
''Sekarang elo cerita apa yang terjadi. Ayolah, El. Kita sahabatan udah dari orok, please lah jujur sama kita.'' Desak Fandi. Kini mereka sedang berada di basecamp dan sedang mendesak Elvan untuk cerita.
''Oke, gue cerita. Gue pulang semalam dari rumah sakit. Bokap sama wanita itu kembali, kita bertengkar dan gue kabur. Terus gue ketemu Alia dan gue ngontrak rumah di dekat rumah Alia.''
''Seriua lo? kenapa nggak ke rumah kita?'' kata Leon.
''Kalau ke rumah kalian, sudah pasti bisa menebak lah. Terus mereka mau jodohin gue setelah wisuda nanti. Dan gue sendiri nggak tahu, siapa cewek itu.''
''Ah, serius lho, El. Wah bakal nikah muda nih lo.'' Seloroh Leon.
''Terus elo gimana?'' tanya Fandi.
''Jujur gue cinta sama Alia. Gua udah ungkapin perasaan gue dan gue ngajakin dia nikah,'' kata Elvan dengan bicaranya yang cepat. Karena Elvan merasa gengsi mengakui di hadapan Leon dan Fandi.
''What? Elo cinta sama Alia?'' kompak Fandi dan Leon.
''Iya. Emang kenapa? salah? gue kayaknya kena karma deh. Gue beneran cinta sama Alia, gimana dong?''
''Hebat lo, bener-bener hebat. Seorang Elvan jatuh cinta dengan wanita berhijab, sampai mau di ajakin nikah, cuy!" kata Leon dengan heboh.
''Dan gue nggak nyangka, elo bisa sejujur itu sama cewek. Wah fix nih, gejala bucin. Playboy bucin!" timpal Fandi terbahak. Fandi dan Leon pun mentertawakan kejujuran sahabatnya.
''Terus Alia gimana? Sudah di jamin 100% dia juga nolak,'' celetuk Leon.
''Hhhhh, dia belum kasih jawaban. Dia nggak percaya dan anggap gue modus,'' kata Elvan mendengus.
''Hahahahaha tuh kan gue bilang apa. Alia yang nggak mau sama elo,'' sahut Fandi.
''Nah ternyata Alia juga sudah di jodohkan. Jodoh wasiat bunda-nya tahu nggak. Belum perang aja gue udah kalah.''
''Apa di jodohkan? terus elo tahu siapa cowok itu?'' tanya Leon.
''Gue tadi nggak sengaja dengar, Rendra melamar Alia dan Ayah Alia menolak karena hal itu.''
''Apa? Seorang Rendra aja di tolak, apalagi elo El? Di buang ke laut deh lo,'' ledek Fandi.
''Tuh kan, kalian bukanya ngasih solusi tapi malah ngledekin,'' protes Elvan.
__ADS_1
''Bukan ngledekin, El. Tapi itu kenyataan, hahahahaha,'' sambung Leon cekikikan.
''Terus siapa jodoh Alia?'' tanya Fandi penasaran.
''Cowok itu anak dari sahabatnya bundanya Alia. Sudah pasti cowok itu baik-baik. Dan sekarang Ayah Alia ingin menemui cowok itu. Kalaupun cowok itu ternyata udah nikah, ya Alia bebas milih siapa yang dia cinta.''
''Kalau gitu kita doain aja biar tuh cowok udah nikah, jadinya elo sama ada kesempatan deketin Alia,'' usul Leon.
''Tapi menurut gue kok sama aja ya. Alia di bebasin, sudah jelas Alia dan Ayahnya memilih Rendra. Saingan elo berat, El.'' Kata Fandi sambil menepuk bahu Elvan.
''Udah lah gue pergi. Bukanya ngasih solusi tapi malah bikin bete.'' Elvan pun berlalu dan mencari Alia, sementara Fandi dan Leon tak hentinya tertawa.
''Bener-bener playboy kualat nih.'' Kata Fandi seraya tertawa.
...****************...
''Alia! mau kemana?'' panggil Elvan sembari berlari mengejar Alia.
''Aku mau kerja lah ke butiknya Mbak Milka. Kamu pulang saja.''
''Tidak bisa, El! Aku harus ke butik Mbak Milka sekarang. Kamu pulang duluan aja ya.''
''Ya udah deh kalau gitu. Kamu hati-hati ya, aku tunggu kamu di rumah.''
