
Assalamualaikum, suamiku. Suamiku, mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sudah tidak ada lagi disisimu tapi percayalah aku selalu bersama kalian. Sudah secantik dan setampan apa anak-anak kita? Maafkan aku yang meninggalkanmu sendirian untuk mengurus mereka. Suamiku, seperti kesepakatan kita dulu, berikan surat ini pada Alia saat usianya menginjak dua puluh tahun. Aku dan Maya sudah sepakat untuk menjodohkan anak kita. Aku ingin silaturahmi dan hubunganku dengan Maya bisa terus terjalin meskipun aku dan Maya sudah tidak ada lagi di dunia. Maya berjanji kalau anak-anak kita sudah berusia dua puluh tahun, Maya akan membawa putranya untuk Alia. Tolong sampaikan maafku pada Maya karena aku tidak sempat mengucapkan salam perpisahan padanya. Aku harap Maya tidak lupa dengan janjinya. Aku berharap Maya juga baik-baik saja dan salam keadaan sehat-sehat saja. Besar sekali keinginan Maya untuk meminang putri kita Alia. Begitu pula denganku, sangat ingin menikahkan Alia dengan putra Maya. Suamiku, nikahkanlah mereka berdua, itulah permintaan terkahirku. Aku tidak menginginkan apapun selain menjodohkan Alia dan dengan putra Maya. Dan untuk Andra, putra kecilku, aku ingin dia tumbuh menjadi lelaki yang tampan, santun, sholeh dan memiliki budi pekerti yang luhur. Kamu harus sehat dan kuat untuk anak-anak kita ya, suamiku. Siapa lagi kalau bukan kamu yang menjaga mereka. Cintaku untuk kalian, akan aku bawa sampai mati. Aku mencintaimu suamiku, jagalah anak-anak kita.
Hati Pak Samir terasa sakit dan sesak membaca surat wasiat dari almarhumah istrinya. Pak Samir pun tak kuasa menahan air matanya.
''Nita, bagaimana aku mencari mereka? Sementara aku dan anak-anak sudah lama pindah kesini. Bahkan alamat rumah Maya yang kamu berikan pun nihil. Rumah itu sudah tidak berpenghuni. Akupun tidak tahu bagaimana kabar Maya. Aku tahu bagaimana eratnya persahabatan kalian dan aku pun selalu menjadi saksi air mata Maya, saat dia menceritakan kehidupan rumah tangganya dengan Adhit. Bahkan kita menjadi saksi pertengakaran Maya dan Adhit dulu. Bagaimana juga dengan kabar istri kedua Adhit dan putra mereka? Ya Allah, kemana mereka? Bagaimana aku bisa menemukan mereka? Apa hubungan Maya dan Adhit baik-baik saja? Kenapa mereka menghilang begitu saja? Apa Adhit tahu tentang rencana Maya untuk menjodohkan Alia dan putranya. Aku bahkan hanya tahu wajah putra Maya lewat foto itu. Aku pun tidak tahu, bagaimana wajah putra Maya sekarang? Sebelas tahun berlalu, bagaimana keadaan mereka juga aku tidak tahu. Bahkan Maya pun tidak hadir ke pemakaman kamu. Apakah kamu tidak menceritakan penyakitmu pada Maya? Semoga aku bisa menjalankan wasiat kamu Nita, istriku.'' Kata Pak Samir dalam hati, sembari menatap wajah almarmahumah istrinya dalam sebuah bingkai foto.
...****************...
''Andra, aku mau ikut ke cafe kamu,'' kata Kinar.
''Kinar, aku kan mau kerja. Ngapain sih kamu ikutan segala.''
''Aku juga beli kali.''
''Kinar!" panggil Rendi.
''Tuh pacar kamu datang.'' Kata Andra.
''Hei sayang. Ada apa?'' kata Kinar.
''Miss you so much. Akhirnya aku bisa ketemu kamu juga setelah aku pulang dari Singapura.''
''Ini siapa?''
''Oh ini Andra. Aku sekarang satu kelas sama dia. Biasalah nilai ku jeblok jadi di suruh temenan sama anak yang pintar. Dia ini pintar banget lho, murid terbaik.''
''Eh thank you ya udah bantuin cewek gue.'' Kata Rendi sambil menepuk bahu Andra.
__ADS_1
''Sama-sama.''
''Kamu juga belajar dong sama Andra, biar pintar juga.'' Kata Kinar.
