Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"

Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"
EPS. 52 Butuh Kamu


__ADS_3

Elvan benar-benar merasa bersalah atas sikapnya pada Alia. Mabuk berat membuatnya meluapkan segala emosinya. Bahkan ia sampai tega menyakiti Alia. Elvan merasa tidak berhak menghakimi Alia karena perasaan yang aneh dalam hatinya.


''Den Elvan!" suara Bi Minah sambil mengetuk pintu.


''Apa Bi?'' kata Elvan sambil membuka pintu.


''Mbak Alia mana, Den? apa sudah pulang? tapi ini tasnya kok di tinggal?'' kata Bi Minah sambil memberikan tas Alia pada Elvan. Mendengar ucapan Bi Minah, Elvan pun terkejut.


''Oh, mungkin lupa.'' Singkat Elvan.


''Baik, Den. Saya permisi.'' Kata Bi Minah sembari berlalu. Elvan lalu membuka tas Alua. Ada dompet dan ponsel Alia di sana. Dan Elvan menemukan sebuah obat dan resep dari dokter.


''Obat apa ini?'' gumam Elvan. Elvan segera mengambil ponselnya dari sakunya dan mengecek nama obat tersebut.


''Obat sakit kepala, vitamin sama penstabil tekanan darah. Apa Alia sakit?'' gumam Elvan bertanya-tanya. Elvan semakin khawatir dengan Alia. Elvan segera mengambil jaket dan meraih kunci mobilnya. Ia segera pergi untuk mencari Alia. Elvan semakin panik, karena petir mulai menyambar dan hujan mulai turun. Elvan berusaha kuat, sekalipun kepalanya terasa sangat berat karena efek dari mabuk. Elvan sama sekali tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


''Maafin gue, Al. Seharusnya gue nggak kayak gitu,'' gumam Elvan. Setelah berkeliling, Elvan melihat Alia di sebuah masjid yang terletak di pinggir jalan raya. Alia tengah berdiri di teras masjid sembari memeluk tubuhnya. Elvan segera mengambil payung dan berlari menghampiri Alia.


''Alia!" panggil Elvan. Alia begitu terkejut melihat Elvan berada di sana.


''Ngapai kamu kesini?''


''Gue mau minta maaf sama elo. Gue salah, gue mabuk, maafin gue. Sekarang, gue antar elo pulang.'' Kata Elvan yang mendekati Alia dan masuk ke teras masjid.


''Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri,'' ketus Alia


''Ayo Al. Kasihan Ayah sama Andra pasti khawatir, apalagi hujannya deras banget kayak gini. Mereka pasti khawatir,'' bujuk Elvan. Akhirnya Alia pun mau di antar Elvan demi Ayah dan adiknya. Elvan segera mengantar Alia pulang. Di dalam mobil pun hanya ada keheningan. Tak sepatah kata terlontar dari bibir Elvan. Yang tersisa hanyalah penyesalan. Elvan pun memberika tas Alia begitu saja tanpa banyak bicara. Dan Alia pun menerimanya tanpa berucap apapun.


...****************...


Sesampainya di rumah, Pak Samir dan Andra sudah menunggu dengan penuh khawatir. Saat Alia hendak turun dari mobil, tangan Alia gemetar kedinginan dan kesulitan membuka sabuk pengaman.


''Jangan mendekat!" tegas Alia saat Elvan mencoba membantunya membuka sabuk pengaman. Membuat Elvan tersentak dan mengurungkan niatnya. Alia pun kembali berusaha melepasnya namun rasa gemetar dan takut akan sikapnya Elvan, membuat Alia merasa trauma. Sekalipun apa yang Elvan lakukan karena pengaruh alkohol. Elvan segera turun dari mobil dan membawa payung lalu membukakan pintu untuk Alia. Alia pun segera turun dan di payungi oleh Elvan.


''Assalamualaikum,'' salam Alia.


''Waalaikumsalam. Ya Allah nak kamu darimana aja? cepat ganti baju.'' Kata Pak Samir dengan khawatir.

__ADS_1


''Alia masuk dulu Yah,'' kata Alia sembari berlalu.


''Maafkan saya Om. Alia harus pulang dengan basah seperti ini.''


''Ya udah kamu juga masuk dulu. Hujannya deras banget, kamu juga basah,'' kata Pak Samir pada Elvan.


''Iya Kak. Ayo masuk aja,'' sahut Andra.


''Terima kasih. Saya pamit saja. Assalamualaikum,'' pamit Elvan.


''Waalaikumsalam. Ya sudah kalau begitu kamu hati-hati,'' pesan Pak Samir.


