
Sesampainya di rumah, Bi Minah dan Bi Marni melihat kedatangan Elvan dan Alia. Mereka tampak terkejut melihat Elvan dan Alia mengeluarkan belanjaan dari bagasi mobil.
''Waduh, Den Elvan banyak banget belanjanya,'' kata Bi Minah pada Bi Marni.
''Iya, Bi. Eh kalau di lihat-lihat mereka cocok juga ya,'' kata Bi Marni.
''Iya sih, sejak ada Mbak Alia, Den Elvan nggak uring-uringan kayak dulu,'' sahut Bi Minah.
''Ya udah ayo kita bantu mereka.'' Bi Minah dan Bi Marni lalu membantu menurunkan belanjaan dari mobil dan segera membawanya ke dapur.
''Alia, sekalian elo ambil bawa pulang nanti. Besok pagi elo nggak usah ke pasar jadi tinggal masakin gue aja buat sarapan.'' Kata Elvan pada Alia yang sedang memasukkan sayuran ke dalam kulkas.
''Iya, El.''
''Elo, ada kulkas kan di rumah?''
''Ada kok tapi nggak segede punya kamu.''
''Oh, oke. Gue mau cabut dulu. Sampai ketemu makan malam nanti.''
''Gue boleh pulang kan? nanti malam gue balik lagi.''
''Ya udah kalau gitu. Sekalian gue antar aja. Oh ya mending elo bawa sayuran, daging dan ikannya juga. Sekalian elo bawa buah-buahan itu dan elo boleh ikutan makan juga.'' Kata Elvan sembari memasukkan macam-macam sayuran, daging, ikan dan buahan-buahan ke dalam kantong kresek untuk Alia. Bi Minah dan Bi Marni hanya bisa memandang sikap aneh Elvan yang selama ini jauh dari kata peduli. Sementara Alia menatap heran ke arah Elvan.
''Kebanyakan El.''
''Udah jangan bawel. Emang elo nggak butuh makan apa,'' ketusnya.
''Bi Minah, Bi Marni, saya pulang dulu ya.''
''Iya, Mbak. Sampai ketemu nanti ya.'' Kata Bi Minah.
''Iya, Bi.''
''Mbak Alia hati-hati ya,'' kata Bi Marni.
''Iya, Bi. Assalamualaikum.''
''Waalaikumsalam.'' Kompak Bi Minah dan Bi Marni. Elvan kemudian segera mengantar Alia pulang. Seperti biasa Alia memilih duduk di belakang.
__ADS_1
''Elo tadi kemana? kenapa telat?''
''Oh tadi habis ngantar Ayah check up ke rumah sakit. Terima kasih ya karena uang dari kamu aku bisa membawa Ayah ke rumah sakit.''
''Memangnya bokap elo sakit kenapa?''
''Ayah sakit diabetes tipe 3. Hanya insulin yang bisa membantu Ayah. Diabetes tipe 3 adalah kondisi yang disebabkan oleh kurangnya suplai insulin ke dalam otak. Minimnya kadar insulin dalam otak dapat menurunkan kerja dan regenerasi sel otak sehingga memicu terjadinya penyakit Alzhaimer. Jadi hanya itu yang bisa aku lakukan untuk Ayah. Aku berusaha bekerja keras demi Ayah dan adik aku. Dan disaat aku putus asa dan butuh uang untuk biaya Ayah berobat, kamu menawarkan pekerjaan. Meskipun gaji yang kamu tawarkan terkesan berlebihan dan tidak wajar tapi aku terima kasih banget. Aku juga tidak mau membebankan semua biaya Ayah dan biaya hidup pada adikku. Semua hasil kerja Andra, sepeserpun aku tidak pernah mengambilnya. Terkadang aku sedih melihat Andra, di jaman modern seperti ini, Andra masih mau memakai motor yang usang dan hidup kekurangan. Bahkan dia jarang bergaul dengan teman-temannya karena dia harus bekerja paruh waktu. Bahkan saat itu Andra diam-diam bekerja paruh waktu untuk membantuku. Saat aku tahu, aku marah, karena aku ingin dia fokus pada sekolahnya,'' cerita Alia yang tanpa ia sadari, air matanya menetes membasahi pipinya. Mendengar cerita Alia, Elvan hanya bisa terdiam dan menatap kesedihan Alia dari cermin sunvisornya. Elvan lalu mengambil beberapa lembar tisu dan memberikannya pada Alia.
''Makasih ya. Dan maaf aku malah jadi curhat,'' kata Alia sembari menerima tisu dari Elvan.
''Its okay.'' Singkat Elvan. Tak di pungkiri entah kenapa Elvan juga merasa sedih mendengar cerita Alia. Suasana pun menjadi hening, hingga akhirnya mereka sampai di depan rumah Alia.
''Mau mampir?'' tanya Alia.
''Nggak usah. Gue buru-buru soalnya. Jangan lupa nanti malam.''
''Iya. Sekali lagi makasih, assalamualaikum,'' kata Alia.
