
Di kamarnya, Alia sedang memandang sebuah foto. Foto ia bersama Bundanya dan ada seorang wanita bersama seorang anak laki-laki di sana. Mereka berempat sedang foto bersama di sebuah taman.
''Bunda, Alia kangen sama, bunda. Bunda, Alia belum menemukan sahabat bunda dan juga anaknya. Apalagi setelah kepergian, bunda, ayah mengajak kita untuk pindah rumah. Memangnya apa yang harus Alia katakan kalau Alia bertemu dengan sahabat Bunda, Tante Maya. Bagaimana mungkin, Bunda dan Tante Maya sepakat menjodohkan Alia dengan anak Tante Maya. Sedangkan kami hanya bertemu sekali ini saja. Bahkan foto ini adalah pertemuan pertama kami. Apakah bunda yakin jika anak tante Maya, tumbuh menjadi pria yang sholeh untuk Alia? sedangkan pertemuan ini terjadi saat sepuluh tahun yang lalu. Alia masih kecil dan ingatan Alia belum kuat. Lalu, apa anak Tante Maya tahu, jika dia akan di jodohkan dengan Alia? kalaupun tahu, apa dia mau? sedangkan kami belum pernah bertemu sama sekali." Gumam Alia sembari meraba foto yang sedang ia pegang.
''Nak, kamu sedang apa?" tanya Pak Samir yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Alia.
''Eh, Ayah bikin kaget saja."
''Habis pintunya tadi terbuka sedikit terus ayah melihat kamu bicara sendiri. Memangnya ada apa?'' tanya Pak Samir dengab lembut. Alia lalu memberikan selembar foto itu pada ayahnya.
''Ayah tahu ini?" tanya Alia.
''Oh ini kan sahabat bunda. Namanya tante Maya dan ini anak laki-lakinya. Dulu mereka berdua sepakat, saat anak-anak sudah tumbuh dewasa, akan menjodohkan kalian. Karena tante Maya sangat sayang sekali sama kamu. Dan tante Maya percaya sekali kalau nanti kamu akan tumbuh menjadi gadis yang cantik dan sholeha. Tapi sayang, Bunda kamu pergi terlalu cepat. Bahkan ayah sendiri tidak tahu kabar dari tante Maya. Nomor handphone pun tidak bisa di hubungi. Bahkan saat Bunda kamu meninggal, tante Maya juga tidak hadir. Ayah tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi." Cerita Pak Samir pada Alia.
''Ayah, seandainya tante Maya dan anaknya kemari tiba-tiba untuk meneruskan perjodohan ini, apa ayah akan menyetujui dan merestui Alia?" tanya Alia dengan ragu-ragu.
''Ayah akan menjalankan wasiat Bunda kamu, nak. Meskipun ini terkesan kuno tapi ini adalah wasiat Bunda yang benar-benar harus di jalankan. Ayah yakin sekali, Bunda tidak sembarangan untuk menyetujui perjodohan ini. Meskipun Ayah sendiri belum pernah bertemu dengan anaknya tante Maya."
''Lalu apa kita harus mencarinya, Yah? atau sampai berapa lama Alia harus menunggu?''
''Kita tidak usah mencarinya, nak. Dan kamu tidak perlu menunggu. Mintalah pada Allah, sujudlah di sepertiga malam mu, nak. Nanti Allah akan memberikan petunjuk untuk kamu. Semua jawaban di masa lalu ini cepat atau lambat akan terjawab."
''Bagaimana kalau ternyata anak laki-laki itu miskin?"
__ADS_1
''Apalah arti sebuah harta, nak. Harta bisa di cari. Lebih baik miskin harta dari pada miskin hati dan nurani."
''Tapi bagaimana kalau sebaliknya, Yah. Jika anak laki-laki itu benar-benar kaya raya tapi nggak ada akhlak, nggak paham agama bahkan bad boy gitu, yah?"
''Pertanyaan kamu mendetail sekali. Kalau memang seperti itu, itu tugas kamu untuk membimbingnya. Tugas kamu untuk membuat dia lebih paham agama, untuk membenahi akhlaknya dan mengajak dia supaya bisa menjadi good boy. Selama dia tidak memilik catatan hitam di kantor polisi, bagi ayah baik-baik saja. Manusia itu tidak ada yang sempurna. Keburukan pun bisa berubah menjadi kebaikan. Begitu juga sebaliknya, terkadang kebaikan bisa berubah menjadi keburukan. Itu sudah rumus kehidupan, nak.''
