
Keesokan harinya, Andra sangat terkejut saat melihat motor sport sudah bertengger di halaman depan rumahnya.
''Ayah! Ayah! Ini motor siapa?'' teriak Andra dari luar. Pak Samir yang baru saja keluar dari kamar mandi, berjalan menuju kedepan menghampiri Andra.
''Ada apa, Nak?''
''Ini motor siapa disini, Yah? Kenapa ada di depan rumah kita?'' Andra pun tampak kebingungan begitu juga dengan Pak Samir.
''Ayah sendiri tidak tahu. Mungkin punya orang numpang parkir kali.'' Kata Pak Samir. Tak lama kemudian terlihat mobil mewah Elvan berhenti disana.
''Nah, itu mobilnya Kak Elvan. Tumben pagi-pagi sudah datang kemari, Yah.'' Kata Andra.
''Mungkin ada keperluan, Nak.''
Elvan kemudian keluar bersama Alia.
''Assalamualaikum, Ayah-Andra,'' sapa Elvan.
''Waalaikumsalam, Nak. Kalian pagi sekali?''
Elvan kemudian mencium punggung tangan Pak Samir, begitu juga dengan Alia.
''Iya, Ayah. Sebelum ke kantor, sekalian nengok Ayah. Ayah sehat kan?'' tanya Elvan.
''Ayah, sehat kok.''
''Andra, ini motor baru kamu?'' tanya Elvan.
''Tidak Kak. Aku sendiri bingung kenapa ada motor sebagus ini di depan rumah.'' Kata Andra sambil celingak-celinguk.
''Andra, ini motor untuk kamu.'' Kata Elvan.
''Yang benar, Kak? Tapi aku pas buka pintu motor ini sudah di depan rumah.''
Andra tersenyum lalu mengeluarkan kunci motor dari saku celananya.
''Ini kuncinya, Ndra. Kamu bisa pakai sekolah, sambil menunggu motor kamu selesai di betulkan.''
''Kak, tidak usah! Aku naik angkot saja. Ini berlebihan Kak.'' Kata Andra sambil memberikan kembali kunci motor itu pada Elvan.
''Andra, aku serius. Kamu jangan menolaknya. Anggap saja ini hadiah. Kamu kan adikku juga. Ayolah Andra, terima ini! Aku akan sedih dan kecewa kalau kamu menolak pemberian ku ini.'' Kata Elvan yang mengembalikan kembali kunci motor itu pada genggaman Andra.
''Kak, aku tidak mau merepotkanmu. Aku ingin punya motor tapi dengan hasil kerja kerasku sendiri. Aku tidak mau di anggap memanfaatkan Kakak.''
''Hmmm kenapa pikiran kalian bisa sama sih?'' kata Elvan heran sambil menatap Andra dan Alia bergantian.
''El, karena kami ini memang orang kecil dan Ayah selalu mengajarkan kami untuk menjaga harga diri sekalipun kami orang miskin. Dan pantang bagi kami untuk meminta belas kasihan pada seseorang. Jadi kalau kita menginginkan sesuatu, kita harus bekerja untuk mendapatkannya. Hadiah seperti ini, tidak membuat kita terbang ke atas awan, El.''
Jelas Alia.
''Aku mengerti istriku sayang tapi sekarang kan berbeda. Ayah adalah Ayahku juga dan Andra adikku juga jadi sudah sewajarnya kalau seorang Kakak atau anak memberikan hadiah untuk adik ataupun orang tuanya.'' Kata Elvan.
''Ayah, tolong bantu aku. Aku anak Ayah juga kan?'' sambung Elvan yang merengek pada Pak Samir.
''Karena ini hadiah dari Kakakmu, jadi terimalah Andra. Bersyukur sekali kamu memiliki Kakak yang bertanggung jawab seperti Nak Elvan ini.'' Kata Pak Samir sambil merangkul menantunya.
__ADS_1
''Baiklah kalau Ayah mengijinkan, aku akan menerima hadiah dari Kak Elvan.'' Kata Andra dengan senyum lebarnya.
''Nah, gitu dong. Ya anggap saja ini hadiah sebagai penghargaan siswa paling pintar di sekolah. Supaya kamu lebih semangat untuk belajar dan sekolah,'' kata Elvan. Andra kemudian memeluk kakak iparnya itu.
''Terima kasih ya, Kak. Aku janji akan semangat belajar dan akan membuktikan pada Kak Elvan, kalau aku bisa menjadi orang yang sukses.''
''Sama-sama Andra. Aku tunggu pembuktianmu.'' Kata Elvan yang berusaha memberikan semangat untuk Andra.
''El, aku disini saja ya. Aku ingin menemani Ayah. Boleh kan?''
''Boleh. Nanti setelah pulang kantor, aku akan menjemputmu.'' Kata Elvan sambil membelai wajah Alia. ''Ayah kalau begitu, aku pamit. Titip Alia ya, Yah.''
''Pasti Nak. Kamu hati-hati ya.''
''Iya. Assalamulaikum.''
''Waalaikumsalam.''
-
Sesampainya di kantor, Elvan segera masuk ke ruangannya. Ia sangat terkejut saat ada Sandra yang sudah menunggu di ruangannya.
