Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"

Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"
EPS. 45 Menyangkal Rasa


__ADS_3

''Elvan! berhenti!" teriak Alia memanggil Elvan. Namun langkah Elvan terlalu panjang untuk di jangkau Alia yang masih menggunakan kruk. Alia melihat Elvan berjalan menuju basecampnya dan Alia pun mengikutinya.


BRUAK! Suara Elvan membanting pintu dengan keras, membuat Fandi dan Leon benar-benar kaget.


''Apaan sih elo, El?'' kata Fandi dengan suara meninggi. Elvan tidak menjawab dan membanting tubuhnya di atas kursi sofa.


''Elo kenapa lagi? sumpah deh gue pusing kalau lihat elo kayak gini,'' timpal Leon.


''Elvan!" suara Alia yang masuk begitu saja ke basecamp Rich Man, sontak membuat Leon dan Fandi terkejut.


''Alia!" seru Fandi dan Leon dengan kompak.


''Maaf ya, aku langsung nylonong masuk. Habis tadi pintunya ke buka,'' kata Alia.


''Elvan! aku mau kok bantu kamu. Gimana kalau kita ke rumah kamu sekarang dan sekalian aku buatin makan siang?'' kata Alia yang berusaha menghibur Elvan.


''Wah, apa kalian pacaran?'' selidik Leon.


''El, elo kok diam aja kalau dekat sama Alia. Pakai acara masakin segala lagi. Wah-wah benar-benar the king of playboy ya elo,'' kata Fandi yang sangat terkejut dengan perkembangan hubungan Elvan dan Alia.


''Apaan sih? gitu namanya temen, malah jatuhin reputasi gue,'' gerutu Elvan.


''Nggak usah malu kali, El. Kamu mau playboy atau apa itu urusan kamu lah. Begitu juga sama kalian. Siapa sih yang nggak kenal kalian di kampus ini?'' kata Alia.


''Jadi kamu nggak keberatan nih sama kita yang kayak gini?'' celetuk Leon.


''Nggak kok. Aku juga belum tentu lebih baik dari kalian kan?'' Mendengar ucapan Alia, sedikit menenangkan hati Elvan.


''Elo beneran serius mau bantuin gue? ya meskipun elo tahu gue brengsek.'' Kata Elvan.


''Sejauh ini nggak masalah. Karena kalian juga meghargai aku dan nggak pernah kurang ajar sama aku. Tapi awas aja kalau kalian berani kurang ajar. Kalian tinggal pilih tangan kanan masuk rumah sakit atau tangan kiri ke tempat peristirahatan terkakhir?''

__ADS_1


''Kamu galak juga ya. Aku pikir kalem,'' seloroh Fandi.


''Ya udah ayo, El. Kita langsung ke rumah kamu. Kan sebentar lagi juga makan siang. Sekalian mampir ke toko buku ya?''


''Oke baiklah.'' Jawab Elvan yang kembali menemukan semangatnya.


''Kalau gitu kita ikut juga boleh kan?'' sahut Leon.


''Boleh kok. Ayo aja. Makin bagus kan ramai-ramai.''


''Tapi elo berdua bawa mobil sendiri. Alia sama gue. Ayo Al! ajak Elvan sembari meninggalkan basecamp. Alia pun mengekor Elvan.


''Wah, kayaknya ada udang di balik batu nih. Ada rahasia di antara mereka,'' gumam Fandi pada Leon.


''Iya nih, gue juga yakin. Terutama si Elvan. Moodnya langsung bagus kalau ketemu sama Alia.''


''Siap-siap ikhlasin mobil kita, Le.''


''Yoi, Fan. Tapi nggak apa-apalah. Kita kan harus sportif.'' Kata Leon.


''Sama, gue juga penasaran.''


...****************...


Sesampainya di toko buku, Alia sibuk mencari buku yang dia inginkan. Elvan selalu berada di sisi Alia untuk menemaninya memilih buku. Karena Alia sendiri masih menggunakan kruk untuk berjalan. Sementara Fandi dan Leon membuntuti mereka dari belakang.


''Nyari buku apa sih?'' tanya Elvan.


''Buku buat bacaan lah. Kamu coba deh sekali-kali baca buku seperti ini,'' kata Alia sambil menunjukkan sebuah buku bertema cinta dan islami pada Elvan.


''Males ah, gue malas baca buku. Buang-buang waktu aja,'' ketus Elvan.

__ADS_1


''Ya udah kalau gitu.'' Kata Alia yang hanya bisa meghela nafas panjang. Setelah cukup lama di toko buku, mereka segera menuju rumah Elvan.


''Elo cepetan masak ya. Gue udah lapar.'' Kata Elvan pada Alia.


''Iya-iya,'' jawab Alia yang segera menuju dapur. Disisi lain Fandi dan Leon merasa kasihan pada Alia karena Elvan memperlakukan Alia seperti pembantu.


''Kalian berdua, ayo ke atas! ngapain bengong!" kata Elvan pada kedua sahabatnya yang menatap Alia menuju dapur.


''Oke, bro!" kompak Fandi dan Leon. Elvan mengajak Fandi dan Leon ke ruangan tengah yang ada di lantai atas. Mereka kompak merebahkan tubuh mereka di atas kuri sofa yang panjang. Karena disana terdapat tiga kursi sofa yang memang berukuran cukup besar dan disana juga ada televisi. Ruangan itu selalu menjadi ruang favorit untuk Elvan dan kedua sahabatnya.


''Eh, elo jangan perlakukan Alia kayak gitu lah. Kasihan dia, udah kakinya kayak gitu,'' kata Leon.


''Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian berdua sih? kenapa sampai Alia masak di rumah elo dan Alia mau dekat sama elo?'' tanya Fandi yang begitu penasaran pada sahabatnya itu.


''Jangan salah, Alia gue bayar lagi. Gue juga merasa bersalah sama dia, makanya Alia gue kasih pekerjaan,'' kata Elvan sambil menuang wine ke dalam gelas.


''Merasa bersalah? emangnya elo habis ngapain Alia?'' tanya Fandi.


''Kaki Alia kayak gitu karena gue. Bukan karena gue juga sih, itu karena dia nolongin si Chelsea pas Chelsea mau ambil bola. Kebetulan bolanya menggilinding sampai ke jalan depan. Soalnya beberapa waktu lalu Chelsea sempat di titipin disini.''


''Oh jadi itu alasannya. Terus kenapa dia mau masakin elo?'' timpal Leon.


''Jujur aja, pertama kali gue ngrasain masakan Alia, gue ke ingat sama almarhum nyokap gue. Entah kenapa rasa masakannya mirip sama rasa masakan nyokap. Dan makan, makanan buatan Alia bisa ngobati sedikit rasa kangen gue sama nyokap. Jadi ya gue suruh aja Alia masakin gue setipa hari. Sekalian biar dia dekat sama gue dan gue menang taruhan,'' cerita Elvan dengan senyum tipisnya.


''Semakin mulus aja dong jalan elo dekat sama Alia. Nggak salah kalau elo jadi play boy.'' Kata Leon sambil memberikan tepuk tangan pada Elvan.


''Soalnya deketen cewek kayak Alia, itu harus pakai hati. Jangan agresif dan keep calm,'' timpal Fandi.


''Siap-siap aja, mobil kalian buat gue,'' kata Elvan dengan tawanya.


''Emang brengsek elo ya,'' timpal Leon terkekeh.

__ADS_1


''Jangan panggil gue Elvan kalau nggak bisa dapetin cewek kayak Alia. So, udah tahu kan kehebatan gue?'' kata Elvan dengan sombong.


Bersambung....


__ADS_2