''Alah ngapain sih, Kinar. Nanti waktu lulus kehidupan aku udah terjamin, iya nggak? Lagian kamu nurut juga sama guru kamu itu.''
''Gimana nggak nurut? Nanti fasilitas aku di ambil sama Papa dan Mama.''
''Maaf, aku duluan ya.'' Pamit Andra.
''Tunggu!" Kata Kinar.
''Ren, gimana kalau kita nongkrong di cafe tempat Andra kerja. Ajak yang lain juga. Lumayan lho makanannya.''
''Oh, jadi elo kerja? Kasihan banget hidup elo ya.'' Sindir Rendi.
''Songong banget tuh anak. Aku nggak suka ya kamu dekat-dekat sama dia,'' kata Rendi dengan geram.
''Kamu juga sih ngomongnya gitu. Udah lah nggak apa-apa, asal fasilitasku nggak di ambil sama Papa. Jadi please, kamu jangan kayak gitu.''
''Baiklah sayang. Ya udah aku mau ke cafe dia. Sekalian ajak yang lain ya.''
''Makasih ya sayang,'' kata Kinar sambil memeluk Rendi. Dalam perjalanan menuju cafe dengan motor sederhananya itu, Andra merasa sungguh nelangsa.
''Kenapa mereka hanya bisa menghina dan memandang rendah kaum lemah seperti aku? Aku bangga dengan apa yang aku lakukan. Aku juga bahagia dengan hidupku yang sederhana ini. Aku akan membuktikan kalau aku mampu dan bisa menjadi orang yang sukses,'' gumam Andra dalam hati dengan tekat yang bulat. Sesampainya di cafe, Andra segera bersiap ganti baju dan siap untuk bekerja. Tak berselang lama, Kinar bersama Rendi dan teman-temannya datang ke cafe tempat Andea bekerja.
''Andra!" panggil Kinar sambil melambaikan tangannya. Andra yang mendengar panggilan Kinar pun segera menghampiri meja Kinar sambil membawa daftar buku menu dan sebuah nota untuk menulis pesanan.
__ADS_1
''Silahkan!" kata Andra.
''Ya ampun Andra, kamu kaku banget sih.'' Kata Kinar. Andra pun hanya tersenyum mendengae ucapan Kinar.
''Gue mau pesen nasi goreng, minyaknya jangan banyak-banyak, kecapnya dikit aja soalnya gue nggak suka manis sama telurnya pakai telur mata sapi. Minumnya gue mau americano no sugar, no creamer dan ice nya yang banyak,'' kata Rendi yang sengaja membuat Andra kesulitan untuk mencatat pesanannya.
''Aku steak sama orange juice aja, Ndra,'' kata Kinar.
''Gue mau pesen ayam bakar. Jangan pedes-pedes, gue nggak suka pedes. Nggak usah pakai lalapan. Minumnya gue mau mocca ice yang manis tapi nggak usah pakai susu,'' pesan Nino teman Rendi.
''Duh, kalian pesennya ribet banget sih. Kasihan Andra jadi bingung,'' kata Kinar.
''Ya nggak apa-apa dong. Kan dia emang pelayan disini udah jadi tugas dia dong,'' bantah Rendi.
''Jordan, elo pesen apa?'' sambung Rendi.
''Gue mau sup iga sapi aja tapi jangan asin ya, gue nggak suka asin. Dan jangan sampai kuahnya berlemak, gue lagi diet. Minumnya gue mau jus alpukat tanpa susu dan gula, paham?'' kata Jordan.
''Iya. Silahkan tunggu, pesanan kalian udah aku rekap kok. Permisi.'' Kata Andra. Andra segera menuju dapur untuk memberikan catatan order milik Kinar.
''Kalian ini apa-apaan sih? Nggak biasanya seribet itu kalau pesen,'' kata Kinar dengan tatapan aneh.
''Kamu ini negatif aja. Nggak apa-apa dong, sekalian ngetes dia. Dia orang baik apa nggak? Aku nggak mau aja kalau dia itu kelihatan baik di luar aja. Kalau perlu aku carikan guru privat buat kamu deh. Sekalian aku juga ikutan belajar, gimana?'' kata Rendi yang berusaha membujuk Kinar.
''Terserah kamu aja deh,'' singkat Kinar dengan wajah kesalnya.
Bersambung....
__ADS_1