
Malam harinya di rumah Alia, hanya ada keheningan di meja makan. Pak Samir merasa heran karena mendapati kedua anaknya sedari tadi hanya memainkan sendok dan garpunya saja. Tanpa menyentuh makanan sama sekali.
''Alia, Andra, kalian kenapa? Apa ada masalah? Kenapa murungnya kompakan sih?'' tanya Pak Samir. Alia dan Andra lalu dengan kompak saling menatap satu sama lain dan saling memperhatikan.
''Mmmm Alia nggak kenapa-kenapa kok. Andra, kamu baik-baik saja kan?'' tanya Alia yang berusaha menutupi perasaan yang berkecamuk di hatinya.
''Ayah, Kakak, aku sepertinya akan berhenti bekerja.'' Kata Andra ragu-ragu.
''Itu lebih baik. Kamu harus fokus sekolah dan mempertahankan beasiswa kamu.'' Kata Alia.
''Ayah setuju dengan pendapat Kakak mu, Andra.''
''Tapi aku mau bekerja di tempat lain aja. Aku udah nggak nyaman kerja di tempat Pak Rendra.''
''Lho memangnya kenapa? Apa kamu melakukan kesalahan atau ada masalah dengan Pak Rendra?'' tanya Pak Samir.
''Nggak kok, Yah. Ini murni keputusan Andra. Aku nggak mau, mereka salah paham dengan kedekatanku dengan Pak Rendra. Ternyata di belakang banyak yang ngomongin aku. Apa yang pernah di katakan Kak Alia benar adanya. Aku mau kerja di tempat lain saja.''
__ADS_1
''Andra, apa nggak sebaiknya kamu tidak usah kerja saja. Jujur, kakak sedih kalau harus lihat kamu kerja keras seperti itu. Lebih baik kamu istirahat dulu ya, sebentar lagi kan ada ujian akhir kenaikan kelas. Ada baiknya kamu istirahat, lagian kan Kakak masih kerja sama Kak Elvan dan gajinya lumayan. Tolong ya kamu nurut sama kakak,'' kata Alia sambil menggenggam erat tangan Andra.
''Nak, coba dengarkan Kakak kamu. Kakak kamu benar, mempertahankan beasiswa itu sangat sulit. Dan sewaktu-waktu bisa di cabut kalau nilai kamu turun,'' sambung Pak Samir.
''Tapi aku mana bisa melihat Kakak kerja keras seperti itu.''
''Hei, kamu lupa. Tugas kakak cuma masakin Elvan saja dan itupun di dalam rumah, nggak capek sama sekali.'' Kata Alia yang berusaha meyakinkan Andra, meskipun ia sendiri tidak tahu apakah Elvan masih membutuhkannya atau tidak.
''Baiklah, Kak. Aku akan nurut sama Ayah dan Kakak. Aku akan belajar lebih giat supaya aku bisa menjadi orang sukses dan bisa membanggakan kalian.'' Kata Andra penuh dengan semangat dan keyakinan.
''Ya udah ayo, sekarang kalian makan yang banyak. Masak daritadi cuma di lihatin aja.''
''Iya, Ayah,'' kompak Alia dan Andra. Malam pun semakin larut, hati Alia menjadi benar-bena gelisah. Sedari tadi hanya ada Elvan yang wara-wiri dalam pikirannya. Alia lekas mengambil air wudhu untuk menjalankan ibadah sholat isya'. Berharap hatinya kembali pulih. Sementara Elvan di rumah pun merasakan hal yang sama. Wajah Alia dan semua hal yang berhubungan dengan Alia selalu melintas di pikirannya. Elvan membuka laci di meja kamarnya. Ia mengambil tasbih milik Alia yang tertinggal.
''Bagaimana keadaan Alia? Dia sama sekali tidak ada kabar. Apa gue terlalu keras sama Alia? Sementara dia sendiri tidak tahu apa yang dia lakukan. Apa yang harus gue katakan? Apa gue harua bilang kalau gue mulai mencintai Alia? Ini benar-benar ganggu gue. Ucapan Rendra lah yang ganggu gue. Alia tidak salah, toh belum tentu juga di terima. Gue harus mencegah supaya Rendra batal pergi ke rumah Alia,'' kata Elvan yang berbicara pada dirinya sendiri. Malam itu Elvan memilih menenggak kembali minuman keras di dalam kamarnya, hingga ia mabuk dan tertidur. Dalam tidurnya Elvan bermimpi sedang berada di sebuah taman bermain. Ia melihat Lili kecil sedang bermain ayunan dan melambaikan tangan padanya. Elvan masih ingat betul bagaimana menggemaskannya senyuman Lili kecil. Elvan pun mendekat dan menghampiri Lili namun saat semaki dekat bukan wajah Lili yang ia dapati, melainkan Alia. Elvan begitu terkejut dan merasa bingung kenapa Lili bisa berubah menjadi Alia. Di tempat lain, tepat di kamar Alia. Alia tertidur di lantai usai menjalankan sholat isya'. Ia pun masih mengenakan mukenah lengkap dengan sajadahnya. Alia juga mengalami mimpi yang sama. Ia melihat Eel, nama panggilan kecil Alia pada Elvan. Alia melihat Elvan dengan penuh semangat bermain ayunan sembari tertawa. Elvan kecil melambaikan tangan pada Alia dan Alia pun mendekatinya. Namun saat mendekat justru Elvan yang sekarang lah yang ada di hadapannya. Elvan lalu memberikan senyuman manisnya pada Alia. Alia merasa bingung dengan apa yang ia lihat. Pandangan Alia mengedar, mencari sosok Elvan kecil namun tidak ada. Yang ada hanyalah Elvan yang kini telah beranjak dewasa. Dan Alia pun terbangun dari tidurnya.
''Ya Allah, rupanya aku ketiduran dan ini cuma mimpi,'' kata Alia yang menyadari bahwa ia ketiduran.
__ADS_1
''Ya Allah kenapa ada wajah Elvan juga dalam mimpiku? Apa arti semua ini?'' gumam Alia.
...****************...
Keesokan harinya di kampus, Alia sedang menangis dia bingung dengan apa yang ia rasakan. Rani dan Diana melihat Alia duduk seorang diri di taman. Mereka lalu mendekati Alia dan duduk di samping Alia.
''Alia, kamu kenapa?'' tanya Rani yang melihat Alia menangis.
''Iya, Al. Kamu cerita sama kita ya, jangan di pendam sendiri.'' Kata Diana. Alia lalu memeluk Rani dan menangis dalam pelukan Rani. Diana lalu ikut memeluk Alia. Mereka berdua bingung dengan sikap Alia, Alia hanya bisa menangis tanpa bisa bicara sepatah kata apapun.
''Nangis aja sepuas kamu Al, kalau itu bisa bikin kamu merasa baikan,'' kata Diana sambil menepuk punggung Alia.
''Maafin aku ya, kalau aku belum bisa cerita apa-apa sama kalian,'' ucap Alia dalam tangisnya.
''Iya nggak apa-apa kok kita ngerti, Al.'' Kata Rani. Ingin sekali Alia menceritakan tentang apa yang ia rasakan pada kedua sahabatnya namun ia tidak mau. Karena Alia tidak mau membuat nama Elvan buruk di hadapan semua orang.
Next---->
__ADS_1