
Empat hari sudah Elvan di rumah sakit. Di saat itu juga Elvan merasa bahagia karena Alia selalu menyempatkan waktu untuk menjenguknya. Kini ia tengah berkemas dan kedatangan orang tuanya, membuat Elvan merasa malas untuk menyambutnya.
''Elvan, bagaimana kabarmu nak?" peluk Pak Tama. Namun Elvan tak bergeming dan bersikap dingin pada Papanya.
''Elvan, apa yang terjadi sama kamu? wajah kamu kenapa?'' tanya Bu Elisa sembari memegang wajah Elvan. Elvan pun menepis tangan Bu Elisa. Tak lama kemudian Endrew dan Milka pun juga datang.
''Papa, Mama, kalian sudah sampai? kenapa nggak ngasih kabar Endrew. Endrew kan bisa jemput,'' kata Endrew sambil bergantian memeluk Papa dan Mamanya.
''Papa tahu kamu sangat sibuk, Endrew. Jadi Papa sama Mama langsung ke rumah sakit."
''Papa, Mama. Kalian sehat kan?'' tanya Milka yang juga memeluk kedua mertuanya secara bergantian.
''Kami sehat sayang,'' jawab Bu Elisa.
''Untuk apa kalian semua disini? untuk apa Papa dan kamu pulang?'' kata Elvan sambil menatap Bu Elisa penuh kebencian.
__ADS_1
''Hentikan sikap kurang ajarmu itu, Elvan!" tegas Pak Tama.
''Sudah, Pa. Jangan selalu keras pada Elvan, kasihan kan dia baru juga sembuh,'' bela Bu Elisa. Namun pembelaan Bu Elisa mendapat senyuman sinis dari Elvan.
''Aku tidak butuh di kasihani. Untuk apa kalian kembali jika hanya ingin membicarakan perjodohan yang tak masuk akal,'' ucap Elvan dengan sinis.
''Sudahlah ayo kita pulang dulu. Mari kita bicarakan di rumah saja.'' Kata Bu Elisa sambil mengusap bahu Elvan. Lagi-lagi Elvan menepis tangan Bu Elisa dengan kasar dan itu membuat Endrew hanya bisa menahan marahnya.
''Elvan! Berhenti bersikap kasar pada Mama kamu,'' bentak Pak Tama.
PLAK! Sebuah tamparan yang keras dari Pak Tama mendarat di wajah Elvan. Semua tampak tercengang dengan kejadian itu.
''Papa pulang hanya untuk ini? iya kan Pa? Papa selalu kasar sama Elvan. Kenapa Papa marah? Papa tidak terima kalau wanita ini aku anggap rendahan. Kenyataannya memang itu kan, Pa.''
''Cukup Elvan! Jangan hina Mama lagi,'' bentak Endrew yang tidak tahan melihat Mamanya di hina.
__ADS_1
''Sungguh keluarga yang bahagia dan kompak sekali,'' ucap Elvan sembari bertepuk tangan untuk mereka.
''Pa, apa Papa tahu sebelum aku dan Mama kecelakaan apa yang terjadi? Apa Papa tahu? Apa kalian tahu? Malam itu Mama menangis dan menyembunyikannya dari aku. Di malam sebelum kecelakaan aku mendengar semua pembicaraan Papa dan Mama. Dimana Papa lebih mementingkan dia, anak wanita ini daripada aku, anak kandung Papa sendiri. Karena dia, Papa beralasan hadir di acara kenaikan kelas aku. Papa tahu, Mama menangis semalaman, Pa! Di saat itu, aku paham apa alasan Mama menangis di setiap malam bahkan hampir setiap hari. Apa kalian semua tahu bagaimana penderitaan Mama dan betapa terlukanya hati Mama atas penghianatan kalian semua. Apa kalian semua tahu? Apa Papa tahu bagaimana perasaanku? saat Papa pulang membawa wanita ini dan anaknya. Papa pikir aku bisa bahagia? Papa pikir aku menerima mereka? Tidak! Sampai detik ini aku tidak menerima mereka. Mereka hanya orang luar yang merebut kebahagiaan kita. Bahkan Papa berubah! Bagi Papa dia adalah yang terbaik, sedangkan aku hanya seorang anak yang bodoh dan nakal. Itulah penilaian Papa terhadap aku!" kata Elvan yang mengeluarkan semua amarah dan kekesalannya. Hingga air mata pun berderaian membasahi wajah Elvan. Sorot kemarahan di mata Elvan pun tak terelakkan lagi. Mereka hanya bisa terdiam dan tak bisa berkata-kata. Bu Elisa pun tak kuasa menahan tangisnya. Bahkan Milka pun menangis, mengerti betapa sakitnya hati Elvan dan membayangkan bagaimana posisi Endrew saat ini.
''Sekarang kalian tahu, kenapa aku sangat membenci kalian?'' kata Elvan sembari menatap mereka satu persatu penuh kebencian.