''Iya. Assalamualaikum.''
''Waalaikumsalam.''
Alia pun segera berangkat menuju butik Milka dengan naik angkot. Sementara Elvan memilih menunggu taksi online datang. Namun tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti tepat di depan Elvan. Dan turunlah beberapa orang berbadan kekar dan seperti algojo. Mereka kemudian menangkap Elvan.
''Apaan nih? siapa kalian?'' bentak Elvan.
''Sudah kamu diam saja dan nurut,'' kata salah satu algojo tersebut. Mereka berlima memegangi Elvan dengan kuat. Elvan mencoba memberontak namun salah satu dari mereka membekap mulut Elvan dengan sapu tangan yang telah di beri obat bius. Elvan pun akhirnya pingsan.
Cahaya mentari kian memudar, mentari pun pulang ke peraduannya. Elvan pun perlahan membuka matanya. Ia sangat terkejut mendapati dirinya telah berada di dalam kamarnya.
''Pasti ini ulah Papa. Kenapa sih Papa selalu seperti ini,'' gumam Elvan dalan hati. Elvan segera beranjak dari tempat tidurnya dan mencoba memutar gagang pintu namun semuanya terkunci.
__ADS_1
''Papa! Buka, Pah! Ini pasti ulah Papa, kan?'' ucap Elvan sambil menggedor pintu dengan keras. Pak Tama yang berada di lantai bawah ruang tengah, mendengar suara berisik dari kamar Elvan.
''Dia sudah bangun ternyata.''
''Pah, kasihan Elvan. Buka saja pintunya.''
''Biarkan saja, Mah. Dia itu semakin liar saja. Papa terpaksa melakukan ini untuk kebaikannya. Karena Papa tahu dia tidak akan pernah pulang. Papa terpaksa melakukan cara ini untuk membujuknya pulang. Sampai kapan dia akan bersikap kekanak-kanakan. Dia penerusku, Mah. Aku harus mendidiknya,'' Bu Elisa hanya bisa terdiam mendengar ucapan suaminya. Ia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa.
''Sial!" umpat Elvan penuh dengan frustasi. Saat ia mencoba menuju balkon, di bawah sana ada beberapa bodyguard yang menjaganya.
''Papa benar-benar keterlaluan! Pasti ini hasutan wanita itu! Brengsek!" Elvan benar-benar frustasi dengan keadaannya. Elvan kemudian mengambil ponsel dalam saku celananya dan jam sudah menunjukkan pukul 20.00.
''Alia pasti sudah pulang, apa aku telepon dia saja? Tapi aku tidak mau dia terlibat dengan urusanku,'' ucap Elvan yang berusaha mengurungkan niatnya.
Sementara itu, Alia yang baru saja pulang dari butik, melihat rumah kontrakan Elvan tampak sepi dan lampu pun mati.
''Elvan kemana ya?'' gumam Alia. Alia yang tiba-tiba merasa khawatir, segera menghubungi Elvan. Elva yang mendengar ponselnya berdering pun segera mengangkatnya.
''Halo, Alia. Kamu sudah pulang?''
''Iya, aku di depan rumah kontrakan kamu. Kamu dimana?''
''Maaf ya, aku harus pulang. Aku minta tolong sama kamu, tolong bereskan pakaian ku dan berikan pada Leon juga Fandi.''
''Tapi kamu baik- baik saja kan?''
''Iya aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu cemas. Ya udah lebih baik kamu istriahat ya.''
''Iya, kamu juga. Assalamualaikum.''
''Waalaikumsalam.'' Elvan pun mengakhiri panggilannya.
''Kenapa kamu pulang mendadak? Apa kamu benar-benar akan di jodohkan, El? Makanya kamu harus pulang mendadak seperti ini. Bahkan kamu tidak mengabari aku sama sekali,'' gumam Alia dalam hati sembari menatap rumah kontrakan Elvan yang kosong.
''Ya Allah, kenapa aku sedih ya? Aku sendiri juga akan di jodohkan. Kenapa nasib kita sama ya, El? Siapapun jodoh kamu nanti, semoga dia adalah seorang wanita sholeha yang bisa membimbing kamu ke arah yang lebih baik. Aku akan selalu mendoakan untuk kebaikanmu,'' kata Alia dalam hati.
Bersambung.... Ayokk jangan lupa like, komen dan vote ya, makasih 🙏😘
__ADS_1