Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"

Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"
EPISODE 26


__ADS_3

''Alia kemana ya, Ran? Aku nggak lihat Alia sama sekali.'' Kata Diana pada Rani.


''Iya nih. Jam kuliah udah selesai tapi dia nggak ada kabar. Apa Alia sakit ya?'' tanya Diana.


''Ya udah kita telepon Alia aja kalau gitu.'' Rani kemudian mengeluarkan ponselnya dalam tas dan segera menekan nama Alia. Dan menyalakan mode loudspeaker pada panggilannya


''Assalamualikum, Al. Kamu dimana? Kok nggak masuk kuliah? Kamu nggak apa-apa kan? Kok nggak ngabarin kita juga?'' cerocos Rani.


''Waalaikumsalam, Rani. Satu-satu dong tanyanya. Aku kan bingung mau jawab. Aku tadi udah masuk kuliah tapi aku ada kecelakaan kecil jadi sekarang aku lagi di rumah.''


''Astaghfirullah, Alia. Kenapa nggak ngabarin kita sih? Kamu ada masalah kok diam aja?'' sahut Diana.


''Maaf ya, aku nggak ada maksud gitu. Habis kejadiannya cepet banget. Jadi maaf nggak sempat ngabarin kalian.''


''Ya udah kalau gitu kita sekarang ke rumah ya. Kamu mau di bawain apa?'' tanya Rani.


''Terserah kalian aja deh.''


''Ya udah kalau gitu kita jalan sekarang ya. Assalamualaikum,'' kata Rani.


''Waalaikumsalam,'' jawab Alia menutup panggilan teleponnya.


''Ya Allah, Alia kecelakaan dimana sih? Semoga dia nggak apa-apa ya,'' kata Diana.


''Ya udah, Di. Ayo kita ke rumah Alia sekarang.''


''Ya udah yuk, Ran.'' Rani dan Diana segera menuju rumah Alia. Tak lupa Rani dan Diana mampir ke toko kue juga buah untuk mereka bawa ke rumah Alia.


-

__ADS_1


''Cafe kamu unik juga ya, Ren,'' kata Sandra sesampainya di cafe milik Rendra.


''Makasih ya, San. Eh kamu mau makan sama minum apa?''


''Terserah aja deh. Kamu kasih menu terfavorit di cafe kamu aja.''


''Oke, sebentar ya.'' Kata Rendra yang kemudian berlalu untuk membuatkan pesanan Sandra. Tak berselang lama, Rendra segera datang membawa Thai Tea dan Tenderloin steak untuk Sandra.


''Hmmmm aromanya wangi banget. Pasti rasanya enak banget nih,'' puji Sandra saat Rendra meletakkan makanan di atas meja.


''Ya udaah kamu cobain aja.''


''Oke, aku coba dulu.'' Sandra pun kemudian mencobanya.


''Ini enak banget, dagingnya juicy banget. Pantesan ya cafe kamu rame banget. Rasanya nggak bohong.''


''Makasih ya, San. Ya aku berharap bisa nabung lagi untuk buka cabang baru.''


...****************...


''Fan, itu Elvan udah ambruk aja disana!" seru Leon sambil menunjuk Elvan yang telah terkapar karena mabuk berat. Mereka berdua kemudian berjalan mendekati Elvan.


''Elvan! Bangun woi! Ini udah sore." Kata Fandi sambil menepuk bahu Elvan. Namun Elvan sama sekali sudah tidak sadarkan diri. Leon melirik kearah meja bar, ia mendapati sudah ada tiga botol wine kosong di atas meja.


''Gimana nggak tepar, Fan. Elo lihat aja tuh tiga botol habis sama dia. Dan ini botol ke empat yang masih sisa setengah.''


''Ya udah ayo kita antar Elvan pulang aja. Elo bawa mobil gue, biar gue bawa Elvan sekalian sama mobilnya.'' Kata Fandi.


''Oke kalau gitu.'' Leon lalu membantu Fandi untuk membopong tubuh Elvan. Mereka segera membawa Elvan pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Fandi dan Leon kompak membopong tubuh Elvan.

__ADS_1


''Waduh, waduh, Den Elvan kenapa ini?'' tanya Bi Minah dengan panik.


''Biasa, Bi. Lagi kumat.'' Kata Leon.


''Kita bawa ke kamar dulu ya, Bi,'' sahut Leon.


''Iya, iya, Den.'' Kata Bi Minah. Chelsea yang berada di ruang tengah sembari menggambar, terkejut melihat Om-nya tak sadarkan diri.


''Bi, Om Elvan kenapa?'' tanya Chelsea pada Bi Minah.


''Nggak tahu, Non. Bibi juga khawatir. Mungkin Om Elvan sakit.'' Kata Bi Minah pada Chelsea. Tidak mungkin Bi Minah menjelaskan pada Chelsea bahwa Elvan sedang mabuk dan dalam pengaruh alkohol. Terlalu dini bagi Chelsea untuk tahu semuanya.


''Non Chelsea disini saja ya. Biar Om Elvan istirahat di kamar dulu.''


''Iya, Bi.''


-


Sesampainya di kamar Elvan, Fandi dan Leon merebahkan tubuh Elvan di atas tempat tidur.


''Ni anak kenapa sih? Tiba-tiba nggak masuk kuliah aja. Tanpa kabar pula,'' kata Leon yang merasa kesal namun juga heran dengan sikap Elvan.


''Biasanya dia mabuknya kan malam, lha ini masih sore udah mabuk aja.'' Kata Fandi.


''Apalagi dia sampai nggaj ikut ujian, wah kalau bokapnya tahu bisa marah besar. Perasaan gue nggak enak nih,'' kata Leon.


''Ya udah mending kita cabut. Sekarang giliran kita yang party,'' kata Fandi.


''Oke, siap. Ayo berangkat. Urusan bokapnga Elvan marah kita lihat saja nanti.'' Kata Leon sembari berlalu meninggalkan kamar Elvan bersama Fandi.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2