Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"

Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"
EPS. 82 Mengasingkan Diri


__ADS_3

Elvan menyusuri jalanan tanpa tahu kemana arah yang ia tuju. Sampai akhirnya Elvan memutuskan untuk pergi ke makam Mamanya.


''Mama! Kenapa Mama tinggalin Elvan penuh dengan rasa sakit. Mama, apa benar yang di katakan Papa, Ma? Apapun yang di katakan Papa, tidak seharusnya Papa melakukan pada Mama. Mereka sudah merebut semuanya dari kita, Ma.'' Tangis Elvan pecah di pusara makan Bu Maya. Elvan benar-benar tidak bisa membendung rasa sakit yang selama ini ia pendam bertahun-tahun. Baginya, kenangan masa kecil untuknya hanyalah sebuah kenangan buruk yang terlalu menyakitkan. Hari pun semakin gelap, Elvan melihat sebuah masjid dan entah kenapa hatinya tergerak untuk menuju kesana. Di teras masjid, Elvan menangis sejadinya. Ia duduk di sudut teras masjid sembari memeluk kakinya.


''Assalamualikum, Elvan,'' sapa Alia. Elvan mengangkat wajahnya dan benar-benar terkejut melihat ada di hadapannya. Elvan kemudian menyeka air matanya buru-buru.


''Ka-kamu ngapain disini?''


''Aku pulang kerja lebih awal daripada nggak keburu sholat maghrib, jadi aku mampir aja ke masjid,'' kata Alia yang terpaksa berbohong. Sebenarnya Alia mendapat telepon dari Milka. Milka menceritakan semuanya pada Alia. Bahkan Milka yang meminta tolong Alia untuk mencari Elvan. Karena hanya Alia saat ini yang mampu menenangkan Elvan. Alia pun tak kuasa menahan sedih saat mendengar cerita dari Milka. Ia tidak menyangka kehidupan yang di alami Elvan sangat sulit. Kehidupan mewah dan bergelimang harta, tak sepenuhnya menjadi sumber kebahagiaan seseorang.


''Kamu pulang kok nggak ngabarin aku? apa kamu ada masalah?'' namun pertanyaan Alia tak mendapat jawaban dari Elvan.


''Gimana kalau kita sholat maghrib dulu. Kamu bisa kan? Atau sudah lupa? Gimana mau jadi suami aku kalau kamu nggak bisa sholat? Apa aku pilih Rendra saja ya?'' kata Alia sembari berlalu menuju tempat wudhu. Mendengar ucapan Alia, Elvan semakin kesal. Elvan kemudian beranjak dari duduknya dan mengambil air wudhu. Ia tidak ingin Alia di ambil oleh Elvan. Suasana masjid pun semakin ramia dengan berdatangannya para jamaah. Alia tersenyum ketika melihat Elvan mau ikut sholat mahgrib berjamaah, sekalipun itu di lakukan untuknya. Alia berharap suatu saat nanti Elvan melakukannya semata karena Allah. Elvan yang lupa dengan gerakan sholat dan doa sholat, hanya bisa mengikuti gerakan imam. Namun entah kenapa di sudut hatinya, Elvan menemukan sebuah ketenangan yang sudah lama tidak Elvan rasakan. Selesai sholat, Alia pun bersiap untuk pulang namun panggilan Elvan menghentikan langkahnya.


''Alia, tunggu!"


''Iya, ada apa?''


''Aku ikut kamu.''


''Ikut? aneh kamu ini. Kamu kan punya rumah. Lagian kita bukan muhrim.''


''Maksud aku, di dekat rumah kamu apa ada rumah yang bisa di sewakan? Aku mau tinggal disana.''


''Lalu rumah mewah kamu? apa kamu jual? apa kamu bangkrut karena biaya rumah sakit yang mahal? makanya kamu pergi dari rumah?'' cerocos Alia yang berusaha menghibur Elvan.


''Enak saja. Sudahlah jangan banyak bicara dan jangan kepo sama urusan orang,'' ketus Elvan.


''Oke. Ada sih, cuma berjarak dua rumah aja dari rumah aku. Kebetulan penyewanya sudah pindah. Emang kamu bisa hidup di rumah sempit?'' tanya Alia yang merasa tidak yakin dengan Elvan.


''Bisa! Sudah jangan cerewet, ayo jalan."


''Mobil kamu mana?'' tanya Alia.


''Di bengkel," jawab Elvan dengan kesal. Akhirnya Alia mengajak Elvan untuk menunggu angkot.


''Nggak ada taksi?'' tanya Elvan.


''Udah ini yang paling cepet. Uang aku nggak cukup untuk naik taksi.''


''Kita naik taksi saja,'' kata Elvan.


''Emang kamu punya uang?''


''Banyaklah,'' singkat Elvan.


''Iya lupa. Kamu kan kaya ya, jadi tinggal minta aja.''


