
Sesampainya di kantor, Elvan segera menuju ruangannya. Disana ia melihat Alia yang tertidur di sofa dan rantang makanan seperti biasa yang telah tergeletak di meja.
''Alia, sayang. Bangunlah!" Elvan menepuk pelan lengan Alia dan Alia pun terbangun.
''Ya Allah, aku ketiduran,'' kata Alia yang segera bangun dari tidurnya.
''El, maafkan aku ya. Aku ketiduran.'' Ucapnya sambil mengucek matanya.
''Aku yang minta maaf karena aku melewatkan makan siang denganmu. Aku tadi menyurvei lokasi bersama Sandra lalu lanjut makan siang.''
''Sandra?''
''Iya. Dia di minta papanya untuk menggantikan tugasnya. Aku aja tidak tahu kalau Sandra yang datang. Jadi aku tadi melakukan apa yang sudah Kak Endrew kerjakan sebelumnya.''
''Oh begitu, ya sudah tidak apa-apa.''
''Kamu tidak marah?''
''Marah, kenapa aku harus marah? kamu kan sedang bekerja. Itu ponsel kamu saja ketinggalan.''
''Aku pikir kamu marah karena ingat bagaimana Sandra dulu bersikap sama kamu.''
''Aku sudah melupakannya, ya sudah kita sholat saja dulu. Nanti biar aku makan saja masakan ku ini.''
''Kita makan berdua ya. Aku tadi tidak menghabiskan makanan ku karena masih enak masakanmu.''
''Dasar kamu, gombal! gombalan kamu tidak mempan,'' ucap Alia dengan senyum kecilnya. Melihat senyum kecil Alia, membuat Elvan mengecup kening istrinya. Elvan berpikir kalau Alia akan marah tapi justru Alia tidak marah sama sekali.
-
''Assalamualaikum, San. Kamu dimana?'' sapa Rendra lewat sambungan teleponnya. Rendra sendiri masih berada di cafenya.
''Waalaikumsalam, Ren. Aku di kantor. Ada apa?''
''Di kantor? tumben.''
''Papa lagi sakit jadi terpaksa harus menggantikannya.''
''Kenapa tidak memberiku kabar kalau kamu ke kantor?''
''Memangnya kamu lupa, kalau aku masih marah padamu. Seharusnya kamu bersyukur kalau aku masih mau mengangkat teleponmu,'' ketus Sandra.
''Maafkan aku, San. Aku merindukanmu.''
__ADS_1
''Simpan saja rindu kamu. Aku mau bekerja dulu.'' Tut, tut, tut, Sandra memutus sambungan telepon begitu saja. Rendra menghela nafas panjang, ia kemudian menuju dapur hendak membuatkan cup cake untuk Sandra sebagai tanda permintaan maaf. Dengan penuh cinta, Rendra mempersembahkannya untuk Sandra. Setelah jadi Rendra bergegas menuju kantor Sandra.
''Tok tok tok tok!" suara Rendra mengetuk pintu rumahnya.
''Masuk!"
''Assalamualaikum,'' sapa Rendra dengan senyum lebarnya.
''Kamu ternyata, kenapa tidak menelpon dulu?''
''Aku ingin memberimu kejutan. Aku membuatkan kamu cup cake. Sekaligus sebagai tanda permintaan maaf.'' Kata Rendra sambil menunjukkan box berisi cup cake.
''Aku sedang diet dan aku juga sudah makan tadi,'' jawabnya dinging sambil terus memeriksa beberapa dokumen.
''Aku membuatnya sendiri lho dan masih hangat.''
''Taruh saja disana. Nanti akan aku makan.''
''San, sampai kapan kamu seperti ini?''
''Sampai kamu benar-benar bisa melupakan Alia dan tidak menjadikan Alia sebagai tolak ukur wanita idamanmu.''
''Sama sekali tidak, San. Aku tidak akan melakukan itu. Aku tulus sayang dan cinta sama kamu.''
''Sudahlah Ren, jangan terlalu banyak membual. Aku mau ke ruang meeting.'' Kata Sandra sambil merapikan tumpukan dokumen dan hendak pergi namun Rendra mencegah Sandra pergi dengan menarik tangannya.
''Tapi aku mau meeting, Ren. Kita selesaikan nanti,'' kata Sandra sambil melepaskan tangan Rendra. Rendra hanya bisa terdiam sembari menatap Sandra pergi.
-
Jam sekolah pun tiba, saat Andra hendak berjalan menuju tempat parkir motor, tiba-tiba Nino dan Jordan menyeret Andra menuju toilet.
