Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"

Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"
EPS. 93 Ku Bahagia


__ADS_3

Setelah dari rumah Alia, Kini Elvan sedang berada di rumah Leon bersama Fandi.


''Elo kemana aja, El? Kita hubungin nggak bisa.'' Kata Fandi.


''Yaelah, Fan. Bokapnya di rumah, mana berani dia keluar." Kata Leon sambil mengarahkan stik pada bola billiard. Fandi dan Leon lalu menatap sahabatnya yang sedang senyam-senyum memeluk stik billiard.


''Kayaknya ada yang nggak beres sama Elvan deh,'' bisik Leon.


''Emang lagi nggak beres. Kita ajak ngomong aja nggak nyaut, malah cengar-cengir nggak jelas.'' Timpal Fandi. Leon kemudian memukulkan stik billiard ke kaki Elvan.


''Woi! Kita lagi ngomong!" kata Leon dengan suara meninggi.


"Le! Elo pikir nggak sakit apa?'' gerutu Elvan.


''Heh! Kita lagi ngomong tapi elo diam aja.'' Kata Leon.


''Cengar-cengir nggak jelas. Habis dapat apaan lo? Menang lotre?'' timpal Fandi.


''Bukan lagi lotre. Tapi bidadari surga.'' Ucap Elvan dengan senyum simpulnya.


''Maksud lo?'' kompak Fandi dan Leon sambil mendekatkan wajah mereka ke arah Elvan.


''Kayaknya ada yang belum cerita sama kita nih," kata Leon. Fandi dan Leon saling melirik lalu mereka kompak menarik baju Elvan. Elvan berasa seperti korban yang tengah di keroyok preman.


''Gue udah lamar Alia!" celetuk Elvan. Fandi dan Leon kemudian melepas cengkramannya pada Elvan.


''Maksud elo melamar? Bukanya elo mau di jodohin?'' kata Fandi.


''Iya! Dan itu Alia!"


''What? Serius?'' seru Fandi dan Leon bersamaan.


''Iya. Gue nggak nyangka kalau itu Alia.''

__ADS_1


''Terus Alia gimana? Pasti Alia nolak dong! Iya kan?'' celetuk Leon.


''Heran deh gue sama kalian! Temen lagi bahagia bukanya dukung tapi malah ngecengin.'' Ketus Elvan.


''Jadi elo di terima, El?" seloroh Fandi tak percaya.


''Iya lah, gue di terima. Tadi gue habis ke rumah Alia sama bokap nyokap dan lamar dia.''


''Bokap nyokap? Kalian udah baikan?'' tanya Leon yang berusaha meyakinkan.


''Iya, Le. Semuanya sudah membaik. Dan gue udah tahu semuanya. Alia juga udah tahu semua masa lalu keluarga gue. Gue bersyukur karena Alia bukan hanya nerima kelebihan gue tapi kekurangan dan keburukan gue, Alia terima. Jadi sekarang gue berusaha memantaskan diri sebelum menikahi Alia dan semoha gue bisa.'' Kata Elvan. Leon dan Fandi kemudian kompak merangkul Elvan yang berada di tengah-tengah mereka.


''Gue nggak salah denger kan? Elo bisa ngomong kayak gitu, El.'' Kata Leon.


''Elo nggak salah denger, kalau elo nggak budeg!" ceplos Elvan terkekeh.


''Sumpah gue seneng banget! Gue seneng karena akhirnya elo sama orang tua elo udah baikan. Apalagi ternyata Alia adalah jodoh elo selama ini. Ya semoga Alia nggak salah pilih.'' Kata Fandi.


''Nggak mungkin lah! Elo lihat aja gue. Dari ujung kaki sampai ujung kepala, semuanya sempurna. Tampan iya, keren iya, kaya iya, coba?''


''Kalian yang nggak ada akhlak!" celetuk Elvan kesal.


...****************...


Keesokan harinya Elvan bergegas berangkat ke kampus tak lupa ia menjemput Alia. Selama perjalanan menuju kampus, mereka pun terlibat obrolan.


''Mulai sekarang, aku akan antar jemput kamu. Dan kamu nggak usah kerja lagi. Semua biaya hidup kamu, biarkan aku yang menanggungnya.''


''Nggak bisa gitu, El. Kita kan belum menikah, biarkan aku bekerja di tempat Mbak Milka ya.''


''Ya udah deh kalau itu mau kamu.''


''Kamu sudah ke rumah Kak Endrew dan Mbak Milka?''

__ADS_1


''Mereka keluar kota untuk urusan pekerjaan. Jadi aku belum ke rumah mereka.''


''Aku berharap kamu juga minta maaf sama mereka. Dan aku ingin semuanya segera membaik.''


''Iya, aku paham itu semua.'' Sesampainya di kampus, Elvan membukakan pintu mobil untuk Alia.


''Makasih." Kata Alia.


''Oh ya sebentar. Ini kamu pegang.'' Kata Elvan sambil memberikan silver card untuk Alia.


''Apa ini?''


''Tenang saja, ini punya aku sendiri kok. Ini hasil kerja keras aku. Kamu bisa bebas pakai kapan saja, Al.'' Kata Elvan sambil menggenggamkan kartu itu dalam genggaman Alia.


''El, nggak usah. Aku nggak mau merepotkan kamu dan di anggap memanfaatkan kamu.''


''Alia, ngapain sih kamu dengerin omongan orang. Kamu adalah calon istri aku, sudah sepantasnya aku memperlakukan kamu seperti ini. Kasihan Ayah kamu, Ayah kamu harus berobat. Aku mohon kamu terima ya.'' Kata Elvan.


''Tetap tidak bisa, El! Aku masih bisa melakukannya sendiri kok. Nantu kalau aku butuh saja bilang sama kamu.'' Kata Alia sambil memberikan kartu itu kembali pada Elvan.


''Mending sekarang kita ke kelas aja. Maaf ya, bukanya gimana. Selagi aku mampu, aku akan berusaha.''


''Ya udah kalau gitu.'' Jawab Elvan dengan wajah masamnya.


''Aku harap kamu nggak marah dan mengerti maksud aku.''


''Iya nggak apa-apa. Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk kamu, Al. Ya udah ayo aku antar kamu ke kelas.''


''Iya.'' Kata Alia dengan senyumnya.


''Ternyata kamu sangat baik, El. Tapi maaf aku tidak bisa menerimanya,'' gumam Alia dalam hati.


''Ternyata Alia memang beda dari gadis yang selama ini aku kenal.'' Gumam Elvan dalam hati.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2