
Dalam mimpinya, Elvan melihat Mamanya sedang duduk di sebuah bangku taman. Wajah sendu Bu Maya berganti dengan senyuman cantik saat melihat putra semata wayangnya. Elvan mendekat dan merebahkan tubuhnya di pangkuan Bu Maya. Bu Maya mengusap lembut kepala Elvan. Elvan pun merasa sangat nyaman dan sangat merindukan belaian kasih sayang seorang ibu.
''Elvan, Mama bangga sekali dengan mu. Mama bahagia sekali melihat kamu, Papa dan Mama Elisa bersatu. Apalagi sekarang kamu kembali menjadi anak Mama yang manis seperti dulu.''
''Terima kasih ya Ma. Mama juga sudah mengirimkan Lili untuk Elvan. Elvan sangat bahagia.''
''Mama juga sangat bahagia. Kini Mama bisa pergi dengan tenang. Mama sudah mengikhlaskan semuanya, nak. Hiduplah dengan bahagia dengan penuh keikhlasan dan ketulusan, Mama yakin kamu akan selalu menemukan ketenangan dan kebahagiaan.''
-
Keesokan harinya Elvan dengan wajah cerianya, telah bersiap berangkat ke makam Mamanya dengan mengenakan setelan kemeja dan celana hitam. Elvan segera turun ke bawah menghampiri Papanya. Elvan cukup terkejut karena Bu Elisa pun sudah bersiap.
''El, Mama boleh ikut?'' tanya Bu Elisa dengan ragu.
''Boleh kok, Ma. Ya sudah ayo kita berangkat!"
''Makasih ya, El.''
''Iya, Ma.'' Jawab Elvan dengan senyum sekilasnya. Sesampainya di makam Bu Maya, Elvan dengan khusyuk menengadahkan tangan berdoa untuk Mamanya.
''Ma, terima kasih semalam Mama telah hadir di mimpi Elvan. Kini Elvan sangat bahagia, Ma. Perasaan Elvan jauh lebih baik dari sebelumnya. Elvan akan selalu mendoakan Mama, i love you mom.'' Gumam Elvan dalam hati.
''Istriku. Aku sangat merindukanmu. Maafkan aku atas semua dosa dan kesalahanku selama ini. Percayalah sampai detik ini, cintaku padamu tidak akan pernah pudar. Aku ingin kelak kita berkumpul bersama dalam sebuah keabadian. Tenanglah disana istriku, tunggi aku disana,'' gumam Pak Tama dalam hati dengan menahan tangis.
''Mbak Maya, aku sudah menyampaikan suratmu untuk Elvan. Dan Elvan telah menemukan gadis yang sudah kamu siapkan untuknya, Mbak. Aku berjanji akan menjaga Elvan sampai nafas terakhirku. Maafkan aku juga mbak atas semua kesalahanku. Semoga kamu selalu tenang di alam disana.'' Gumam Bu Elisa yang juga berusaha menahan tangisnya. Elvan yang berada di tengah-tengah Pak Tama dan Bu Elisa pun merangkul mereka, berusaha untuk meredakan tangis mereka.
''Ayo, Pa-Ma. Kita ke rumah Alia.'' Kata Elvan sembari berusaha membantu mereka berdiri.
''El, ada sesuatu untuk kamu. Di hadapan Mama kamu, Papa memberikan cincin ini. Ini adalah cincin kesayangan Mama kamu. Dia ingin cincin ini diberikan oleh calon menantunya. Papa tidak mau menunggu terlalu lama, berikan cincin ini pada gadis itu.'' Elvan menatap nanar papanya, kemudian Elvan memeluk erat Papanya.
''Terima kasih ya, Pa.''
''Iya, anakku.''
__ADS_1
''Ya Allah terima kasih. Kehangatan seperti inilah yang aku rindukan selama ini.'' Gumam Elvan dalam hati.
...****************...
''Assalamualaikum,'' salam Elvan sambil mengetuk pintu rumah Alia.
''Waalaikumsalam,'' sahut Andra dari dalam.
''Eh Kak Elvan. Om- tante, silahkan masuk!" kata Andra yang mempersilahkan mereka semua untuk masuk dan duduk. Tak lama kemudian, Pak Samir pun muncul dari belakanag. Pak Tama sangat terkejut bahwa itu adalah Samir.
''Samir!" seru Pak Tama.
''Iya, Adhit. Ini aku, Samir.'' Pak Tama kemudian memeluk Samir, mereka saling berpelukan erat.
''Papa sudah mengenal Om Samir?'' tanya Elvan dengan rasa heran.
''Iya, El. Dia bersama istrinya selalu menjadi saksi keributan Papa dan Mama kamu. Jadi yang disiapkan Maya adalah putri mu, Samir?''
''Iya, Adhit. Tapi aku tidak tahu kalian dimana?''
