
''Eh kalian pernah nggak jatuh cinta? Apalagi kan kita selalu dekat sama cewek-cewek,'' tanya Elvan tiba-tiba yang membuat Fandi dan Leon mengernyitkan dahinya.
''Elo kan the king of playboy, masak iya sih tanya sama kita, aneh banget,'' kata Fandi.
''Gue playboy kan tugasnya bikin cewek jatuh cinta, bukan gue yang jatuh cinta. Kalian pernah nggak selama dekat sama cewek-cewek, kalian jatuh cinta.'' Kata Elvan yang kembali bertanya.
''Pernah!" sahut Leon.
''Sama siapa?'' tanya Elvan.
''Waktu masih SMA sih. Gue jatuh cinta sama Bu Mona.''
''Apa?'' sahut Elvan dan Fandi secara bersamaan. Mereka benar-benar tidak percaya dengan pengakuan Leon.
''Gila ya lo! Guru sendiri elo embat.'' Kata Fandi.
''Kan kita sama Bu Mona dulu cuma selisih sepuluh tahun. Kita 17 tahun, Bu Mona 27 tahun. Kecuali Bu Mona seusia nenek gue, itu baru aneh. Lagian Bu Mona juga masih terlihat muda dan cantik.'' Cerita Leon.
__ADS_1
''Astaga! Sumpah gue baru tahu,'' kata Fandi.
''Pantesan aja tiap kali kelasnya Bu Mona, elo selalu berangkat paling pagi dan duduk paling depan.'' Timpal Elvan.
''Terus gimana kelanjutan hubungan kalian?'' tanya Fandi penasaran.
''Nggak ada. Dia baik sama gue, ngasih jam tambahan ke gue, sesekali ngajak makan gue, gue pikir dia juga suka sama gue. Dan pas gue coba tanya tentang hubungan kita, dia cuma anggap gue murid sama adik doang. Nyesek nggak sih? Apalagi waktu itu Bu Mona punya tunangan, gue di ajakin makan dan di kenalin sama tunangannya. Hua hua hua!" Kata Leon sembari menangis memeluk ranselnya.
''Ya ampun ngenes banget lo, Le,'' kata Elvan terkekeh sambil menepuk pundak sahabatnya.
''Pantes aja, sejak Bu Mona menikah, elo selama satu bulan di rumah terus. Kita ajakin keluar nggak mau, rupanya elo sedang meratapi nasib,'' ledek Fandi dengan tawanya.
''Ogah! Yang ada kalian bakal ledekin gue.''
''Yaelah gitu doang, Le. Justru kita bakal bantuin elo buat batalin pernikahan Bu Mona,'' timpal Fandi.
''Itu namanya cari penyakit,'' sahut Elvan.
__ADS_1
''Lupain masa lalu elo yang menyakitkan, sekarang gue tanya, gimana sih rasanya jatuh cinta?'' sambung Elvan.
''Elo tahu jantung gue rasanya mau meledak. Lihat wajahnya aja udah bikin deg-degan. Sumpah tiap kali ketemu Bu Mona, jantung gue dag-dig-dug. Nggak karuan deh rasanya, bahagianya juga nggak ketulungan. Apalagi pas tahu Bu Mona mau nikah, dada gue sesak, panas, mau nafas nggak bisa, rasanya pingin mati aja tahu nggak. Sumpah nyeri banget dada gue,'' cerita Leon sembari menepuk dadanya dengan wajahnya yang begitu sedih karena teringat cinta masa lalunya.
''Emang sesakit itu, Le?'' kata Elvan.
''Iya lah. Patah hati dan cemburu itu lebih menyakitkan dari sakit apapun. Mau makan nggak enak, mau tidur susah, mau apapun males, ke ingat dia terus. Menderita banget tahu nggak, begitulah cinta, deritanya tiada akhir, hiks, hiks, hiks,'' cerita Leon sembari meratapi nasibnya.
''Apaan sih, lebay banget. Kalau elo gimana Fan?'' tanya Elvan.
''Elo tahu sendiri lah, kalau dulu gua suka sama Laura. Kita jalan bareng, menghabiskan waktu sama-sama. Gue pikir dia juga sama gue, tapi dia ternyata calon istrinya Pak Johan, guru matematika kita.''
''Kenapa kisah kalian hampir sama ya? Hmmmmm nggak nyangka juga si Laura diam-diam calonnya Pak Johan.'' Kata Elvan.
''Dia suka cowok yang dewasa, pintar dan mengayomi. Kalau gue asyik sebagai teman doang. Makanya sekarang gue tunjukkin taring, kalau gue bisa memikat gadis manapun. Emang enak di PHP.''
''Sama. Itu juga yang gue jadiin motivasi buat jadi playboy. Emang mereka doang yang bisa PHP, kita juga bisa. Di ajakin jalan mau, di deketin mau, seharusnya kan ngomong dari awal kalau emang nggak suka dan udah punya pasangan.'' Kata Leon dengan geram.
__ADS_1
''Aduh, malah dengerin curhat mereka sebelum bertransformasi sebagai playboy,'' gumam Elvan dalam hati.
Bersambung....