Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"

Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"
EPS. 39 Kagum


__ADS_3

''Terima kasih ya, Ren. Kamu sudah mengantar kami ke rumah sakit.'' Kata Alia pada Rendra sesampainya dari rumah sakit. Kini mereka telah dalam perjalanan menuju rumah Alia.


''Sama-sama Alia. Oh ya bagaimana kalau kita makan siang bersama di cafe milikku.''


''Tidak usah, Ren. Kami sudah merepotkan kamu.''


''Tidak Alia. Kamu tidak merepotkan. Aku senang bisa membantu kalian. Om, apa Om bersedia makan siang bersama di cafe kami?''


''Bukanya menolak tapi kami tidak mau merepotkan kamu.''


''Tidak sama sekali, Om. Andra pasti senang kalau kalian datang dan mau mampir.''


''Baiklah kalau begitu. Kita akan mampir. Tidak apa-apa kan Alia?''


''Kalau Ayah ingin kita mampir, tidak apa-apa.'' Kata Alia yang sebenarnya ingin menolak. Karena ia mempunya janji pada Elvan. Sesampainya di cafe, Rendra menyambut Alia dan Ayahnya dengan sangat hangat. Bahkan Rendra sendiri yang menuliskan dan memesankan menu untuk Alia dan Ayahnya.


''Ren, gimana Andra? dia tidak membuat masalah kan?''


''Tenang saja, Alia. Andra sangat rajin. Barusan aku melihatnya di dapur dan dia sedang membantu mencuci piring.''


''Oh ternyata kamu ya Bosnya Andra yang sering memberi Andra makanan itu,'' kata Pak Samir.


''Iya, Om. Maafkan saya ya kalau saya lancang. Saya tidak bermaksud apa-apa. Saya berniat baik.''


''Iya tidak apa-apa. Justru kami yang berterima kasih karena kamu sudah baik kepada kami.'' Kata Pak Samir pada Rendra. Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang. Dan kebetulan Andra lah yang membawanya.


''Ayah, Kakak! Kalian disini?'' ucap Andra sambil meletakkan beberapa makanan di atas meja mereka.


''Iya, Andra. Kakak habis dari rumah sakit mengantar Ayah kontrol kesehatan dan Rendra yang mengantarnya. Terus kita di paksa makan siang disini.'' Kata Alia pada adiknya. Andra lalu mencium punggung tangan Ayah dan Kakaknya.


''Maaf ya, Andra. Kalau aku memakasa mereka makan disini. Kasihan Ayah kamu juga sudah saatnya makan siang.''


''Tidak apa-apa, Pak. Terima kasih karena Pak Rendra sudah baik sama keluarga saya.''


''Tidak usah bilang terima kasih, Andra. Aku senang melakukannya.''


''Kalai begitu saya permisi, Pak. Kak Alia, Ayah, Andra lanjut kerja dulu ya.''

__ADS_1


''Iya, nak. Jangan kecewakan nak Rendra ya, kerja yang rajin,'' pesan Pak Samir pada Andra.


''Pasti, Yah. Andra akan bekerja dengan sungguh-sungguh.'' Andra kemudian segera kembali menuju dapur.


''Silahkan Om, Alia, dicicipi.'' Kata Rendra.


''Iya, nak Rendra.'' Kata Pak Samir. Mereka pun lalu makan siang bersama. Sementara Rendra hanya diam sembari mengamati Alia yang sedang makan. Pak Samir juga memperhatikan Rendra yang diam-diam memperhatikan putrinya.


''Sepertinya nak Rendra menyukai Alia. Putriku rupanya sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan sholeha. Tapi aku tetap berharap bisa memenuhi wasiat Bunda kamu, Alia,'' gumam Pak Samir dalam hati.


''Gimana Alia? Apa enak?'' tanya Rendra.


''Ini enak kok, Ren. Tapi menurut aku bumbunya kurang sedikit lagi biar rasanya lebih nendang lagi.''


''Oke, aku akan memberitahu chef ku.''


''Tapi selera orang kan berbeda, Ren. Ini kan selera aku. Pasti selera mereka sudah pas dengan rasa ini.''


''Iya Al nggak apa-apa kok. Santai saja.'' Sepanjang makan siang, Alia sungguh tidak tenang. Sesekali ia melirik ke arah jam tangannya. Ia harus segera ke rumah Elvan untuk memenuhi janji dan pekerjaannya. Setelah selesai makan, Alia segera mengajak Ayahnya untuk pulang.


''Ayah, kita sudah selesai makan jadi kita harus pulang. Ayah harus istirahat dan Alia ada pekerjaan.''


''Ya udah, aku antar sekalian ya.''


''Tidak usah, Ren. Kita sudah banyak merepotkan.''


''Alia, kita berangkat bersama jadi pulang harus bersama lagi. Kasihan Ayah kamu.''


