
Dengan langkah gontai, Rendra berjalan menuju tempat parkir. Namun seseorang menepuk punggung Rendra.
''Hai, Ren."
"Sandra. Ada apa?''
''Nggak ada apa-apa. Cuma nyapa aja, hehehe. Oh ya, aku pingin ke cafe kamu nih. Boleh ikut nggak? kebetulan aku lagi nggak bawa mobil.''
''Boleh kok. Ya udah ayo.'' Kata Rendra dengan senyumnya. Selama di dalam mobil, mereka pun terlibat obrolan.
''Seandainya Elvan se-seru kamu, Ren. Tapi dia selalu cuek.'' Kata Sandra yang membuka obrolan.
''Memangnya kamu sudah lama kenal Elvan?''
''Iya. Sejak SMP. Tapi ya gitu, dia selalu dingin. Aku mulai menyadari perasaanku saat kuliah ini. Soalnya waktu SMA, aku pindah keluar kota karena kerjaan Papa. Aku memang sengaja memilih universitas ini untuk bisa dekat sama dia. Tapi ya gitu, sikap dia selalu sama.''
''Memang nggak ada cowok selain Elvan ya? Kamu tahu sendiri kan kalau dia itu playboy. Aku sendiri bukan manusia yang sempurna tapi setidaknya, kamu bisa mencari cowok yang lebih baik Elvan. Kamu sendiri sudah tahu jawabannya, kalau kamu bersama Elvan, kamu akan terluka. Kamu tahu San, lebih baik di cintai daripada mencintai.''
''Iya ucapan kamu benar. Tapi entahlah, Ren.''
''Apalagi sekarang Elvan juga mulai mendekati Alia.''
''Apa? Alia? Cewek yang kamu suka?''
__ADS_1
''Iya. Aku khawatir aja sama Alia.''
''Elvan? Nggak mungkin dia mau dekat sama cewek kayak gitu. Cewek yang dia deketin nggak ada lho yang seperti Alia.'' Kata Sandra dengan nada sinis.
''Apa kamu nggak cemburu?'' sambung Sandra.
''Agak sih. Tapi aku percaya sama Alia. Aku yakin Alia nggak akan tertarik sama Elvan. Karena aku tahu lelaki idaman Alia seperti apa.''
''Hmmm hebat juga kamu ya. Tapi gimana kalau malah sebaliknya, Alia akan suka sama Elvan. Nggak menutup kemungkinan kan kalau Alia suka sama Elvan.'' Sejenak ucapan Sandra membuat Rendra terdiam.
''Gimana ya? Aku pasrahin ajalah sama Allah. Aku nggak masalah Alia mau sama siapa saja tapi aku berharap itu bukan Elvan. Karena aku tidak mau Alia terluka dan menderita karena sikap Elvan.''
''Jawaban yang bijak,'' singkat Sandra.
Setelah sampai di rumah Elvan, Alia segera menuju dapur. Namun Elvan menghentikan langkah Alia dengan menarik tangan Alia.
''Alia, gue mau minta maaf sama elo. Sorry buat sikap gue kemarin. Nggak seharusnya gue bersikap kayal gitu sama elo. Dan makasih elo juga keluarga elo udah baik banget sama gue. Gue bahkan lupa, kapan terakhir kali gue makan sama keluarga gue. Thanks banget.''
''Iya sama-sama. Ya udah aku masak dulu. Kamu mau di masakin apa?''
''Terserah aja. Apapun yang elo masak, gue pasti makan kok.''
''Oke.'' Kata Alia dengan senyum cerianya. Alia kemudian segera menuju dapur, sementara Elvan berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
''Assalamualaikum, Bi.''
''Waalaikumsalam, Mbak. Ya Allah Mbak Alia, bibi semalam khawatir banget. Untung mbak Alia telepon.'' Kata Bi Minah.
''Iya, Bi. Sekarang Elvan udah baikan kok dan nggak demam lagi.''
''Makasih ya mbak, udah jagain Den Elvan.''
''Sama-sama, Bi. Kemarin Elvan pas mau pulang, pingsan Bi. Jadi ya udah nginap di rumah kecil Alia.''
''Nggak apa-apa, Mbak. Buktinya Den Elvan nyaman. Saya rasa Den Elvan udah mulai jatuh cinta sama mbak Alia deh.''
''Jatuh cinta? Mana mungkin, Bi. Saya tidak lebih dari barang taruhan.'' Ucap Alia yang merasa miris dengan nasibnya di tangan Elvan.
''Mbak jangan di ambil hati ya. Kalau sampai Den Elvan jatuh cinta sama mbak, ya berarti itu karma mbak. Untung karmanya jatuh cinta kalau celaka gimana?''
''Bibi, nggak boleh bicara seperti itu ah.''
''Mbak Alia memang sangat baik sekali. Sudah cocok menjadi pasangan hidup Den Elvan.''
''Bibi berlebihan.'' Kata Alia sembari menyunggingkan senyumnya.
''Sebaik apapun Elvan, insya allah aku bisa mengatasi perasaan ini. Apalagi aku hanya sebagai barang taruhan saja. Setidaknya aku sudah menanam kebaikan padanya dan berharap dia bisa menjadi seseorang yang lebih baik. Tidak ada salahnya juga membantu Elvan.'' Ucap Alia dalam hati.
__ADS_1
...Bersambung.......