''Lepasin!" bentak Andra.
''Diem lo!" kata Jordan yang semakin mencengkeram erat tangan Andra. Saat sudah sampai di toilet, Nino dan Jordan mendorong tubuh Andra sampai Andra tersungkur di lantai. Saat Andra mendongak sudah ada Rendi di hadapannya. Rendi lalu menarik kerah seragam Andra dan mengangkat tubuh Andra.
''Ada apaan sih? kenapa main keroyokan kayak gini?'' kata Andra dengan santainya.
''Gue heran, kenapa Kinar itu bisa dekat sama elo? sejak kenal sama elo, dia itu berubah? elo kan miskin, kere, gembel tapi bisa-bisanya dia temenan sama elo? padahal dia sebelumnya jijik sama orang miskin,'' kata Rendi dengan tatapan penuh amarah dan kebencian.
''Terus kalau gue gembel kenapa? yang penting gue masih punya otak,'' kata Andra dengan senyum mengejek.
''Elo udah berani sama gue!" bentak Rendi. BUG! BUG! Pukulan melayang di wajah dan perut Andra.
__ADS_1
''Udah, puas? kalau udah, gue pergi,'' kata Andra sambil menahan sakit di perutnya karena pukulan keras dari Rendi.
''Wah, elo macam-macam sama kita rupanya,'' sahut Jordan. Jordan pun melayangkan pukulan ke perut dan wajah Andra juga. Kemudian Nino pun melakukan hal yang sama. Akhirnya Andra pun di keroyok oleh mereka bertiga tanpa memberikan perlawanan.
''Ayo, lawan kita! percuma punya otak tapi cemen, miskin dan gembel kayak elo! basi otak elo." Kata Rendi dengan segala caci makinya.
''Untuk apa gue lawan kalian, gue cukup bisa tahan pukulan kalian. Kalau gue lawan, apa bedanya gue sama kalian? sama-sama nggak ada otak kan?'' kata Andra dengan suara melemah. Pukulan keras mereka bertiga, membuat bibir Andra berdarah. Bahkan baju Andra menjadi kotor akibat tendangan kaki mereka bertiga.
''Brengsek elo ya!" kata Rendi yang berusaha melayangkan pukulan lagi pada Andra namun suara dering ponselnya, membuat Rendi menghentikan aksinya itu karena ada nama 'My Sweety' alias Kinar.
''Halo, beib. Ada apa?''
''Kamu dimana sih? katanya mau pulang bareng. Aku udah di parkiran.''
''Oke sayang, tunggu disana ya.'' Kata Rendi. Panggilan pun berakhir.
''Ayo cabut! Kinar udah nunggu,'' kata Rendi. Rendi, Nino dan Jordan lalu meninggalkan Andra begitu saja.
Andra lalu meraih ponselnya untuk menelepon Alia.
''Halo, assalamualaikum, Kak.''
''Waalaikumsalam, Andra. Ada apa?''
''Kakak dimana?''
''Kakak lagi di jalan, kebetulan habis dari kantornya Kak Elvan.''
''Kak, bisa minta tolong jemput aku disekolah?''
''Tumben minta di jemput, ada apa?''
''Motor aku mogok, Kak.''
''Baiklah, sepuluh menit lagi kakak sampai di sekolah kamu.''
''Makasih ya, Kak. Hati-hati, assalamualaikum.''
''Waalaikumsalam.''
Andra lalu mencuci mukanya apalagi ujung bibirnya sudah berdarah dan luka. Andra kemudian menuju tempat parkir motor. Dan benar saja ban motor Andra robek seperti sayatan, bahkan keduanya. Andra tersenyum simpul dan ingin rasanya mengeluarkan cacian tapi ia masih ingat untuk beristighfar.
''Astaghfirullah!" kata Andra dengan suara meninggi.
__ADS_1
''Kenapa mereka sangat jijik dan suka sekali menghina orang miskin? Ya Allah apa serendah itu menjadi orang miskin,'' gumam Andra dalam hati. Andra memang anak yang cerdas dan pendiam. Ia bisa sekolah di sekolah terbaik dan terfavorit karena ia memang sangat pintar. Selama sekolah pun, Andra sangat jarang bahkan tidak memiliki seorang teman. Semua teman-temannya terlalu mengkotak-kotakkan antara si kaya dan si miskin. Jadi selama sekolah, ia benar-benar fokus untuk mempertahankan prestasinya. Sampai akhrinya ia dekat dengan Kinar dan itu menjadi sumber penganggu ketenangannya selama ini
Bersambung....