
''Mmmm Alia. Gue mau numpang mandi,'' kata Elvan pada Alia yang tengah sibuk memasak di dapur.
''Ya udah mandi sana. Itu kamar mandinya di luar.''
''Oke.'' Elvan lalu keluar melewati dapur. Elvan sangat terkejut melihat kamar mandi yang sangat sederhana. Sebuah bak mandi dari bahan plastik, gayung yang sudah usang dan closet jongkok. Elvam mengernyitkan dahinya, bagaimana dia bisa mandi dengan keadaan seperti ini. Bahkan ukuran kamar mandi Alia, tidak ada seperempat bagian dari luas kamar mandinya.
''Astaga, Alia. Bagaimana elo bisa mandi dengan tempat seperti ini. Tidak ada air hangat pula,'' gumam Elvan. Elvan memutuskan kembali dan menghampiri Alia.
''Alia?''
''Ada apa?''
''Itu nggak ada air hangatnya ya?''
''Mana ada sih, El. Kamu pasti nggak bisa mandi ya? kamu jijik kan?''
''Ngg-nggak kok. Gue boleh minta air hangat? sama ada sikat gigi baru nggak?'' mendengar pertanyaan Elvan, membuat Alia mendengus kesal. Alia lalu mengambilkan sikat gigi baru untuk Elvan.
''Ini sikat gigi barunya. Air panasnya tunggu dulu, biar aku siapin,'' kata Alia dengan sedikit kesal.
''Oke. Terima kasih.'' Elvan lalu duduk di dapur sambil melihat Alia memasak dan sembari menunggu air mendidih.
''Elo setiap hari seperti ini?''
''Iya, memangnya kenapa?''
''Nggak.''
__ADS_1
''Ya bedalah sama kehidupan kamu, El. Di rumah kamu semuanya ada dan serba otomatis. Mau mandi air panas, tinggal puter aja. Kalau di sini airnya di panasin dulu. Kalau di rumah kamu pakai bathup, pakai shower, closet duduk, kalau disini airnya di tampung sama ember, closetnya jongkok dan pakai gayung yang udah usang pula. Sabunnya juga pakai sabun batangan bukan sabun cair.'' Cerocos Alia yang menjelaskan detail kondisi kamar mandinya.
''Jangan marah lah. Gitu aja baper,'' timpal Elvan. Alia melihat air dalam panci yang sudah mulai mendidih, Alia segera mengangkatnya dan menyiapkan air mandi untuk Elvan.
''Silahkan Tuan Elvan. Sudah siap, silahkan anda mandi,'' kata Alia yang mempersilahkan Elvan seperti pada majikannya. Elvan pun segera menuju kamar mandi dan melempat tatapan sinis pada Alia.
...****************...
Kini Elvan tengah menikmati sarapan bersama keluarga Alia. Entah kenapa Elvan merasa bahagia, Elvan seperti mempunyai sebuah keluarga yang lengkap. Mata Elvan bergantian untuk memandang dan memperhatikan wajah Alia, Andra dan Pak Samir. Seperti tidak ada beban di mata mereka. Meskipun makan dengan menu sederhana, mereka semua sangat menikmati.
''Nak Elvan kok nggak di makan? nggak suka ya?''
''Ngg-nggak kok, Om. Suka kok,'' kata Elvan sembari menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.
''Andra gimana sekolah kamu?'' tanya Alia.
''Baik kok, Kak. Nggak ada masalah. Cuma aku di suruh ngajarin satu anak.''
''Dia cewek, Kak. Maklum anak orang berada, sekolah nilainya jelek semua. Terus aku deh yang di tunjuk buat ajarin dia. Biasanya kan yang bandel anak cowok, nah ini malah anak cewek, kan aneh Kak.''
''Ya namanya sikap dan sifat seseorang tidak berpatokan pada gender, Andra. Selagi kamu bisa bantu, ya kamu bantu aja.''
''Iya, Kak. Cuma susah banget di ajarinnya. Bawel banget,'' cerita Andra yang di sambut tawa kecil Dira.
''Sabar, Andra. Bisa jadi amal jariyah buat kamu lho.''
''Iya, Kak. Itulah nasihat kakak yang selalu aku ingat.''
__ADS_1
''Kalau Ayah, obatnya masih kan?''
''Masih kok, nak. Kamu jangan khawatir.''
''Syukurlah. Ayah kalau makan hati-hati ya. Maaf kalau menu makan Ayah harus beda sendiri.''
''Nggak apa-apa lah, nak. Yang penting bisa menyambung umur Ayah. Supaya Ayah bisa selalu mendampingi kalian.''
''Ayah, sudah lah jangan bicara seperti itu. Ayah harus selalu sehat,'' ucap Alia sambil mengusap lembut punggung tangan ayahnya.
''Alia, kamu memang luar biasa,'' gumam Elvan dalam hati.
''Memangnya Om sakit apa?'' tanya Elvan penasaran.
''Diabetes, nak. Dan sudah lama sekali. Selama ini hidup Om bergantung sama obat-obatan dan suntik insulin. Om ingin sekali di beri umur yang panjang karena belum bisa membahagiakan Alia dan Andra. Tapi terkadang lebih baik Om ingin cepat-cepat di panggil Tuhan, biar Alia dan Andra tidak perlu capek-capek bekerja. Alia dan Andra harus bekerja paruh waktu untuk menghasilkan uang. Selain untuk kebutuhan sehari-hari juga untuk membiayai pengobatan Om,'' cerita Pak Samir yang membuat Alia menitikkan air mata.
''Andra apa kamu benar-benar bekerja?'' tanya Elvan.
''Iya, Kak. Sepulang sekolah aku kerja paruh waktu di cafe. Awalnya aku diam-diam karena tidak ingin Kak Alia marah. Kak Alia selalu menyuruhku fokus sekolah tapi aku sebagai anak laki-laki tidak bisa tinggal diam, melihat kakakku bekerja sendirian. Apalagi upah laundry tidak terlalu besar.''
''Sudah Andra, kamu tidak usah cerita panjang lebar sama Elvan. Elvan tidak akan paham,'' sahut Alia. Namun Elvan mengabaikan ucapan Alia.
''Kamu sudah melakukan yang terbaik sebagai anak laki-laki, Andra. Dan untuk Om, Om harus sehat ya. Setidaknya bertahanlah untuk Andra dan Alia. Mereka masih sangat membutuhkan Om.''
''Iya nak Elvan. Terima kasih.''
''Tumben dia bijak tapi dia sendiri kacau sekali,'' gumam Alia dalam hati.
__ADS_1
"Ya Tuhan. Alia, elo benar-benar hebat. Elo bisa bertahan dan tetap bahagia dengan keadaan seperti ini. Elo itu cewek tapi elo bisa menopang keluarga elo. Kuliah dan bekerja bukanlah sesuatu yang mudah. Tapi elo bisa lakuin itu semua. Elo juga punya keluarga yang sangat peduli dan sayang sama elo. Beda sama gue. Nggak ada yang peduli sama gue. Dan disini gue bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga. Semakin dekat sama elo, entah kenapa perasaan gue juga semakin aneh," gumam Elvan dalam hati
...Bersambung... Jangan lupa like, komen dan vote ya, makasih 🙏😘...