Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"

Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"
EPS. 95 Calon Istri


__ADS_3

Elvan pun memilih membawa Alia ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Elvan menggendong Alia dan membawanya ke kamar Elvan. Sesampainya di kamar, Elvan menurunkan Alia.


''Sudahlah jangan menangis lagi. Kamu sudah aman.'' Elvan mengangkat wajah Alia dan melihat bibir Alia terluka.


''Apa yang di lakukan Sandra, sampai bibir kamu terluka?'' gerutunya. Namun Alia tidak menjawab.


''Lebih baik kamu mandi. Nanti aku obati lukamu. Aku akan mencarikan baju untukmu.'' Kata Elvan sembari berlalu namun tangan Alia menghentikannya.


''Terima kasih.'' Ucap Alia lirih. Elvan berbalik dan memeluk Alia.


''Kamu adalah calon istriku, sudah sepantasnya aku menjaga dan melindungimu. Aku pergi dulu.''


''Jangan lama-lama,'' lirih Alia.


''Iya, tenanglah.'' Ucap Elvan sembari menahan senyumnya. Betapa senangnya hati Elvan karena merasa di butuhkan oleh Alia. Elvan segera berjalan keluar dan menuju dapur.


''Bi, Papa sama Mama mana?'' tanya Elvan.


''Tadi buru-buru balik ke Jepang, Den. Tapi nanti saat Den Elvan lulus, mereka pulang.''


''Oh begitu. Bi, itu ada Alia di kamar. Tolong siapkan minuman dan makanan ya. Saya mau keluar sebentar.''


''Den, itu kenapa kotor semua dan bau sampah.'' Kata Bi Minah.


''Biasalah, Bi. Cowok!" kata Elvan sembari berlalu. Elvan segera menuju butik terdekat dari rumahnya. Karena seingat Elvan ada butik baju di ujung jalan rumahnya. Sesampainya di butik, semua orang menatap Elvan dari atas ke bawah sambil menutup hidung. Elvan yang melihat sikap para pengunjung lain, memilih cuek dan tidak peduli. Elvan segera memilih sebuah rok plisket warna pink, kaos panjang bermotif bunga dan hijab warna senada dengan rok.


''Sepertinya pilihanku bagus dan cocok untuk Alia. Ya, meskipun ini bukan butik baju branded, setidaknya ini tidak terlalu buruk.'' Gumam Elvan dalam hati. Mata Elvan kemudian tertuju pada sebuah bros berbentuk hati yang sangat cantik.


''Mbak, sekalian brosnya.'' Kata Elvan sambil menununjuk bros yang berada dalam etalase.


''Iya, Mas.''


''Oh ya nggak mungkin Alia pake baju tanpa daleman,'' gumam Elvan dalam hati.


''Oh ya sekalian dalemannya ya?'' kata Elvan pada penjaga butik.


''Di rak sebelah sana, Mas.''


''Tolong cariin, Mbak.'' Kata Elvan malu-malu.


''Baik, Mas.'' Elvan kemudian mengikuti pegawai butik menuju rak tempat pakaian dalam wanita. Sesampainya disana, Elvan menahan malu setengah mati. Ketika terpampang beraneka macam bentuk dan warna BH serta CD.


''Ukurannya berapa?''


''Ukuran apa maksdunya, Mbak?'' tanta Elvan bingung.

__ADS_1


''Ukuran itu dadanya.''


''Dada? Saya nggak pernah pegang, Mbak. Jadi nggak tahu,'' jawab Elvan dengan polosnya yang membuat penjaga butik itu tertawa.


''Ya ampun si Masnya ini. Di kira-kira saja, Mas.''


''Kira-kira? Gimana mengira-ngiranya, Mbak? Saya bingung.'' Kata Elvan sambil menggaruk kepalanya.


''Memang buat siapa, Mas?''


''Buat calon istri saya?''


''Oh, masak calon istri sendiri nggak tahu ukurannya.'' Goda si pegawai butik.


''Gimana mau tahu, Mbak. Nyentuh aja nggak pernah.'' Kata Elvan dengan polosnya.


''Aduh, bingung juga, Mas. Kira-kira ceweknya perawakannya seperti apa?''


''Mmmm kayaknya se-mbak deh. Udah lah ukuran Mbak seperti apa, paling juga punya dia nggak besar kayak mbak. Soalnya nggak kelihatan menonjol kayak Kim Kardashian.'' Celetuk Elvan yang membuat pegawai butik itu tertawa.


''Serius nih mas-mas polos banget. Ganteng dan terlihat badboy gini polos? Antara nggak percaya dan percaya?'' gumam pegawai butik tersebut.


