
ELVAN
Malam itu Elvan mabuk berat dan ia berjalan sempoyongan menuju mobilnya. Namun saat ia membuka pintu mobilnya, Endrew menahan tangan Elvan.
''Ngapan elo di sini, pergi sana!" ketus Elvan.
''Kamu mabuk, El. Kamu nggak bisa seperti ini. Bahaya!"
''Urus diri elo aja. Nggak usah urusin hidup gue." Kata Elvan. Endrew lalu mendorong Elvan dan mendudukkan Elvan di bangku belakang. Endrew lalu mengambil alih kendali kemudi. Elvan yang sudah mabuk berat, tidak sadarkan diri, ia terkapar di jok belakang dengan penampilan yang berantakan dan bau alkohol.
''Apa kamu pikir aku bahagia, El? Melihatmu seperti ini, semakin membuatku merasa bersalah." Gumam Endrew dalam hati. Sesampainya di rumah, Endrew menggendong Elvan di punggungnya lalu membawa Elvan ke kamarnya. Endrew melepas sepatu lalu menyelimuti, Elvan.
''Drrrtt drrtt drrrttt." Ponsel Endrew yang berada di saku celananya bergetar. My Wife. Nama kontak Milka di ponsel Endrew.
''Sayang, kamu dimana?"
''Aku di rumah, El. Kenapa?''
''Chelsea tiba-tiba demam. Kamu cepetan pulang ya?"
''Iya, sayang. Aku jalan sekarang." Ucap Endrew dengan panik. Endrew pun mengakhiri panggilannya. Endrew menatap Elvan sejenak, sebelum ia pergi meninggalkan rumah.
Sesampainya di rumah, Endrew segera menuju kamar putrinya.
''Sayang, gimana?" tanya Endrew dengan panik.
''Iya, Mas. Tadi aku dengar Chelsea mengigau, terus aku cek ternyata badannya demam. Aku kasihan sama Chelsea karena kita sama-sama sibuk. Kita jadi kurang waktu buat dia." Kata Milka sembari mengompres Chelsea.
''Maafin aku ya. Ini semua karena kesalahan ku.''
''Kamu jangan menyalahkan diri kamu terus. Dan aku juga nggak menyalahkan Elvan. Aku sendiri juga merasa kasihan sama dia. Hidup yang dia lewati saat kecil terlalu berat.''
__ADS_1
''Terima kasih ya karena kamu begitu memahami keadaanku. Aku harap Elvan mau berubah dan mau memegang perusahaan. Aku melakukan ini juga untuk Papa dan untuk Elvan. Sedikitpun tidak ada niat untuk menguasainya."
''Iya, Mas. Aku ngerti."
''Ya udah, ayo kita bawa Chelsea ke rumah sakit."
''Iya, Mas."
Milka adalah cinta pertama sekaligus cinta terkahir, Endrew. Setelah lulus SMA, Endrew nekat menikahi Milka. Yang mana Milka adalah pacar Endrew saat masih di SMA. Endrew sendiri tidak ingin menunda-nunda hal baik apalagi Milka adalah gadis yang penyayang dan pengertian. Tidak sulit untuk meminta restu dari orang tuanya. Karena Endrew adalah anak yang patuh dan penurut. Sekalipun ia hanya lulusan SMA, tapi ia sangat cerdas. Endrew menolak tawaran kuliah dari papanya karena ia menyadari siapa dirinya. Ia tidak ingin terlihat mengungguli Elvan. Namun pujian yang terus di berikan Endrew dari Papanya, justru semakin membuat Elvan benci pada Endrew. Endrew pun menceritakan semua masa lalunya dan latar belakangnya pada Milka. Dan Milka pun tidak keberatan dengan masa lalu ataupun latar belakang Endrew. Toh Endrew juga anak sah. Kini Milka sibuk mengurusi butiknya. Iya, ia begitu piawai dan pintar menjahit. Itulah hobi dan bakat yang mampu menjadikan Milka seorang desainer muda dengan segudang prestasi. Dan tentu hal itu semakin membuat orang tua Endrew bahagia dan bangga memiliki Milka, sebagai menantu.
...****************...
''Ma, jangan tinggalin aku. Jangan tinggalin, Elvan. Mama janji sama, Elvan. Mama........!" teriak Elvan yang bangun dari tidurnya. Tubuhnya bekeringat dingin dan nafasnya yang terengah-engah. Kenangan buruk masa kecilnya, selalu hadir dalam mimpi Elvan. Dan itu selalu menjadi mimpi buruknya. Elvan, selalu takut setiap kali ia mulai tertidur. Karena kenangan buruk masa kecilnya, selalu mengahantuinya. Hanya minuman keras yang mampu melelapkan tidurnya dan hanya minuman keras pula, yang mampu membuatnya lupa akan buruknya kenangan itu. Elvan mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Elvan bangkit dari tempat tidurnya dan mencari fotonya bersama Mamanya dan juga sahabat Mamanya.
