
''Darimana kamu, El?'' tanya Pak Tama dengan nada sinis. Elvan menatap Papanya yang tengah duduk di ruang tengah sembari membaca majalah. Wajah Pak Tama tampak serius.
''Sepertinya aku harus menyudahinya,'' gumam Elvan dalam hati. Elvan kemudian mendekat dan duduk di samping Papanya. Pak Tama menatap heran ke arah putranya.
''Bagaimana kamu bisa kabur?''
''Mama Elisa yang membantuku kabur,'' singkat Elvan.
''Mama?''
''Iya Mama. Bukankah dia Mama ku juga, Pa.'' Mendengar ucapan putranya, mata Pak Tama berkaca-kaca. Ia kemudian memeluk Elvan sambil menitikan air mata.
''Maafkan Papa Elvan. Maafkan Papa yang terlalu keras selama ini. Papa tidak bisa mengontrol perasaan Papa selama ini. Papa sangat hancur dan di hantui rasa bersalah, El. Maafkan Papa. Papa sama hancurnya seperti kamu. Papa hancur, seandainya bisa, lebih baik Papa saja yang menggantikan posisi Mama kamu.'' Tangis Pak Tama dalam pelukan Elvan.
''Tidak Pa! Maafkan Elvan juga, Pa. Elvan sangat terpukul dengan kepergian Mama. Elvan sudah membaca surat dari Mama dan Elvan sudah menemukan gadis itu, Pa.''
''Benarkah kamu sudah menemukannya? kenapa kamu tidak membawanya kemari?''
''Nanti Elvan akan membawanya. Dia sangat cantik dan sholeha, Pa. Hanya saja Elvan yang minder. Begitu banyak yang menyukai dia, Pa. Mungkin Elvan punya segalanya tapi dia tidak butuh itu, Pa. Untuk itu Elvan ingin memantaskan diri buat dia.''
''Elvan, pesan Papa. Jangan mengulangi kesalahan kami ya. Karena itu sangat menyakitkan untuk semuanya. Seandainya waktu bisa di putar kembali, seharusnya Papa tidak menuruti keinginan Mama kamu.''
__ADS_1
''Iya, Pa. Elvan tidak akan pernah seperti itu. Pa, bagaimana kalau kita berdua pergi ke makam Mama.''
''Iya. Besok pagi kita berangkat ya. Papa juga sangat merindukan Mama kamu. Elvan, Papa ingin kamu segera menikahi gadis itu. Papa takut kalau Papa tidak punya waktu lagi.''
''Pa, memangnya Papa mau kemana? Papa jangan bicara seperti itu ya. Papa harus temani Elvan, jangan tinggalin Elvan ya.''
''Iya, El. Besok setelah pergi ke makam Mama kamu, kita pergi ke rumah gadis itu ya? Papa juga ingin bertemu dengan dia.''
''Iya, Pa.''
...****************...
Untuk pertama kalinya Elvan kembali menyentuh air wudhu. Hati Elvan bergetar, terlihat semua keburukan yang ia lakukan selama ini. Elvan pun kembali menggelar sajadahnya dan dengan khusyu' menghadap kiblat. Ada rasa tenang dan damai di dalam hatinya. Terlebih saat ia membaca dan menyebut asma Allah. Tiba-tiba saja air mata tumpah membasahi pipinya. Apalagi bayangan Mamanya tampak begitu nyata dalam sujudnya. Dan yang paling membuatnya terkejut, terlihat bayangan Alia dalam sujudnya. Elvan berdosa, ia telah lama jauh dari Sang Pencipta. Kini ia merasakan kedamaian yang luar biasa. Rasa benci dan dendam yang selama ini menyelimuti hatinya kini memudar begitu saja. Tak lupa Elvan menengadahkan kedua tangannya memohon ampun kepada Sang Pencipta atas kemaksiatan yang pernah ia lakukan. Setelah selesai sholat, Elvan mendengar ponselnya berdering. Elvan tersenyum sumringah mendapat panggilan vidio dari Alia.
''Waalaikumsalam. Ada apa Al?''
''Bisa bicara dengan Elvan?'' tanya Alia. Alia sebenarnya sangat terpukau melihat Elvan yang sangat tampan mengenakan baju koko dan songkok yang tersemat di kepalanya.
''Kamu ini gimana sih? Ini aku, Al. Masak kamu nggak ingat sih? Atau aku makin ganteng ya?''
''Hehehe iya. Aku pangling banget. Ketampanan kamu bertambah sepuluh kali lipat. Memangnya kamu habis ngapain?''
__ADS_1
''Menurut kamu, aku habis ngapain Al? Masak iya aku habis dugem. Aku habis sholat, Al.''
''Alhamdulillah. Aku seneng banget dengarnya, El. Seharusnya dari dulu kamu seperti ini. Saat ada masalah jangan menjauh dan benci sama Allah, justru kamu semakin mendekatkan diri padanya.''
''Iya kamu benar. Setidaknya aku sekarang sedang belajar memperbaiki diri aku, Al. Aku mohon kamu bimbing aku ya. Aku ingin menjadi Elvan yang baru.''
''Insya Allah, El.''
''Oh ya kamu ada apa vidio call aku? Kamu kangen ya sama aku?''
''Kamu ini ge-er saja. Ayah ingin bertemu dengan kamu dan orang tua kamu besok.''
''Kebetelun banget, Al. Aku besok sama Papa juga berencana pergi ke rumah kamu. Papa ingin bertemu kamu dan Ayah kamu. Tolong kamu siap-siap ya.''
''Iya, insya allah. Nanti aku sampaikan sama Ayah. Tapi kamu yakin ingin menikahi aku? Aku bukanlah apa-apa, El. Aku miskin.''
''Siapa yang peduli itu, Al. Aku sudah punya segalanya jadi aku cuma butuh kamu untuk mendampingi aku.''
''Ya sudah kalau gitu. Kamu istirahat ya. Terima kasih ya, El. Assalamualaikum.''
''Iya Alia. Waalaikumsalam.''
__ADS_1
Bersambung....