''Ya udah kalau gitu,'' jawab Alia pasrah. Ia lebih baik mengiyakan daripada harus berdebat dengan Rendra karena ingin menolak tawaran. Rendra segera mengantarkan Alia dan Ayahnya pulang. Rendra melihat wajah Alia dari cermin sunvisornya, namun wajah Alia tampak tidak tenang. Dalam mobil itu hanya ada keheningan. Alia fokus memeluk lengan Ayahnya namun pikirannya ada bersama Elvan.


''Elvan pasti marah besar karena aku belum ke rumahnya. Ini sudah jam satu, aduh bagaimana ini,'' gumam Alia dalam hati.


''Alia kenapa ya? kenapa wajahnya tampak panik sekali? gumam Rendra dalam hati.


...****************...


Sementara Elvan sendiri baru saja sampai di rumahnya. Ia melempar tubuhnya di atas kasur. Ia kemudian melihat jam dinding di kamarnya.

__ADS_1


''Sudah hampir setenga dua tapi Alia kenapa belum datang? pasti dia masih sama tuh cowok,'' kata Elvan pada dirinya sendiri. Elvan lalu beranjak dari duduknya dan mengambil wine di tempat rahasia dalam kamarnya. Elvan kemudian menuangkan wine ke dalam gelasnya. Sembari memegang gelas berisi wine, Elvan menuju teras balkon kamarnya. Mata Elvan terus melihat keluar jalan, berharap Alia segera datang. Akhirnya seseorang yang ia tunggu pun datang. Ia melihat Alia turun dai ojek. Elvan tersenyum saat melihat Alia datang. Ia kemudian meletakkan gelasnya di atas meja dan segera turun ke bawah.


''Den, saya sudah siapkan makan siang,'' kata Bi Minah yang melihat Elvan turun dari kamarnya.


''Gue nggak mau. Makan aja sana, Bi,'' ketusnya.


''Assalamualaikum,'' sapa Alia.


''Waalaikumsalam. Eh Mbak Alia,'' kata Bi Minah.


''Darimana aja lo. Ini udah jam berapa? Elo nggak tahu gue udah lapar. Cepat sana ke dapur,'' ketus Elvan pada Alia.


''Iya, maaf. Ya udah aku ke dapur. Bi, tolong bantu saya ya,'' kata Alia pada Bi Minah.


''Iya, Mbak.'' Bi Minah lalu mengajak Alia ke dapur.


''Mbak, saya sudah menyiapkan makan siang. Tapi Den Elvan nggak mau. Itu lihat di meja makan.''


''Iya, Bi. Saya juga kaget. Padahal di meja makan sudah ada makanan tapi masih juga nggak di makan.'' Kata Alia.


''Dan kenapa malah nyuruh Mbak Alia masak kesini?''


''Saya juga bingung, Bi. Sejak semalam saya bawa makanan ke rumah, Elvan menghubungi saya dan meminta saya untuk memasak untuknya. Dan dia membayar saya, Bi. Dan akhirnya saya terima karena saya butuh uang tambahan untuk biaya pengobatan Ayah dan untuk memenuhi kebetuhan sehari-hari, Bi. Juga kebutuhan adik saya. Saya masih punya tanggung jawab pada adik saya,'' cerita Alia sembari memotong sayuran.


''Memang Ayah Mbak Alia sakit apa?''


''Diabetes, Bi. Dan harus selali kontrol bahkan harus melakukan suntik insulin untuk menstabilkan kada gula dalam darahnya. Hanya itu yang bisa saya lakukan untuk Ayah. Karena hanya Ayah dan adik laki-laki yang saya miliki. Terkadang saya takut dan khawatir kalau tiba-tiba kadar gula Ayah saya naik dan hal itu bisa menyebabkan komplikasi. Karena penyakit itu tidak bisa di sembuhkan, Bi. Penyakit itu hanya bisa di cegah dengan menstabilkan kadar gulanya.''


''Ya Allah, Mbak Alia. Mbak Alia masih muda tapi tanggung jawab Mbak Alia sangat berat.''


''Sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai anak, Bi. Mau siapa lagi kalau bukan saya. Tapi saya ikhlas kok, Bi. Saya bahagia dengan keadaan saya sekarang.''


''Semangat ya, Mbak Alia. Selain cantik, Mbak Alia juga baik, sholeha dan pintar masak. Pasti banyak sekali laki-laki di luar sana yang ingin menjadikan Mbak Alia istri.''


''Ah, Bibi bisa saja. Kalau urusan jodoh biar Allah yang mengaturnya, Bi.''


''Bibi doain, semoga Mbak Alia bisa medapatkan suami yang sholeh, baik dan bertanggung jawab ya.''

__ADS_1


''Amin. Makasih ya, Bi doanya.'' Ternyata diam-diam Elvan menguping pembicaraan Alia dan Bi Minah. Elvan semakin salut dengan sikap Alia. Jaman sekarang masih ada gadis seperti Alia.


Bersambung.... Jangan lupa like, komen dan vote ya, makasih 🙏😘


__ADS_2