
Senyum manis Elvan pagi ini.
Hari ini Elvan berangkat lebih awal dari biasanya. Bahkan di kampus pun baru beberapa mahasiswa yang datang. Elvan segera menuju basecamp kampusnya. Leon dan Fandi pun belum datang. Elvan kemudian mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesab pada Alia.
''Gue udah di basecamp kampus. Cepetan berangkat, gue lapar!" tulis Elvan pada pesan yang di kirim untuk Alia. Alia yang sudah berada di atas motor bersama Andra, membuka ponselnya yang berbunyi tanda pesan masuk.
''Hhh, nggak sabaran banget sih anak. Udah ah nggak usah di balas,'' gumam Alia saat melihat pesan dari Alia. Di basecamp Elvan duduk di kursi sofa, ia meraih gitar akustik di sampingnya. Ia lalu memetiknya hingga menghasilkan melodi yang sangat indah. Kemudian Elvan mendengar ponselnya berdering, Elvan begitu antusias mengangkatnya namun saat ada nama Leon di layar ponselnya, membuat Elvan malas.
''Halo, ada apa?'' kata Elvan dengan suara malas.
''Heh, elo dimana? gue ada di depan rumah elo sama Fandi. Tapi kata security elo udah berangkat dan gue nggak percaya.''
''Iya, gue udah di kampus dan udah di basecamp.''
''Serius, elo udah di kampus?''
''Iya lah, masak gue bohong. Ya udah kalau gitu, bye.'' Elvan mengakhiri panggilannya.
''Elvan beneran udah berangkat. Tumben nih anak rajin amat,'' kata Leon pada Fandi.
''Iya ya. Akhir-akhir ini dia juga nggak cerita apa-apa sama kita. Dan misteri dia menghilang saat ujian pun kita tidak ada yang tahu.'' Kata Fandi.
''Ya udah lah, ayo berangkat.'' Kata Leon pada Fandi. Fandi pun menyalakan kembali mesin mobilnya dan segera menuju kampus.
-
Akhirnya Alia pun tiba di kampus. Ia segera menuju basecamp Rich Man, sebelum semua orang tahu.
''Tok tok tok tok! Assalamualaiakum,'' ucap Alia sambil mengetuk pintu. Mendengar suara Alia, Elvan beranjak dari tempat duduknya dan segera membuka pintu.
''Waalaikumsalam,'' jawab Elvan dengan tatapan mata yang begitu dalam pada Alia. Hari in pakaian Alia berbeda dari biasanya, Alia semakin terlihat cantik meskipun dengan gaya casualnya.
''Hei, ini makanannya,'' kata Alia sambil menjetikkan jarinya di hadapn Elvan.
''Eh, eh, sorry. Elo cantik banget hari ini.'' Puji Elvan malu-malu.
''Udahlah, pujian kamu itu adalah cacian untukku. Ya udah ini ya makanannya, sama air mineralnya juga.''
__ADS_1
''Ayo masuk!" kata Elvan.
''Nggak ah. Nanti bisa timbul fitnah kalau cuma berdua saja disini. Oh ya mana uanganya.''
''Iya sebentar.'' Elvan lalu masuk ke dalam sebentar untuk mengambil tasnya. Ia kemudian mengambil amplop berwarna coklat.
''Ini sesuai yang elo minta. Jangan lupa nanti siang.''
''Kamu minta di masakin apa?''
''Nanti pulang kampus, gue tunggu di rumah.''
''Oh ya sebelumnya maaf kalau sandwich itu isinya bukan daging. Aku sama sekali nggak ada uang untuk beli daging. Jadi aku ganti dagingnya dengan tempe. Aku buat patties dari tempe.''
''Tempe? emang bisa? emang enak? aman nggak? nggak bikin sakit perut kan? atau bikin keracunan?"
''Sssstttttt,'' kata Alia sambil mengangkat jari telunjuknya di hadapan bibir Elvan. Seketika jantung Elvan seperti berhenti berdetak, padahal telunjuk Alia sama sekali tidak menempel pada bibir Elvan.
''Coba aja dulu. Dasar bawel! Aku pergi ya, makasih. Assalamualaikum,'' pamit Alia. Alia pun segera pergi meninggalkan basecamp Elvan.
''Elvan, elo kenapa? kenapa dada ini tiba-tiba sesak gini? huh, huh, huh,'' kata Elvan sembari mengatur nafasnya. Elvan segera menutup pintu basecampnya. Ia kemudian membuka kotak makan yang berisi sandwich pesanannya.
''Mmmm wangi banget. Penasaran gue gimana rasanya.'' Kata Elvan sembari mencium aroma sandwich itu. Elvan kemudian mencobanya dengan menggigit di ujungnya.
...****************...
''Alia,'' panggil Rendra.
''Hei, Ren. Kamu baru datang?''
''Iya. Aku hampir nggak ngenalin kamu. Aku pikir bukan kamu. Kami hari ini beda banget, kamu semakin cantik,'' puji Rendra.
''Kamu ini bikin aku besar kepala aja, Ren.''
''Beneran. Kamu adalah salah satu ciptaan Allah yang paling indah dan cantik.''
''Rendra, kamu berlebihan,'' kata Alia yang tersipu malu.
''Nggak berlebihan. Karena kamu memang cantik. Oh ya kaki kamu gimana?''
__ADS_1
''Udah mendingan kok. Lusa mungkin saatnya lepas perban.''
''Ya udah lusa aku antar kamu ke rumah sakit ya. Tapi jam berapa kamu ke rumah sakit?''
''Nggak ngrepotin kamu, Ren? Insya Allah jam sembilan pagi aku ke rumah sakit.''
''Nggak kok. Aku nggak merasa kerepotan. Oh ya gimana kalau nanti kamu mampir ke cafe aku. Kamu belum pernah lho mampir.''
''Besok aja ya. Aku nanti setelah jam kuliah selesai, mau ke rumah sakit. Mau antar Ayah kontrol.''
''Ya udah kalau gitu aku anterin kamu.''
''Jangan, Ren. Aku nggak mau ngrepotin kamu.''
''Al, kita temenan dan dekat udah lama. Jangan buat aku menjauhi kamu. Aku akhir-akhir ini bahkan merasa jauh dari kamu.''
''Mungkin karena kamu juga semakin sibuk ngurus cafe. Makanya kamu merasa seperti itu.''
''Jujur, aku merindukan kamu, Al. Perasaanku semakin sulit aku tahan. Aku ingin sekali segera meminangmu.'' Ucapan Rendra sungguh membuat Alia terkejut. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Rendra.
''Tapi Ren, kita sudah sepakat untuk meyakinkan hati dan memantaskan diri masing-masing. Aku masih memiliki tanggung jawab pada Andra.''
''Apa kamu masih menyimpan rasa untukku, Al?''
''Iya. Rasaku masih sama dan tidak berubah, Ren. Saat ini kamulah yang terbaik.'' Kata Alia sembari memberikan senyuman pada Rendra.
''Aku bahagia banget mendengar ucapan kamu, Al. Aku sudah membayangkan bagaimana nanti kalau kita menjadi istri.''
''Kamu jangan berfantasi aneh-aneh ya tentang aku.''
''Nggak lah. Ya udah ke kelas yuk.''
''Iya.''
''Oh ya, nanti aku tunggu kamu di parkiran ya selesai jam mata kuliah pertama.''
''Iya, Ren. Makasih ya.''
Rendra
__ADS_1
bersambung....