''Iya Om.'' Elvan pun segera kembali menuju mobilnya namun kepalanya semakin terasa berat dan pandangannya seperti kabur. BRUK! Elvan pun pingsan saat akan membuka pintu mobilnya. Andra dan Pak Samir pun terkejut. Mereka segera bergegas menolong Elvan dan membawa Elvan ke kamar Andra.


''Nak Elvan, bangun!" kata Pak Samir sambil menepuk lembut tubuh Elvan. Namun Elvan pun tak sadarkan diri.


''Kenapa nih Yah? Apa kita bawa ke rumah sakit ya?'' kata Andra. Pak Samir kemudian mencium aroma alkohol pada tubuh Elvan.


''Seperti bau alkohol? apa Elvan habis mabuk ya? matanya tadi juga merah,'' kata Pak Samir pada Andra.


''Benar Yah, aromanya alkohol. Andra bisa tahu soalnya pernah ada pengunjung yang bawa minuman kayak gitu ke cafe. Terus minta gelas dan es balok sama Andra.''


''Ya sudah kita tinggal saja dulu sampai dia sadar.'' Pak Samir dan Andra segera keluar dari kamar. Alia yang baru saja selesai mandi dan sholat di kamarnya, sangat terkejut saat menengok ke arah luar melihat mobil Elvan masih terparkir di depan halaman rumahnya.


''Ayah, mobil Elvan kok masih disini?'' tanya Alia yang melihat Andra dan Ayahnya keluar bersamaan dari kamar Andra.


''Kak Andra pingsan Kak. Aku sama ayah baru aja bawa Kak Elvan ke kamar,'' jawab Andra.


''Hah? pingsan?'' kata Alia dengan terkejut.


''Iya, nak. Dia pingsan dan Ayah mencium bau alkohol,'' kata Pak Samir dengan pelan.


''Kak Elvan anak baik-baik kan, Kak?'' selidik Andra.


''Iya baik kok. Selama ini nggak pernah kurang ajar sama Kakak,'' sanggah Alia.


''Coba Alia lihat dulu,'' Alia segera menuju kamar Andra untuk melihat Elvan. Alia yang tadinya benar-benar marah dengan Elvan, seketika hatinya luluh saat mengingat cerita hidup Elvan.

__ADS_1


''Elvan, bangun!" kata Alia sambil mengguncang tubuh Elvan. Namun Elvan tetap diam.


''Tumben nih anak nggak bereaksi,'' gumam Alia dalam hati. Alia lalu meletakkan punggung tangannya pada kening Elvan.


''Astaghfirullah, Elvan deman,'' gumam Alia. Alia segera menuju dapur mengambil air untuk menyiapkan kompres. Pak Samir dan Andra melihat sikap Alia yang tampak khawatir.


''Kenapa dengan Elvan, nak?''


''Elvan demam, Yah.'' Jawab Alia sembaru berlalu menuju kamar. Pak Samir dan Andra pun mengikuti Alia menuju kamar.


''Andra, tolong ganti baju Elvan dulu ya. Nanti dia bisa semakin sakit kalau bajunya nggak di lepas,'' pinta Alia.


''Iya, Kak.''


''Ya udah aku keluar dulu ya, kamu cepat ganti pakaian Elvan.'' Alia pun segera keluar. Alia merasa khawatir dan kasihan melihat keadaan Elvan seperti ini. Alia segera menelepon ke rumahnya Elvan, supaya mereka tidak panik.


''Halo, assalamualaikum Bi. Ini Alia.''


''Waalaikumsalam. Iya Mbak ada apa?''


''Elvan ada di rumah saya, Bi. Dia sekarang pingsan dan badannya demam.''


''Ya Allah, Den Elvan. Terus bagaimana keadaannya Mbak?''


''Lagi di ganti baju sama adik saya, Bi. Apa sebelumnya terjadi sesuatu, Bi?''


''Nggak ada kok, Mbak. Sikapnya selalu sama. Mbak, biarkan Den Elvan disana saja dulu ya. Tolong jaga Den Elvan ya, Mbak. Saya yakin saat ini Mbak Alia lah yang di butuhkan Den Elvan,'' pinta Bi Minah dengan tulus.


''Ya sudah Bi, kalah begitu. Apa nggak sebaiknya kita menghubungi Kak Endrew?''


''Tidak usah, Mbak. Yang ada Den Elvan malah semakin marah.''


''Baiklah, Bi. Saya mau buatin minuman hangat dulu untuk Elvan. Assalamualaikum.''


''Waalaikumsalam. Terima kasih ya, Mbak.'' Kata Bi Minah yang mengakhiri panggilan teleponnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2