lima belas dan ini sudah siang." Gerutu Fandi sembari menyibak selimut Elvan dengan kasar.
''Emang semalam elo di ajak ngapain sama Clara? main berapa ronde? terus habis bir berapa botol?hah?" oceh Fandi, yang masih belum mendapat tanggapan dari Elvan.
''Apaan sih, gue males. Gue capek," kata Elvan dengan nada malas. Fandi lalu melompat di atas kasur dan membalik wajah Elvan yang masih sembunyi balik bantal.
''El, elo terluka? atau saking bringasnya si cewek itu, hah?"
''Hah? serius? gue terluka?" kata Elvan yang langsung membuka matanya.
''Coba ngaca, masak elo nggak sadar sih." Mendengar ucapan Fandi, Elvan segera beranjak dari tempat tidurnya lalu menghadap ke arah cermin.
''Ah iya, kenapa ya? gue kok nggak sadar bisa terluka gini dan ini juga udah di kasih plester." Elvan pun kembali duduk dan mengingat apa yang terjadi kemarin. Elvan memegang keningnya untuk berfikir.
''Cewek itu, Fan. Iya, cewek itu." Seru Elvan.
''Iya, maksud elo Clara?"
''Bukan, bukan dia. Cewek berhijab itu?"
''Cewek berhijab yang mau kita jadikan bahan taruhan?" seru Fandi.
''Nah, iya dia. Gue kayak gini karena dia."
''Maksud elo gimana sih? gue nggak paham, El. Apa hubungannya coba." Fandi pun menjadi semakin bingung.
''Kemarin gue sekitar setengah 6 sore, udah nyampai rumah. Terus pas gue turun dari mobil, gue lihat cewek itu ada di rumah gue. Pas dia jalan lewatin gue, gue ambruk tuh nimpa tubuh dia dan dia dorong gue. Dan setelah itu, gue nggak tahu lagi. Cuma gue ngerasa pelipis gue terbentur." Cerita Elvan dengan mencoba mengingatnya.
''Terus ngapain dia ke rumah elo?"
__ADS_1
''Nah, itu. Gue juga nggak tahu."
''Cewek itu, Alia namanya. Dan hari ini si Leon beraksi. Dan elo tahu nggak? si Leon di kerjain sama tuh cewek," cerita Fandi dengan tawanya.
''Maksud elo, di kerjain?"
''Ya, Leon waktu itu nemuin Alia terus mau ngajak makan siang Alia. Terus si Alia bilang, dia ada acara gitu komunitas hijabnya dan waktu itu Alia bilang cuma sepuluh menit. Eh ternyata dua jam, jadi si Leon kering-kering deh nunggu dua jam di sana." Fandi pun tertawa terbahak setiap mengingat kebodohan Leon.
''Dasar, si Leon aja yang bodoh. Tapi bukanya tuh cewek punya pacar ya. Terus buat apa kita deketin dia."
''Yaelah, El. Kita kan mau ngetes, cewek kayak gitu gimana. Tapi sumpah deh, gue juga penasaran mau ngerjain tuh cewek. Dia aja berani ngerjain si Leon. Besok giliran gue beraksi."
''Terserah kalian lah. Gue mandi dulu." Namun, langkah Elvan terhenti, saat melihat tasbih kecil tergeletak di atas sofanya.
''Tasbih? milik siapa ini?" gumam Elvan dalam hati. Elvan lalu mengambilnya dan memasukannya ke dalam laci mejanya. Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi.
...****...
Malam harinya, Alia sedang menunggu jemputan dari Andra. Ia baru saja pulang dari tempat laundrynya. Dari jauh, tampak Andra sudah tiba dengan motor maticnya.
''Waalaikumsalam. Nggak kok, baru lima menit." Andra lalu memakaikan helm pada Kakaknya. Andra kemudian melepas jaketnya dan memakaikannya pada Alia.
''Kamu berlebihan, Andra."
''Aku nggak pingin, Kakak sakit. Cuma Kakak yang aku punya sebagai pengganti, Bunda." Kata Andra dengan penuh kasih sayang.
''Kamu bikin Kakak mellow jadi nangis kan." Kata Alia yang sudah meneteskan air matanya.
''Ah, Kakak ini cengeng banget sih. Masak gitu aja nangis." Andra lalu memeluk Alia. Tak sengaja, mobil Elvan melewati daerah itu. Elvan bersama Fandi melihat adegan romantis antara Andra dan Alia, yang bersikap seperti sepasang kekasih. Bahkan, Fandi dengan sengaja memotretnya.
"Ya udah, ayo pulang, Kak. Kasihan Ayah sendirian."
__ADS_1
''Baiklah, ayo kita pulang. Tapi makan malam, enaknya makan apa?"
''Tenag saja, Kak. Aku sudah membawa makanan dari cafe. Tadi Kak Rendra ngasih makanan buat aku."
''Alhamdulillah kalau gitu. Tapi kamu jangan sering-sering menerimanya ya. Karena itu bisa membuat teman kerja kamu yang lain itu iri. Dan menganggap kamu di spesialkan, terlebih Rendra tahu kalau kamu adiknya, Kakak."
''Siap, Kak." Alia segera naik ke atas motor dan Andra segera melajukan motornya.
Sedangkan Fandi di dalam mobil, masih sibuk menggeser foto yang ia dapat dari hasil jepretannya.
"Elo tahu nggak sih, cewek seperti Alia mana mau pacaran. Menurut informasi yang gue dapat, cewek kayak gitu, biasanya, maunya, di ta'arufin. Nggak ada pacaran di kamus mereka, yang ada mereka langsung menikah. Mereka melihat calon mereka itu dari foto atau biasanya di jodohkan atau biasanya mereka belum saling mengenal lho dah bahkan tatap muka sekalipun."
''Emang bisa menikah tanpa mengenal pasangan kita? apalagi belum pernah ketemu. Di tambah cuma lihat dari foto. Gimana kalau foto sama kenyataan nggak sesuai? emang bisa?"
''Mana gue tahu, tanya aja sama yang pernah ngerasain. Tapi anehnya, kenapa Alia punya cowok? apalagi sampai kontak fisik kayak gitu bahkan sampai memeluk. Padahal di kamus mereka, bersentuhan bukan muhrim itu nggak boleh lho."
''Elo kok tahu tentang mereka sih?" kata Elvan yang merasa heran.
''Yaelah, El. Secara target kita seperti itu, setidaknya kita harus tahu lah, kebiasaan merekam. Apa yang boleh dan apa yang nggak boleh."
''Mereka semua itu munafik, Fan. Luarnya aja alim tapi ya sama aja dalemnya. Buktinya dia juga pacaran dan mau di sentuh, itu artinya sama aja."
''Makanya, El. Gue penasaran juga."
''Ya,ya,ya,ya, terserah elo deh. Yang penting kita clubbing. Kita enjoy," seru Elvan yang masih tetap fokus mengendarai mobilnya.
''Eh, serius elo nggak ngapa-ngapain sama Clara."
''Emang elo pikir, mereka semua deketin gue karena uang gue. Dan lagi mereka juga suka di manfaatkan," kata Elvan menyeringai.
''Brengsek, emang ya elo."
__ADS_1
''Lalu apa bedanya sama, elo?" balas Elvan yang di sambut tawa oleh Fandi.
next?? to be continued...