''Nita sudah lama meninggal, Samir. Bahkan Nita dan Maya sepertinya pergi dengan bersamaan. Makanya aku sendiri tidak bisa menghubungi kalian.''
''Aku turut berduka cita, Samir. Ini istriku, Elisa.''
''Samir!"
''Elisa!"
''Lalu di mana putrimu? dia pasti sangat cantik sekali.'' Kata Pak Tama dengan antusias.
''Alia! Kemari, nak!"
''Iya, Ayah!" sahut Alia sembari membawa nampan berisi aneka kue. Elvan terpesona dengan kecantikan Alia. Alia selalu sempurna di matanya. Alia kemudian meletakkan nampan itu di atas meja. Kemudian ia bersalaman dan mencium punggung tangan Pak Tama dan Bu Elisa.
__ADS_1
''Cantik sekali kamu, nak!" kata Bu Elisa.
''Terima kasih, Tante.''
''Samir. Putrimu sangat cantik, kalian mendidiknya dengan sangat baik,'' kata Pak Tama dengan penuh takjub.
''Terima kasih, Adhit. Dan ini anakku laki-laki, namanya Andra.''
''Ya ampun, Om sampai lupa, Andra. Karena Om sangat senang bisa bertemu dengan Ayah kamu.''
''Tidak apa-apa, Om.''
''Kamu juga tumbuh menjadi anak yang sangat tampan,'' puji Pak Tama.
''Terima kasih, Om.''
''Samir, aku tidak ingin banyak basa-basi lagi. Aku ingin melamar putrimu untuk putraku. Putraku sangat mencintai putrimu. Dia membawa perubahan untuk Elvan. Maya sepertinya sudah menyiapkan seseorang yang sangat tepat untuk Elvan.''
''Iya, Adhit. Aku dengan senang hati menerimanya. Tapi keadaanku seperti ini? Apakah kamu tidak malu dengan malu memiliki besan miskin seperti aku.''
''Samir, jangan berpikir seperti itu. Apalah arti sebuah harta, Samir. Bahkan yang kami miliki itu titipan dan itu semua sewaktu-waktu bisa di ambil oleh Tuhan kapan saja. Sudah bukan jamannya lagi mengukur seseorang dari materi yang paling penting itu hati, Samir.'' Jelas Pak Tama.
''Iya, Om. Saya tulus mencintai Alia. Dan saya tidak tahu kapan perasaan itu muncul. Justru saya sendiri yang minder untuk mendekati Alia. Saya merasa tidak pantas mendampinginya karena Alia sendiri sudah tahu bagaimana track record saya sebagai bad boy selama ini. Sudah pasti saya tidak masuk dalam suami idamannya.'' Ucap Elvan sembari mengunci wajah Alia dalam pandangannya.
''Elvan, semua orang punya masa lalu. Semua orang punya cara sendiri untuk melampiaskan amarahnya. Hanya saja kamu salah melampiaskannya, El. Kamu baik, kamu hangat, kamu perhatian dan kamu peduli kepada sesama dengan cara kamu sendiri. Selama mengenal kamu, sisi baik itulah yang aku rasakan. Aku bisa melihat ketulusan kamu, meskipun dari luar kamu mungkin sangat liar. Apalagi ke liaran kamu selama ini untuk menutupi luka yang berusaha kamu simpan sendiri. Adhitama Elvan Syahreza, aky mau menemani dan mendampingi kamu selamanya.'' Ucap Alia penuh dengan keyakinan dan kemantapan hati sembari menatap wajah Elvan. Mata Elvan berkaca-kaca mendengar ucapan tulus dari bibir Alia. Hatinya bergetar dan ingin sekali menumpahkan tangisnya. Bu Elisa yang duduk di samping Elvan, kemudian merangkul putranya. Elvan menatap Bu Elisa dan Bu Elisa tersenyum sambil mengangguk.
''Nak Elvan, kamu sudah mendengar jawaban dari Alia sendiri. Jadi tidak ada yang perlu kamu ragukan lagi,'' sahut Pak Samir. Elvan kemudian mendekat ke arah Alia dan duduk berlutut di hadapn Alia. Tiba-tiba saja jantung Alia berdebar, pertama kali Alia merasakan detak jantungnya berdebar sangat hebat. Alia meremas-remas tangannya untuk berusaha menutupi rasa gugupnya. Elvan kemudian mengeluarkan sebuah kotak cincin.
''Alia, dihadapan Ayah kamu, Andra, Papa dan Mama aku, apa kamu bersedia menjadi istri aku? Dan membimbing ku menjadi yang lebih baik?''
''Bismillah, Iya.'' Jawab Alia malu-malu. Elvan kemudian memasangkan cincin di jari manis Alia. Elvan sangat senang hingga ia berusaha memeluk Alia.
''Elvan! Tahan! Belum muhrim!" tegur Pak Tama yang mengurungkan niat Elvan.
__ADS_1
''Hehehe, maaf Pa. Elvan terlalu bahagia.''
Bersambung....