Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"

Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"
EPS. 76 Posesif


__ADS_3

Saat itu pula, ponsel Alia berdering dan ada nama Rendra disana.


''Halo, assalamualikum, Ren.''


''Waalaikumsalam, Alia. Kamu sudah bangun?'' mendengar Alia mendapat telepon dari Rendra, Elvan pun tampak kesal sekali. Elvan lalu merebut ponsel Alia dan menyalakan mode loudspeaker. Alia tal bisa berkutik saat Elvan bersikap seperti itu dan hanya bisa menurut.


''Udah kok. Ada apa sepagi ini kamu telepon, Ren?''


''Nggak ada apa-apa. Cuma mau ingetin, kamu sudah sholat subuh?''


''Udah kok. Aku baru aja selesai sholat subuh.''


''Alhamdulillah. Oh ya aku hari ini siap melamar kamu di hadapan Ayah kamu. Apa kamu siap?''


''Maaf ya, Ren. Kayaknya di tunda minggu depan aja ya. Kamu juga belum pulih, wajah kamu masih pada lebam dan merah. Nanti takutnya Ayah mikir gimana-gimana sama kamu.''


''Iya juga ya. Nanti ayah kamu mikirnya aku habis tawuran lagi, hehehe. Ya udah deh aku tunggu sampai luka aku sembuh aja. Dan nggak enak juga kalau mau ketemu mertua malah babak belur kayak gitu.''


''Makasih ya. Sebenarnya aku sendiri juga banyak kerjaan, Ren. Maafin aku ya.''


''Iya nggak apa-apa kok. Maaf ya kalau aku terkesan buru-buru karena aku takut kehilangan kamu.''


''Ya udah kalau gitu, Ren. Aku mau lanjut masak dulu.''


''Iya Alia. Ya udah kalau gitu, assalamualaikum.''


''Waalaikumsalam.'' Kata Alia mengakhiri panggilannya.


''Kamu ini gimana sih kok gitu?''


''Aku kan udah bilang, kalau urusan Rendra, aku cemburu. Pakai bicara mesra di depan aku segala. Kamu nggak menghargai aku banget,'' protes Elvan.


''Memangnya kamu siapa bicara seperti itu?''


''Aku? a-aku ya calon suami kamu lah. Awas ya kamu sampai berhubungan sama Rendra,'' ancam Elvan.


''Belum jadi suami aja udah posesif apalagi udah jadi suami.''


''Ya harus dong. Itu tandanya cinta,'' kata Elvan tergagap. Alia hanya bisa tersenyum melihat sikap Elvan yang begitu menggemaskan menurutnya.


''Kak, ini buburnya. Maaf lama tadi antre,'' sela Andra.

__ADS_1


''Eh iya nggak apa-apa kok. Makasih ya. Kamu juga makan ya.'' Kata Alia pada Andra.


''Iya, Kak.''


''Andra, aku ada satu pertanyaan?'' sela Elvan.


''Apa kak?''


''Apa kamu setuju kalau aku menjadi kakak iparmu?'' pertanyaan Elvan benar-benar membuat Andra terkejut.


''Kakak ipar? Setuju saja selama Kak Alia bahagia,'' jawab Andra dengan entengnya.


''Ternyata sangat mudah ya meminta restu sama adik ipar,'' kata Elvan terkekeh.


''Tapi bilang dulu sama Ayah, Kak. Kalau aku, siapapun pasangan Kak Alia, selama itu bisa membuat Kak Alia bahagia, aku boleh aja.''


''Baiklah aku akan membuat kakak kamu bahagia.''


''Sudahlah kamu jangan banyak halu dan modus. Ini kamu makan aja dulu.''


''Kepalaku masih sakit, tangan aku lemes, jadi aku nggak bisa makan sendiri,'' ketus Elvan.


''Ya udah sini aku suapin,'' kata Alia dengan lembut. Mendengar ucapan Alia, membuat Elvan tersenyum tapi ia berusaha menyembunyikan senyumnya di hadapan Alia.


''Nggak perlu aku jawab, kamu udah tahu jawabannya. Mending makan dulu. Setelah ini aku akan pulang dulu.''


