
Bu Maya menangis sembari menggenggam ponselnya. Hatinya begitu hancur, ia menoleh dan melihat Elvan yang tengah tertidur pulas. Ia mengecup kening putranya itu.
''Kenapa sekarang terasa sakit sekali. Ini semua salahku. Ya Allah, dulu pernikahan kami saat berjalan 5 tahun, aku mendapat vonis tidak bisa hamil. Sampai akhirnya, aku meminta Mas Tama untuk menikahi wanita lain supaya kami mendapat keturunan. Saat Endrew berusia lima tahun dan aku ingin mengambilnya, kau memberiku mukjizat. Setelah sepuluh tahun usia pernikahan kami, akhirnya aku mengandung Elvan. Di saat itu pula, aku ingin mengambil Endrew. Namun justru hal ini menjadi boomerang untuk rumah tanggaku. Semoga aku sekarang bisa dan ikhlas berbagi suami dengan Elisa. Meskipun begitu, aku tetap menyayangi Endrew dan tidak dendam pada Elisa." Kata Bu Maya kepada dirinya sendiri, sembari menahan tangisnya, agar Elvan tak mendengarnya.
Keesokkan harinya, Bu Maya sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk Elvan.
"Morning, Mom," sapa Elvan sembari mengecup pipi, Mamanya.
''Morning, son." Balas Maya sembari membalas kecupan putranya. Elvan mengamati mamanya yang sedari tadi sibuk mengoleskan selai coklat di atas roti tawar. Ia melihat mata mamanya membengkak dan terlihat sembab.
''Mom, are you okay?" tanya Elvan.
''Yes, of course, honey. Sekarang adalah hari kenaikan kelasmu. Mama jelas bahagia sekali, apalagi nanti anak mama akan pentas di atas panggung," ucap Bu Maya sembari tersenyum pada putranya.
''But, mom doesn't look all right. Last night I saw Mom crying."
''No, honey. Mama nggak nangis kok. Sudah kamu cepat habiskan sarapan dulu ya. Mama ke kamar dulu, ganti baju."
''Okay, Mom. Mom, don't cry." Kata Elvan lirih. Mendengar ucapan putranya, Bu Maya hanya bisa tersenyum sembari berlalu menuju kamarnya. Tangis Bu Maya pecah seketika. Hatinya begitu terasa perih tapi ia harus kuat di hadapan putra semata wayangnya. Elvan, mengingat kembali apa yang membuat mamanya menangis semalam. Elvan mendengar semua pembicaraan mamanya dan papanya.
''Endrew? siapa dia? dan juga Elisa, siapa Elisa? kenapa Papa harus menemani Endrew dan Elisa? apa Papa sudah tidak sayang lagi padaku." Gumam Elvan dalam hati sembari menghabiskan sarapannya.
" Sayang, kamu sudah selesai sarapannya?" tanya Bu Maya sembari berjalan menuruni anak tangga.
''Sudah, Ma. Oh ya, papa mana, ma?" tanya Elvan dengan polosnya.
''Oh, papa masih kerja di luar kota, sayang," ucap Bu Maya dengan mata berkaca-kaca.
''Mama menangis?"
''Nggak kok. Mama bahagia sekali karena ini kan acara kenaikan kelasmu."
''Tapi kan Elvan juga ingin Papa datang."
__ADS_1
''Iya, maafin papa ya. Kalau papa tidak bisa menemani kamu. Tahun lalu, papa kan juga bisa temani kamu tapi untuk sekarang, papa ijin absen ya."
''Its okay," jawab Elvan tanpa semangat.
''Hei, kamu harus semangat dong. Nanti mama akan duduk di barisan depan untuk melihat penampilan kamu." Kata Bu Maya yang berusaha menghibur putranya.
''Iya, Ma. Elvan akan memberikan yang terbaik untuk, mama. Love you, mom."
''Love you more, handsome. Lets go !" Kata Bu Maya sembari menggandeng tangan Elvan menuju mobil.
''Jangan lupa sabuk pengamannya ya, sayang."
''Oke, ma. Oke, kita berangkat. Bismillah. Semoga kita selamat sampai tujuan ya."
''Amin." Jawab Elvan dengan senyum manisnya. Selama perjalanan, mereka terlibat obrolan yang begitu seru.
''Ma, janji ya. Kalau mama akan selalu menemani Elvan hingga Elvan menikah nanti, sampai Elvan memiliki anak."
''Wah, jauh sekali pikiran kamu, sayang. Kamu masih delapan tahun, tapi kritis sekali cara berfikir kamu." Kata Bu Maya yang terkejut dengan pemikiran putranya.
''Oke. Mama janji, mama akan menemani kamu sampai kapanpun, bahkan sampai hembusan nafas terkahir, mama."
''Dan Elvan juga janji akan terus menjaga, mama sampai kapan pun."
''Terima kasih, sayang. Oh ya memangnya nanti kamu mau menikah sama siapa?"
''Sama Lili, Ma. Anak sahabat, Mama. Tante Nita."
''Oh jadi kamu suka sama dia? wah, anak mama kecil-kecil sudah suka-sukaan."
''Elvan kan cowok, ma. Lili cantik dan lucu, meskipun kita baru saja bertemu."
