Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"

Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"
EPS. 78 Caper


__ADS_3

Setelah pulang kampus, Alia segera pergi menuju butik Milka.


''Assalamualaikum mbak Milka,'' sapa Alia.


''Hei, Alia. Waalaikumsalam,'' balas Milka sembari merapikan manekinnya.


''Wah, butiknya Mbak Milka bagus banget. Koleksi bajunya juga bagus banget,'' kata Alia yang merasa takjub.


''Terima kasih, Alia.''


''Oh ya Mbak tugas saya apa ya?''


''Sesuai jurusan kuliah kamu, manajemen administrasi. Kamu nanti masukin semua data ke laptop ini ya karena kebetulan sekali aku sangat membutuhkan karyawan di bagian ini. Apalagi ini cabang baru,'' kata Milka sembari menjelaskan cara kerja pada Alia. Tak butuh waktu lama bagi Alia untuk memahami semuanya.


''Kita jam 8 malam udah tutup Alia jadi kamu pulangya juga nggak kemalaman.''


''Iya mbak. Kalau butik lagi ramai, nggak apa-apa kok kalau saya lembur.''


''Ya udah kamu selamat bekerja ya. Kalau ada yang kurang jelas kamu bisa tanya.''


''Siap mbak Milka," ucap Alia penuh dengan semangat.


Sementara itu Elvan benar-benar kesal karena Alia benar-benar tidak mengunjunginya.


''Tok tok tok tok!" suara ketukan pintu yang membuat Elvan bahagia.


''Nah, itu pasti Alia,'' gumam Elvan dengan antusias. Ia pun sudah memasang senyum manis dengan lesung pipinya yang terlihat sempurna.


''Masuk!" sahut Elvan. Ekspresi wajah Elvan seketika berubah saat melihat Sandra yang datang. Senyum manis itu pun akhirnya pudar.


''Elvan, sayang.'' Peluk Sandra degan agresifnya.


''Kamu kenapa bisa kayak gini sih? ya ampun,'' kata Sandra sambil memegangi wajah Elvan yang lebam dan membiru.


''Pasti ini gara-gara Alia. Apa orang suruhan Rendra yang bikin kamu kayak gini,'' kata Sandra.

__ADS_1


''Nggak! Udahlah jangan sok tahu,'' ketus Elvan.


''Ini aku bawain kamu buah, aku kupasin ya,'' kata Sandra. Elvan hanya diam tak bergeming dan membiarkan Sandra melakukan apa yang Sandra mau.


''Nih, aaaa... buka mulutnya,'' kata Sandra sambil menyodorkan kupasan buah jeruk. Elvan memilih mengambil kupasan jeruk itu dari tangan Sandra dan memilih memakannya sendiri. Sandra benar-benar kesal dengan sikap Elvan yang tak pernah sedikitpun melihat padanya. Elvan lalu meraih ponsel untuk menelepon Alia.


''Halo, kamu dimana?'' tanya Elvan.


''Aku kerja, El,'' jawab Alia sembari fokus pada layar laptopnya.


''Kenapa kamu nggak nurut sih sama aku?'' gerutu Elvan.


''Memangnya kamu siapa aku?''


''Ya-ya aku calon suami kamu,'' kata Elvan. Mendengar ucapan Elvan, membuat Alia tertawa kecil.


''Kamu telepon siapa sih, El?'' sela Sandra yang kesal dengan sikap Elvan yang tidak menghargainya.


''Tuh udah ada temennya kan? ngapain kamu telepon aku lagi,'' kata Alia yang mendengar suara Sandra di seberang sana.


''Oh suster. Ya udah kamu kan udah di temenin suster, aku kerja dulu ya. Assalamualaikum.'' Alia pun mengakhiri panggilannya, sebelum Elvan sempat membalas ucapan Alia. Elvan pun benar-benar kesal dengan sikap Alia.


''Kamu telepon siapa sih?''


''Calon istri gue!" tegas Elvan.


''Ca-calom istri? sejak kapan? kamu serius?''


''Iya lah, dia calon istri gue yang di jodohin Papa buat gue. Lusa Papa bakal pulang dan membahas perjodohan ini,'' kata Elvan yang harus berbohong supaya Sandra tidak mendekatinya lagi.


''Yakin kamu nerima perjodohan ini? seorang Elvan menerima perjodohan?'' kata Sandra seolah tak percaya.


''Yakin lah, kenapa nggak? Kalau dia lebih cantik dan seksi dari cewek yang pernah gue kenal. Jadi mulai sekarang elo nggak usah deketin gue lagi, oke." Sandra benar-benar kecewa dan kesal dengan ucapan Elvan. Sandra pun lalu pergi meninggalkan Elvan dan melempar sisa kupasan buah jeruk ke wajah Elvan.


''Hei, keterlalaluan ya elo,'' teriak Elvan yang kesal dengan sikap semena-mena Sandra.

__ADS_1


...****************...


Di dalam mobil Sandra pun menangis sesenggukan dan ia memilih pergi ke bar untuk menghilangkan rasa sedihnya. Waktu pun berlalu dan hari mulai petang. Sandra melampiaskan semua kesedihannya di sana hingga ia mabuk dan tak mampu lagi berdiri. Di saat bersamaan, Rendra baru saja keluar dari lantai atas bar tersebut. Rendra baru saja selesai meeting dengan kliennya untuk membahas strategi bisnis terbaru. Maklum saja Rendra seorang yatim piatu yang harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya.


''Itu bukanya Sandra?'' gumam Rendra. Rendra lalu mengahampiri Sandra yang tak sadarkan diri di sebuah kursi sofa.


''Sandra,'' kata Rendra sembari menepuk pundak Sandra. Namun Sandra tak kunjung sadar.


''San, bangun! ini aku, Rendra,'' ucap Rendra sembari mengguncang tubuh Sandra.


''Rendra,'' ucap Sandra sembari tertawa.


''Kamu ngapain sih disini sendirian? ayo aku antara pulang,'' kata Rendra. Rendra lalu memapah Sandra dan membawa Sandra masuk ke dalam mobil Rendra.


''Ini kamu minum dulu ya,'' kata Sandra sembari membantu Sandra untuk menenggak minuman dari botol. Sandra kemudian merasa mual dan ingin muntah. Sandra segera membuka pintu mobil Rendra dan menepi untuk muntah.


''Huek, huek, huek, huek,'' Sandra pun memuntahkan semua isi perutnya. Rendra segera turun dari mobil dan mengusap punggung Sandra, tak lupa Rendra membawakan tisu untuk Sandra.


''Thanks ya, Ren. Lagi-lagi kamu nolongin aku,'' kata Sandra sembari menyeka bibirnya dengan tisu.


''Iya sama-sama. Mobil kamu mana?''


''Aku nggak bawa mobil, kebetulan naik taksi online. Biasa kalau Papa dan Mama pulang, aku harus jaga sikap,'' kata Sandra tersenyum tipis.


''Harus gitu ya emang?'' kata Rendra penuh heran.


''Iya lah. Image aku di hadapan Papa dan Mama adalah gadis penurut, imut dan manis,'' kata Sandra terkekeh.


''Bukanya memang sudah seharusnya seperti itu sikap seorang anak gadis?'' kata Rendra.


''Mereka terlalu mengatur. Udah ah nggak usah di bahas. Mending kamu antar aku pulang ya, kunci apartemen disita. Tapi tadi siang katanya Papa sama Mama udah balik lagi,'' kata Sandra.


''Ya udah ayo.'' Rendra kemudian mengantar Sandra pulang menuju rumahnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2