''Kalau di manekin itu Mbak?'' tanya Elvan sambil menunjuk kearah manekin yang memakai setelan g-string.


''Ya udah lah, Mbak. Itu aja. Biar dia nggak gerah dan nyaman juga pas pakai.'' Kata Elvan dengan polosnya.


''Warna apa, Mas?''


''Apa ya, Mbak? Bingung.''


''Warna merah saja ya, Mas.''


''Terserah aja deh, Mbak. Tolong kemas yang cantik ya, Mbak.'' Kata Elvan yang menurut begitu saja.


''Siap, Mas.'' Kata pegawai butik itu sambil menahan tawanya. Setelah selesai belanja, Elvan pun segera pulang.


...****************...


''Bibi!" panggil Elvan.


''Iya, Den.'' Sahut Bi Minah dari dapur.


''Tolong antar baju ini ke kamar ya. Berikan untuk Alia.''


''Iya, Den.'' Bi Minah pun segera menuju kamar Elvan. Sementara Elvan bergegas menuju kamar tamu untuk mandi.

__ADS_1


''Mbak Alia!" suara Bi Minah sambil mengetuk pintu.


''Masuk, Bi!"


''Ini dari Den Elvan, Mbak. Baju buat Mbak Alia.''


''Makasih ya, Bi. Elvan mana, Bi?''


''Di bawah, Mbak. Oh ya makan siangnya sudah saya siapkan di bawah.''


''Makasih ya, Bi.''


''Sama-sama, Mbak. Mbak saya senang sekali, akhirnya jodoh Den Elvan adalah Mbak Alia. Terima kasih ya, Mbak. Sudah bersedia menerima Den Elvan. Saya senang sekali. Mbak Alia memang yang paling tepat untuk Den Elvan.''


''Terima kasih juga, Bi. Karena Bibi sudah meyakinkan saya waktu itu.''


''Iya, Mbak. Karena saya tahu Mbak Alia adalah gadis baik-baik. Saya permisi ya, Mbak.''


''Iya, Bi.'' Bi Minah pun segera keluar dari kamar Elvan. Sementara Alia yang masih mengenakan handuk kimono dan handuk yang menggulung rambutnya, membuka kotak warna biru dari Elvan. Alia tersenyum saat melihat warna hijab yang cantik di tumpukan paling atas.


''Selera Elvan bagus juga,'' gumak Alia. Alia pun menurunkan satu persatu pakaian yang di berikan Elvan. Alia sangat menyukainya apalagi warna yang di pilihkan oleh Alia. Namun di tumpukan terakhir, mata Alia membulat saat melihat pakaian dalam yang kelewat seksi.


''Apa ini? Apakah sejorok itu pikiran Elvan? Dia memilihkan pakaian dalam seperti ini. Astaghfirullahaladzim!" gumam Alia dengan kesal.


''Dari mana dia dapat ide membeli pakaian dalam seperti ini. Pasti mesum banget pikiran Elvan.'' Gumam Alia lagi. Alia pun terpaksa memakainya karena tidak ada pilihan lagi. Setelah berganti pakaian, Alia segera menuju meja makan.


''Wah, baju itu sangat cocok untuk kamu!" puji Elvan yang baru saja keluar dari kamar tamu.


''Kamu suka?'' lanjut Elvan.


''Iya suka. Tapi untuk pakaian dalam, darimana kamu dapat ide seperti itu?''


''Memangnya kenapa? Apa nggak muat? Atau kekecilan?'' goda Elvan.


''Dasar mesum!" kata Alia sambil menahan malunya.


''Maaf ya. Aku asal pilih aja. Habis pegawainya tanya ukuran berapa, aku bingun jawab aja. Ya udah pegawainya ngasih saran yang itu. Lagian nggak kelihatan juga.'' Kata Elvan dengan polosnya.


''Aku memamg badboy Alia. Tapi aku bukan laki-laki seperti itu. Jadi aku nurut aja lah sama pegawainya.'' Kata Elvan dengan cueknya.


''Ya udah mending kita makan. Lagian kamu nanti akan jadi istri aku, ya nggak apa-apa dong kalau aku beliin kamu seperti itu. Nanti kalau kita nikah, kamu harus pakai itu terus tiap kali di kamar.'' Kata Elvan dengan tatapan menggoda.


''Elvan! Cukup! Jangan mesum ya!" kata Alia sambil menodongkan garpu ke wajah Elvan. Elvan hanya tertawa melihat sikap Alia yang salah tingkah.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2