''Walaikumsalam,'' jawab Elvan. Alia pun segera turun dari mobil Elvan. Dan Elvan segera melanjutkan perjalanannya. Elvan meraih ponselnya dan menekan kontak Fandi.
''Halo, elo sama Leon dimana?''
''Oke, gue kesana." Ucap Elvan yang mengakhiri panggilannya.
...****************...
''Assalamualaikum. Ayah, Alia pulang.'' Alia langsung menuju dapur dan mengecek kamar Ayahnya. Ternyata Pak Samir sedang sholat ashar.
''Ayah, entah kenapa Alia menjadi takut kehilangan Ayah. Ayah, semoga selalu sehat. Alia nggak punya siapa-siapa lagi selain Ayah dan Andra. Semoga Alia selalu bisa membahagiakan Ayah dan selalu ada rezeki untuk membantu pengobatan Ayah. Dan semoga ada mukjizat yang bisa menyembuhkan Ayah.'' Gumam Alia dalam hati sambil menangis, saat melihat Ayahnya sedang sholat. Alia buru-buru mengusap air matanya dan pergi untuk mandi. Selesai mandi dan sholat ashar, Alia segera menuju dapur untuk menyiapkan makan malam Ayahnya.
''Nak, kamu sudah pulang? tumben. Apa laundry lagi sepi?'' tanya Pak Samir pada Alia yang tengah memasak di dapur.
''Nanti Alia ceritain, Yah. Ayah tunggu aja dulu di meja makan. Biar Alia masak dulu ya.''
''Ayah bantu ya?''
''Tidak usah. Ayah istirahat saja.''
''Ya sudah kalau begitu. Ayah mau melanjutkan membaca Al Quran dulu ya. Tadi selesai sholat, Ayah dengar suara kamu tapi pas Ayah cari-cari kamu lagi ada di kamar mandi. Ya udah Ayah mendaras Al Quran saja. Sekarang Ayah mau lanjutin sambil nunggu kamu selesai masak. Mumpun Ayah masih punya waktu untuk membacanya.''
__ADS_1
''Ayah, jangan bicara seperti itu. Ayah pasti selalu ada waktu kok,'' kata Alia dengan suara gemetar menahan tangisnya. Pak Samir hanya tersenyum dan segera kembali ke kamarnya. Selepas Pak Samir berlalu, air mata Alia pun menetes membasahi pipinya.
''Ya Allah, sehatkanlah Ayah dan panjangkanlah umur Ayah. Aku dan Andra masih sangat membutuhkan Ayah,'' gumam Alia dalam hati.
-
Elvan pun sudah sampai di tempat billiard.
''Woi, the king of playboy udah sampai sini nih,'' seru Leon.
''Elo kenapa sih El beberapa hari ini?'' tanya Fandi.
''Kayaknya elo berdua bakal kalah deh. Siap-siap aja mobil elo berdua buat gue.'' Kata Elvan yang merebut stick billiard dari tang Leon.
''Emang elo berhasil deketin Alia?'' tanya Fandi.
''Iya lah. Ya gue akhir-akhir ini dekat sama dia. Udah kenal bokapnya pula.''
''Wah gila sih lo. Udah sejauh itu langkah elo buat deketin Alia. Bener-bener si Elvan nggak bisa di ragukan.'' Kata Fandi.
''Tapi Alia suka nggak sama elo? atau jangan-jangan elo yang mulai naksir Alia,'' goda Leon.
''Apaan sih lo, ya nggak lah,'' sangkal Elvan dengan sikapnya yang salah tingkah.
''Udah lah jangan bilang nggak-nggak, nanti naksir baru tahu rasa,'' timpal Fandi.
''Ya lihat aja nanti, Fan. Siapa yang jatuh cinta duluan. Tapi cewek kayak Alia nggak bakal mau di pacarin apalagi di ajak pacaran.'' Kata Leon.
''Emangnya kenapa?'' tanya Elvan.
''Ya jelas nggak mau lah. Dia pasti pinginnya langsung di ajak nikah. Mana mau pacaran.'' Kata Leon.
''Tuh dengerin kata Leon. Jadi kesimpulannya belum tentu elo berhasil. Ya, kecuali elo berani ngajak Alia nikah dan Alia bilang mau. Nah, itu baru elo bisa di bilang menang,'' kata Fandi.
''Emang kalian pikir nikah itu main-main. Kalau Alia tahu gue ngajakin nikah hanya untuk taruhan, bisa-bisa dia benci banget sama gue.'' Kata Elvan dengan perasaan khawatir.
''Tuh kan, Fan. Dia udah mikir kalau dia takut di benci sama Alia,'' goda Leon. Elvan hanya bisa diam tak berkutik mendengar ucapan Leon. Sementara Leon dan Fandi menatap curiga pada Elvan, kalau Elvan sudah menaruh hati pada Alia.
Bersambung.... Jangan lupa like, komen dan vote ya, makasih 🙏😘
__ADS_1