''Lili," gumam Elvan. Elvan mencari pada semua laci dan almari namun ia tak menemukan semua foto Mamanya. Hanya tersisa satu, yang memang sengaja Elvan simpan. Elvan lalu mencari foto dirinya, Lili, Tante Nita dan juga Mamanya saat foto bersama. Berharap ia akan menemukan Lili dan bisa bersahabat dengannya. Namun semuanya nihil. Elvan begitu marah dan kecewa karena tidak berhasil menemukan foto tersebut. Ia hanya bisa berteman dengan sepi. Meskipun ada Leon dan Fandi, Elvan tidak pernah menceritakan masalah pribadinya. Namun Leon dan Fandi, selalu mendapat informasi tentang Elvan dari Endrew. Bahkan hubungan satu ayah dan beda ibu antara Elvan dan Endrew, mereka berdua mengetahuinya dari cerita Endrew. Endrew berharap Fandi dan Leon, selalu bisa menjadi sahabat untuk Elvan, di kala susah maupun senang. Elvan merasa frustasi dan ia terduduk di lantai sembari bersandar pada kursi sofanya.
''Drrttt drrtt drrtt," suara ponsel Elvan bergetar dia meja nakasnya. Elvan berjalan lunglai lalu mengangkatnya. Ada nama Fandi di sana.
''El, elo nggak ke kampus? ini jam 8?" kata Fandi yang sedang dalam perjalanan bersama Leon.
''Ingat ya, hari ini giliran elo buat deketin Alia. Dan ingat, elo udah damai sama Alia." Pesan Fandi sambil mengakhiri panggilannya. Elvan mendengus mendengar ucapan Fandi. Elvan meraih handuknya dan segera pergi mandi.
...****************...
''Assalamualaikum, Al," sapa Rendra pada Alia yang berjalan menuju kelasnya.
''Waalaikumsalam, Ren. Eh ada apa?"
''Besok aku ikut ya ke panti asuhan.''
''Iya, boleh kok.''
''Udah dapat mobil belum buat berangkat kesana?"
__ADS_1
''Ah iya. Aku hampir saja lupa. Soalnya kita biasanya naik bus. Soalnya kita biasanya pergi juga cuma bertiga, sama Rani dan Diana. Mereka berdua kalau untuk pergi jarak jauh, nggak berani bawa mobil sendiri. Jadi kita naik bus.''
''Ya udah, pakai mobil aku aja kalau gitu. Nanti aku yang nyetir deh."
''Alhamdulillah deh kalau gitu. Solanya kali ini bawaan kita cukup banyak. Ada yang nitip perlengkapan mandi, mie instan dan beberapa dus baju bekas layak pakai."
''Wah, alhamdulillah kalau gitu. Makin senang kalau banyak yang mau menyumbang."
''Iya, meskipun mereka semua enggan untuk ikut. Tapi nggak apa-apa kok. Mereka sudah berbagi saja, itu sudah luar biasa. Semoga berkah untuk semuanya."
''Amin. Ya udah kalau gitu, ini juga udah sampai di kelas kamu. Kamu masuk aja, aku juga mau ke kelas. Assalamulaikum."
''Waalaikumsalam, Ren." Alia segera masuk ke dalam kelasnya. Begitu pula dengan Rendra yang segera berjalan menuju kelasnya. Saat jam istirahat, Alia bersama Rani dan Diana menuju basecamp komunitas hijab mereka. Mereka sedang sibuk mengemas bantuan tambahan dari mahasiswa yang lain.
''Al, alhamdulillah ya bantuan kita makin bertambah." Kata Rani sembari mengepak beberapa makanan.
''Iya, ya. Kok tiba-tiba mereka berbondong-bondong ya." Sahut Alia dengan heran.
''Soalnya kita post foto kita sama geng Rich Man di grup whatsapp komunitas kita. Terus nyebar deh satu kampus."
''Segitunya ya pengaruh mereka di kampus ini. Hanya sebuah foto, semua jadi berbondong-bondong. Tapi bagus juga sih. Lebih bagus lagi kalau mereka ikutan kesana. Biar mereka bisa ketemu sama anak-anak dengan wajah tanpa dosa di sana. Supaya nggak cewek melulu yang ada di mata mereka." Kata Alia terkekeh.
''Gue mau ikut kok," sahut Elvan tiba-tiba. Alia, Rani dan Diana merasa terkejut saat mendengar suara Elvan.
''Dan gue bawa ini untuk mereka semua," kata Elvan sambil menepukkan kedua tangannya. Dan datanglah Fandi, Leon dan mahasiswa yang lain, sembari membawa beberapa kardus mie instan, minyak goreng, telur, beras, pakaian baru dan juga perlatan mandi, mulai dari sabun, pasta gigi dan shampo. Alia, Rani dan Diana hanya bisa menganga melihat begitu banyak sumbangan yang di berikan oleh Elvan.
''Dan gue juga ikut kesana." Tegas Elvan.
''Ya Allah banyak banget. Elvan kamu nggak cuma ganteng tapi ternyata baik hati sekali," puji Rani pada Elvan.
''Iya, ih. Kamu idaman banget, El. Kamu benar-benar luar biasa," timpal Diana yang begitu mengelu-elukan Elvan.
''Idaman apanya? hobinya pergi ke klub malam dan dugem." Gerutu Alia dalam hati.
__ADS_1
''Ya, meskipun hobi gue klubing dan dugem, gue masih punya hati kali," kata Elvan yang seolah tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Alia.
next----ooo