''Baiklah.'' Elvan lalu membuka mulutnya dan menerima suapan dari Alia. Elvan benar-benar tidak menyangka ia akan jatuh cinta dengan Alia. Gadis berhijab yang menjadi taruhannya kini telah mengambil hatinya. Membuat perasaannya tidak menentu saat Alia bersama pria lain.


...****************...


''Elvan! Ya ampun, sorry kita baru kesini. Gue di kasih tahu Bibi pas mau ke rumah elo tadi,'' kata Leon dengan heboh sembari memeluk Elvan dengan erat.


''Lepasin, Le. Sakit!'' bentak Elvan.


''El, elo kenapa? Kenapa nggak hubungin kita? Gimana ceritanya elo sampai kayak gini?'' kata Fandi.


''Gue di keroyok sama orang nggak jelas waktu di klub. Udah lah nggak usah di bahas.''


''Bang Endrew juga udah jeblosin mereka ke penjara, berdasarkan bukti CCTV. Sebenarnya elo kenapa sih?'' desak Fandi.


''Palingan juga galau soal Alia. Soalnya Alia lebih pilih Rendra daripada dia,'' celetuk Leon. Mendengar ucapan Leon, membuat Elvan senyum-senyum tidak jelas.

__ADS_1


''Hei, kenapa lo? senyum-senyum gitu. Jangan bilang elo gila gara-gara kepala elo di tampol,'' sambung Fandi.


''Asal kalian tahu, semalaman Alia temenin gue. Dia baru aja pulang,'' kata Elvan.


''Hah? serius lho?'' kata Leon.


''Iyalah. Mana mungkin gue bohong.''


''Wah kayaknya ada kemajuan nih,'' goda Fandi yang semakin membuat Elvan salah tingkah.


''Selamat pagi!" sapa Endrew dan Milka dengan kompak.


''Hai, Bang Endrew, Mbak Milka,'' balas Leon dan Fandi dengan kompak.


''Alia mana, El?'' tanya Milka.


''Udah pulang,'' singkat Elvan.


''Syukurlah kamu sudah sadar dan semakin membaik, El. Kamu tahu semalaman Alia menjaga kamu sedangkan saat itu dia juga masih sakit,'' jelas Endrew.


''Maksudnya?''


''Jadi kemarin malam, aku ketemu Alia pingsan di jalan. Terus aku bawa ke rumah sakit dan kebetulan aku dapat kabar dari Mas Endrew kalau kamu kena musibah. Jadi pas Alia sadar, dia langsung temuin kamu. Sepertinya Alia kelelahan dan dehidrasi dan aku menemukan surat lamaran pekerjaan,'' cerita Milka.


''Maafin aku, Alia. Aku membuatmu menderita. Dan itu semua karena rasa cemburuku yang tidak jelas. Apalagi kamu sampai pingsan dan di rawat disini. Itu pasti karena aku. Kenapa kamu bodoh sekali, malah nungguin aku, bukanya pulang,'' gumam Elvan dalam hati.


''Oh ya ini aku bawakan makan untuk kamu. Kamu makan ya, supaya kamu cepat pulih,'' kata Milka.


''Iya, makasih.'' Singkat Elvan.


''Ya udah lebih baik kalian pulang,'' sambung Elvan yang meminta Endrew dan Milka pulang.


''Iya, aku juga mau pulang. Kamu baik-baik ya. Dan maafkan kakak,'' kata Endrew sambil memeluk Elvan. Elvan hanya diam tak bereaksi.


''Leon, Fandi, titip Elvan ya. Jagain dia,'' pesang Endrew.


''Siap, Bang," kata Leon dan Fandi. Endrew dengan berat hati meninggalkan Elvan begitu saja di rumah sakit. Milka benar-benar merasa kasihan pada Endrew yang selalu mendapat sikap jutek dari Elvan.


''El, sampai kapan elo kayak gitu sama bang Endrew?'' kata Fandi.


''Elo diam aja. Karena elo nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi.''

__ADS_1


''Oke, sorry!" kata Fandi.


Bersambung... Jangan lupa like, komen dan vote ya, makasih 🙏❤️


__ADS_2