''Jangan salah. Sejak SMP aku sudah bisa menghasilkan uang sendiri.''

__ADS_1


''Masak? emang kamu kerja apa?''


''Ada lah. Yang jelas tanpa orang tua aku, aku bisa berdiri sendiri,'' kata Elvan.


''Oh begitu. Hebat kalau begitu.''


''Jelas. Tenang aja, aku nggak nyuri kok,'' lanjutnya. Tak lama kemudian lewatlah sebuah taksi. Mereka berdua segera naik taksi. Disana hanya ada keheningan karena Elvan pun tampak telah tertidur.


''Kasihan kamu, El. Kamu pasti lelah. Lelah hati dan pikiran,'' gumam Alia dalam hati.


...****************...


Sesampainya di rumah Alia, Alia segera mengajak Elvan menemui pemilik rumah.


''Aku pulang dulu ya, El. Kamu istirahat,'' kata Alia.


''Iya kamu juga. Terima kasih kamu udah bantuin aku,'' kata Elvan.


''Iya sama-sama.'' Kata Alia. Tiba-tiba cacing di perut Elvan menangis. Alia yang mendengar cukup keras rintihan di perut Elvan, kemudian tersenyum.


''Kamu lapar?''


''Iya,'' singkat Elvan.


''Ya udah kalau gitu aku pulang dulu buat masakin kamu ya. Tapi kayaknya aku cuma ada atok mie instan saja.''


''Nggak apa-apa, makasih ya.''


''Waalaikumsalam.'' Jawab Elvan.


''Kecil banget nih rumah. Hmmm untunglah kosongnya belum terlalu lama, jadi ya masih terlihat bersih. Mungkin disini akan lebih menyenangkan,'' gumam Elvan dalam hati sembari melihat-lihat isi rumah tersebut. Sementara Alia segera mandi, kemudian segera membuat makan malam. Malam ini hanya ada mie instan dan telur dadar saja.


''Assalamualaikum,'' salam Pak Samir.


''Waalaikumsalam,'' sahut Alia dari dapur.


''Sudah pulang, nak?''


''Sudah, Yah. Hari ini Alia pulang cepat.''


''Gimana kabar nak Elvan? sudah membaik?''


''Sudah kok, Yah. Bahkan sudah boleh pulang.''


''Alhamdulillah kalau begitu.''


''Ayah darimana?''


''Dari rumah Bang Somat, setor uang iuran jaga. Oh ya tadi rumahnya Pak Tejo kok kayak ada orangnya ya, nak? Apa sudah dapat penyewa baru? barusan Ayah lewat kok lampu rumahnya nyala.''

__ADS_1


''Iya, Yah. Elvan yang menyewa disana.''


''Lho Elvan? memangnya kenapa?''


''Lebih baik kita makan malam dulu ya, Yah. Nanti Alia ceritain.''


''Ya sudah kalau begitu. Andra mana?''


''Masih sholat isya', Yah.'' Alia kemudian segera menyiapkan makan malam untuk Ayah dan Andra. Tak lupa ia menyisihkan untuk Elvan.


''Andra, tolong antar makanannya ke rumah Pak Tejo ya.'' Kata Alia.


''Lho ngapain kita kasih Pak Tejo, Kak? Apalagi cuma mie instan begini.''


''Sudah kamu antar aja. Keburu kelaparan anak orang.''


''Iya,iya,'' kata Andra sembari berlalu.


''Sekarang ceritakan semuanya sama Ayah. Apa yang sebenarnya terjadi.'' Kata Pak Samir, saat mereka duduk di meja makan.


''Ayah, kita makan aja dulu ya. Karena ceritanya panjang sekali.''


''Baiklah.'' Kata Pak Samir yang berusaha menuruti putrinya.


Sementara Andra sudah sampai di depan rumah kontrakan Elvan.


''Tok tok tok tok! Assalamualaikum.''


''Waalaikumsalam,'' sahut Elvan sembari berjalan untuk membuka pintu.


''Andra! Mana Alia?''


''Kak Alia di rumah. Oh ya ini dari Kakak.''


''Makasih ya.''


''Sama-sama, Kak. Oh ya Kak Elvan kok pindah kesini?''


''Iya rumah aku lagi di renovasi,'' kata Elvan.


''Oh begitu. Ya udah aku pulang ya, Kak. Assalamualaikum.''


''Waalaikumsalam,'' kata Elvan. Andra pun segera pulang.


''Elvan masih bangun, Ndra?''


''Masih, Kak. Oh ya tadi aku tanya Kak Elvan, kenapa dia tinggal di kontrakan dan kata Kak Elvan rumahnya lagi di renovasi, makanya pindah kesini.'' Kata Andra dengan polosnya.


''Oh jadi itu alasannya. Ya sudah ayo kita makan dulu,'' kata Pak Samir. Alia hanya tersenyum mendengar ucapan adiknya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2