''Terus, yah , bagaimana kalau ternyata anak laki-laki sudah tiada? atau ternyata orang tuanya melupakan perjodohan itu dan malah menikahkan anaknya, bagaimana nasib Alia? Alia nanti malah jadi perawan tua."
''Hussss jangan bicara seperti itu. Makanya Ayah bilang supaya kamu bersujud di sepertiga malam. Memohon petunjuk sama Allah. Ayah yakin kamu akan menemukan jawabannya, nak. Sekarang kamu istirahat ya." Ucap Pak Samir sambil mengusap lembut kepala Alia.
''Iya, Ayah. Terima kasih ya, Ayah. Ayah juga istirahat ya."
''Iya, nak."
...****************...
''Kenapa Mama pergi ninggalin El begitu saja." Tangis Elvan di dalam kamarnya sembari memeluk foto Mamanya.
''Cuma Mama yang mengerti, El. Wanita itu telah merebut Papa dari El. Dan juga anak laki-laki dari wanita itu, merebut semuanya dari, El. El, butuh Mama." Sejak kepergian Mamanya karena kecelakaan, hidup Elvan benar-benar merasa kesepian. Terlebih sejak Elvan tahu, Papanya membawa wanita lain untuk menggeser posisi, Mamanya. Elvan mengusap air matanya, lalu pergi menuju club sebagai pelampiasannya. Saat ia turun dari kamarnya, di saat bersamaan Endrew datang.
''Mau kemana El?" tanya Endrew.
''Bukan urusan elo," jawab Elvan ketus.
__ADS_1
''Sampai kapan kamu kayak gini terus, El?" teriak Endrew. Namun Elvan tidak mempedulikan suara Endrew dan berlalu begitu saja. Endrew menghela nafas panjang dan merasa frustasi dengan sikap adiknya.
''El, sampai kapan kamu seperti ini? sampai kapan kamu terus membenciku? dan sampai kapan kamu akan menganggapku sebagai kakak?" gumam Endrew. Endrew akhirnya memutuskan untuk mengikuti Elvan pergi. Seperti dugaan Endrew, Elvan pergi ke club malam. Endrew duduk dari kejauhan untuk memantau Elvan. Elvan menenggak minuman sesuka hatinya dan menari bersama para gadis. Elvan tertawa lepas namun sesungguhnya, hati Elvan begitu kesepian.
...****************...
#FLASHBACK 11 Tahun lalu
Disaat usia Elvan delapan tahun dan Endrew tiga belas tahun.
Malam itu di kamarnya, Bu Maya sedang menelpon suaminya.
''Mas, kamu beneran tidak bisa pulang? besok adalah acara kenaikan kelas Elvan. Dia ingin sekali kamu datang."
''Aku juga ingin pulang, sayang. Tapi Endrew sedang sakit dan dia butuh aku.'' Jawab Pak Tama di seberang sana yang tengah menemani Endrew terbaring sakit di atas tempat tidur. Di sebuah rumah yang sederhana. Berbanding terbalik dengan kehidupan Bu Maya dan juga Elvan.
''Mas, kamu sudah satu Minggu di sana. Dan baru sehari kamu di sini tapi sekarang kamu balik lagi kesana."
''Mau gimana lagi, Endrew sedang sakit. Aku tidak tega meninggalkan Elisa seorang diri. Kamu tahu sendiri, Elisa yatim piatu dan tidak punya siapa-siapa. Besok kamu saja ya yang temani, Elvan. Aku janji, setelah Endrew sembuh, aku akan pulang dan menebus hari yang aku lewati bersama kalian. Aku mohon pengertian kamu."
''Baiklah, Mas kalau begitu. Salam untuk Elisa dan semoga Endrew cepat sembuh."
''Iya, terima kasih. Aku mencintaimu." Kata Pak Tama. Maya memilih memutuskan sambungan teleponnya daripada harus membalas ucapan cinta suaminya. Setiap kali mendengar ucapan cinta dari suaminya, bukan bahagia yang ia rasakan tapi justru perih yang amat terasa.
__ADS_1
...next........