''Sandra, sejak kapan kamu disini?''
''Hei El. Aku sudah disini tiga puluh menit yang lalu. Aku kesini ingin membahas proyek baru kita.''
''Tumben sekali kamu sangat bersemangat.''
''Ya mau gimana lagi, El. Aku kan satu-satunya penerus perusahaan Papa. Mau tidak mau, aku harus melanjutkannya.''
''Iya dia tahu. Aku sudah cerita dengannya.''
''Kalau begitu kita pergi ke lokasi langsung saja. Karena hari ini adalah hari pertama lahan di bangun.''
''Oke. Dengan senang hati. Tapi hari ini aku tidak membawa mobil, aku naik taksi. Soalnya mobil aku sedang masuk bengkel.''
''Ya sudah naik mobilku saja.''
''Apa Alia tidak marah?''
''Tentu saja tidak. Aku juga sudah cerita kalau perusahaan kita kerja sama. Dia istri yang sangat pengertian.''
''Syukurlah. Aku khawatir kalau dia salah paham.''
''Baiklah kalau begitu kita langsung berangkat saja.''
''Oke.''
Akhirnya Elvan dan Sandra pergi bersama menuju lahan proyek terbaru mereka. Berkat bantuan dari perusahaan Elvan, perusahaan Sandra terbantu untuk melanjutkan proyek itu.
-
''Alia, bagaimana kabar Rendra ya? Apa dia sudah menikah?''
''Sepertinya belum, Yah. Tapi dia juga sudah punya calon, kebetulan Alia juga mengenal calonnya Rendra.''
__ADS_1
''Ayah sudah lama sekali tidak berjumpa dengannya. Ayah ingin sekali mengunjungi cafenya. Ayah ingin makan sup iga buatannya.''
''Ya sudah kita pergi saja naik taksi, Yah. Sekalian aku membeli untuk makan siang Elvan nanti.''
''Baiklah Ayah bersiap dulu ya.''
''Iya, Yah.''
Setelah bersiap, Alia dan Pak Samir lalu pergi menuju cafe Rendra. Sesampainya disana, pelayan datang menghampiri mereka dan menyodorkan buku menu. Alia lalu memesan makanan yang di inginkan oleh Ayahnya.
''Sepertinya Rendra tidak ada di cafe, Yah.''
''Tidak apa-apa. Mungkin Rendra juga sedang sibuk.'' Kata Pak Samir. Baru saja dibicarakan, Rendra lalu muncul. Ia tampak sibuk melayani para pembeli. Sampai akhirnya pandangannya tertuju pada Alia dan Pak Samir. Rendra menyunggingkan senyumnya lalu mendekat kearah meja Alia.
''Assalamualaikum Alia, Om Samir,'' sapa Rendra.
''Waalaikumsalam,'' jawab Alia dan Pak Samir dengan kompak.
''Alia, kamu disini? Ya Allah, sudah lama sekali kamu tidak mampir. Bagaimana kabar kamu dan Om Samir?''
''Alhamdulillah aku baik, Ren. Ayah juga baik kok. Ayah yang mengajak kesini karena ingin makan sup iga kamu.''
''Iya Nak Rendra, apalagi kita juga sudah lama tidak bertemu. Kapan kamu akan menikah?''
''Doakan saja ya, Om. Kalau begitu kamu dan Ayah kamu tunggu, aku akan membuatkan sup iga dengan tanganku sendiri.''
''Baiklah, terima kasih ya Ren.''
''Oke, sama-sama.''
Rendra kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan orderan dari Alia dan Ayahnya. Tak butuh waktu lama, Rendra membawakannya sendiri menuju meja Alia.
''Nah, ini sudah jadi. Silahkan Om.''
''Terima kasih ya. Dari aromanya memang terlihat sangat lezat.''
''Oh ya Al, apa kesibukan kamu sekarang? Dan Elvan?''
''Aku sibuk menjadi istri saja, Ren. Elvan sedang ke kantor, sejak Kak Endrew memberikan perusahaan itu pada Elvan, Elvan jadi semakin sibuk.''
''Oh begitu. Aku rencana mau membuka cabang baru, siapa tahu kamu mau bergabung?''
''Nanti aku bicarakan lagi sama Elvan ya. Oh ya Sandra juga kerja sama dengan Elvan.''
''Masa sih?''
''Iya. Memangnya Sandra tidak cerita? Aku baru dengar kemarin dari Elvan. Sandra menggantikan Papanya yang sedang sakit, kebetulan proposal kerja sama itu masuk saat Kak Endrew yang masih mengurusnya. Jadi Elvan hanya melanjutkan saja.''
''Oh jadi begitu. Mungkin Sandra terlalu sibuk jadi dia belum sempat cerita kalau mereka kerja sama. Ya sudah kalian selamat menikmati, aku kebelakang dulu.''
''Iya Ren. Makasih ya.''
Rendra kemudian berlalu menuju ruangannya.
''Kenapa Sandra tidak cerita kalau dia bekerja sama dengan Elvan?'' gumam Rendra penuh tanya.
__ADS_1
Bersambung...