''Hmmmm rupanya, mama dan tante Nita tidak perlu mengkhawatirkannya. Karena kami memang berencana menjodohkan kalian berdua tapi saat dewasa nanti. Makanya, kamu sekolah yang rajin, yang pintar, nurut sama mama. Supaya kamu saat dewasa nanti bisa menjadi orang yang sukses. Dan saat sukses nanti, kamu baru boleh menikah. Pesan mama, jadilah pria dewasa yang setia dan bertanggung jawab, oke?"
''Oke, ma." Jawab Elvan yang mendapat usapan lembut di kepalanya. Saat fokus mengendarai mobilnya, ponsel Bu Maya berdering. Bu Maya meraih ponselnya yang terdapat pada dashboard mobilnya. Ada nama Pak Tama di layar ponsel Bu Maya. Belum sempat menjawabnya, ponsel Bu Maya terjatuh karena Bu Maya tidak sengaja melewati jalan yang berlubang. Tangan Bu Maya lalu berusaha meraba ke bawah untuk mengambil ponselnya. Di saat yang sama ada mobil berlawanan arah melaju dengan kecepatan cukup tinggi dan sepertinya pengemudi itu mabuk.
__ADS_1
''Ma, awas ma ! ada mobil, ma!" teriak Elvan.Untuk menghindari tabrakan dengan mobil tersebut, Bu Maya yang terkejut seketika membanting stir. Sehingga mobil menabrak pembatas jalan, lalu terguling dan terperosok dalam tanah yang curam. Elvan berusaha membuka matanya dan melihat darah keluar dari kepala, telinga dan mulut mamanya. Elvan, seorang anak kecil berusia delapan tahun, seperti mempunyai kemampuan untuk menolong, Mamanya. Elvan berusaha membuka pintu mobilnya dan berusaha mengeluarkan diri dari mobil tersebut. Dengan sekuat tenaga Elvan berdiri dan membuka pintu mobil untuk mamanya. Dengan sekuat tenaga dan demi mamanya, Elvan menarik tubuh mamanya.
''Tolong, tolong, tolong," teriak Elvan dengan sekuat tenaga. Salah seorang warga yang kebetulan melewati jalan tersebut, segera berhenti untuk membantu Elvan. Orang tersebut pun segera memanggil warga yang lain dan juga polisi. Kini Bu Maya berhasil di keluarkan dari mobil.
''Mama, bangun, ma. Please wake up, ma. Jangan tinggalin Elvan. Mama janji akan menemani dan menjaga Elvan. Bangun, Ma." Tangis histeris Elvan sambil memeluk mamanya yang bersimbah darah. Ia bahkan lupa, jika dirinya pun terluka. Kasih sayangnya kepada mamanya, membuat Elvan kecil lupa kan rasa sakit.
''Adek tenang ya, saya sudah memanggil polisi dan juga ambulance. Supaya kamu dan Mama kamu segera di bawa ke rumah sakit."
''Terima kasih ya, Pak." Kata Elvan. Elvan kembali mendengar ponsel Mamanya berdering. Elvan segera mengambil ponsel yang tertinggal di dalam mobil. Ada nama papanya di layar ponsel mamanya.
''Ma, bagaimana? kamu sudah berangkat? aku akan menyusul pulang, Ma. Endrew sudah baikan." Kata Pak Tama yang masih berada di kamar Endrew.
''Pa...papa. Mama, Pa. Elvan, Pa." Kata Elvan sembari terisak dalam tangisnya.
''Ka...ka...kamu kenapa, El?" tanya Pak Tama dengan khawatir.
''Awas !" seru Bapak-bapak tersebut sembari menjauhkan Elvan dari mobil yang meledak.
DUARRRRR ! DUARRRRRR ! DUARRRR! Elvan yang terkejut pun, membuat ponsel dalam genggamannya lepas. Elvan yang shock akhirnya pingsan, tenaganya seperti telah habis terkuras, hingga tubuhnya yang terluka tak dapat ia rasa. Sementara Pak Tama di seberang sana begitu terkejut mendengar suara ledakan tersebut.
''Halo, Elvan. Ada apa, nak? bicara sama papa?" mendapati ponsel masih menyala, bapak-bapak yang menolong Elvan pun mengangkatnya.
''Halo, Tuan. Istri dan putra anda sedang mengalami kecelakaan dan mobil yang mereka tumpangi meledak." Mendengar ucapan bapak-bapak tersebut, membuat Pak Tama begitu, shock. Bagai di sambar petir di siang bolong. Ulu hatinya terasa nyeri dan dadanya terasa sesak. Air mata tak mampu lagi ia bendung.
''Mas, ada apa? ada apa dengan mereka?" tanya Elisa dengan panik.
''Elvan dan Maya kecelakaan. Aku pulang, Elisa." Kata Pak Tama dengan langkah terburu-buru.
''Aku ikut."
''Tapi Endrew?"
''Endrew, ikut juga, Pa. Endrew ingin menemani Elvan."
''Baiklah, ayo kita berangkat." Air mata Pak Tama pun menetes membasahi pipinya. Begitu juga dengan Elisa yang tidak kalah khawatir. Elisa pun menangis dan merasa menyesal atas ini semua. Begitu pula dengan Endrew yang saat itu berusia tiga belas tahun. Seandainya, saja ia tidak sakit dan tidak membuat Papanya untuk bersamanya. Pasti hal buruk ini tidak akan terjadi. Ada setumpuk penyesalan di dalam hati Pak Tama karena telah menolak Elvan dan Mamanya.
__ADS_1
FLASHBACK OFF