''Kalau elo jadi gue? apa yang gue lakuin, Endrew?'' kata Elvan dengan penuh penekanan sambil menunjuk wajah Endrew dengan sangat dekat.
''Aku akan marah dan melakukan hal sama dengan kamu. Tapi setidaknya dengarkan penjelasan Papa, El,'' kata Endrew.
''Aku tidak peduli dengan penjelasan itu! Apapun penjelasan itu, Papa berhianat!'' Kata Elvan sambil menunjuk wajah Papanya.
''Baiklah, Papa memang salah. Papa akui Papa salah. Saat itu usia pernikahan Papa dan Mama memasuki usia 5 tahun pernikahan. Namun kami tak kunjung memiliki anak. Hingga akhirnya dokter memvonis Mama kamu tidak bisa memiliki anak. Sampai akhirnya Mama kamu memaksa dan meminta Papa untuk menikah lagi. Bahkan Mama kamu sendiri yang memilih Elisa sebagai calon untuk Papa. Elisa seorang gadis biasa yang tidak sengaja menyelamatkan Mama kamu dari kecelakaan. Sampai akhirnya mereka menjadi sangat dekat. Usia kami dengan Elisa juga tidak terpaut jauh, hanya lima tahun. Elisa seorang yatim piatu dan Mama kamu juga sayang padanya. Awalnya Papa sangat terkejut dengan keputusan kamu. Bahkan Papa dan Elisa pun menolak dengan keras permintaan konyol Mama kamu. Karena bagi Papa, Mama kamu adalah segalanya. Akhirnya Mama kamu memaksa kami berdua untuk menikah. Dua bulan lebih Papa dan Elisa tidak bersentuhan. Hal itu terjadi karena Mama kamu yang akhirnya mengaku memasukkan sesuatu ke dalam minuman kami. Sehingga kami melakukan hubungan suami istri. Bahkan saat melakukan itu meskipun tanpa sadar, bayangan wajah Mama kamu yang ada di hadapan Papa. Mama kamu sangat ambisi memiliki seorang anak. Demi Tuhan hanya sekali itu kami melakukannya. Papa pun merasa menyesal tapi Mama kamu justru sangat bahagia karena akhirnya Elisa mengandung. Mama kamu sendirilah yang merawat Elisa hingga kandungan Elisa membesar dan Endrew akhirnya lahir. Bahkan Mama kamu sendiri yang memberi nama Endrew. Mama kamu sengat menyayangi Endrew seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan setiap hari Endrew selalu bersamanya. Sementara tugas Papa hanya memberikan nafkah pada Elisa dan Endrew, tanpa pernah menyentuhnya sejak saat itu. Sampai akhirnya Endrew berusia lima tahun dan sebuah mukjizat terjadi. Akhirnya Mama kamu hamil, tepat di sepuluh tahun usia pernikahan Papa dan Mama. Sampai akhirnya kamu lahir ke dunia, kami berencana mengambil Endrew. Namun Elisa mengingkari perjanjian itu karena nalurinya sebagai ibu. Ia bahkan rela di ceraikan asalkan bisa hidup bersama Endrew. Elisa tidak peduli dengan berapa uang yang kami berikan atau harta yang kami janjikan. Bagi Elisa, Endrew adalah segalanya. Berkali-kali Elisa meminta berpisah tapi Papa tidak mau. Tidak mungkin Papa meninggalkan Elisa begitu saja. Sama saja Papa ini seorang penjahat yang tega menelantarkan istri dan anaknya sendiri. Bahkan Elisa pun menerima untuk tidak di akui di dunia Papa. Elisa bahkan memilih untuk tinggal di rumah yang sempit dan kecil karena Elisa menyadari posisinya. Beberapa kali Elisa mencoba kabur tapi Papa berhasil menemukannya. Sampai akhirnya Mama kamu menyesali semua ambisi dan keegoisannya. Dan Mama kamu menerima Papa beristri dua. Semua ini salah kami, kami yang tidak sabar saat mendapat ujian seperti ini. Ini kesalahan yang menjadi boomerang dalam kehidupan kami. Sampai akhirnya Papa dan Elisa saling menyimpan rasa. Papa salut dengan ketegaran dan kesabarannya atas sikap Papa dan Mama yang terlalu egois. Maafkan Papa,'' cerita Pak Tama yang juga berderai air mata.
''Cukup Pa! Jangan mengatakan hal buruk tentang Mama. Sikap Papa selama ini yang selalu membandingkan aku dengan Endrew, sudah cukup menjelaskan semuanya,'' kata Elvan dengan tegas. Elvan kemudian pergi berlalu sambil membawa kopernya. Hati Elvan sudah terlalu sakit, melihat penderitaan Mamanya selama ini. Di tambah sikap Papanya yang selalu tidak adil padanya.
__ADS_1
Bersambung...