Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"

Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"
EPS.105 Fandi&Leon Mencari Istri


__ADS_3

Fandi dan Leon akhirnya memutuskan untuk pergi menuju kantor Diana dan Rani. Fandi telah membawakan makanan yang di inginkan oleh Diana.


''Tok tok tok tok!" suara Fandi mengetuk pintu ruangan Diana.


''Masuk!" sahut Diana dari dalam.


''Selamat siang Lady Diana,'' sapa Fandi dengan ramahnya. Fandi terkesima melihat perubahan Diana yang kini telah berhijab.


''Fandi! ngapain kesini?'' kata Diana yang tampak terkejut dengan kedatangan Fandi.


''Ya ampun, Di. Kita udah lama nggak ketemu, bukanya tanya kabar eh malah gitu sambutannya. Kamu juga sudah berubah ya? makin cantik pakai hijab,'' kata Fandi.


''Sorry-sorry, habisnya aneh aja kamu tiba-tiba kesini. Makasih juga untuk pujiannya, semoga aku bisa istiqomah.'' Ucap Diana terkekeh.


''Oh ya ini aku bawain kamu sesuatu.'' Kata Fandi sembari menyodorkan beberapa kantong plastik yang ada di tangannya.


''Apa ini?''


''Buka aja. Gimana kalau kita makan siang bareng?''


''Ya ampun, Fan. Aku lagi pingin banget makan ini,'' kata Diana saat membongkar isi kantong plastik itu.


''Serius, Di? kebetulan aja aku juga pingin. Akhirnya aku putusin deh buat ngajakin kamu makan siang bareng. Sekalian kita ngobrol, siapa tahu kedepannya kita bisa kerja sama.'' Kata Fandi penuh dengan modus playboynya.


''Ah yang bener? nanti cewek-cewek kamu marah lagi,'' goda Diana.


''Cewek yang mana sih? aku single, Di.''


''Ups lupa! playboy kan emang nggak pernah ngaku kalau punya pacar ya. Ngakunya always single,'' kata Diana dengan tawa kecilnya.


''Ya ampun, Di. Aku serius kali. Aku juga pingin nikah kayak Elvan. Lihat Elvan dan Alia bahagia, aku jadi pingin.''


''Eh, nikah itu bukan sekedar pingin aja, Fan. Nikah itu ibadah dan niatnya harus dari hati. Bukan karena lihat teman nikah, kamu jadi latah pingin ikutan. Emangnya udah siap apa?'' kini keduanya telah duduk di sofa sembari menikmati makan siang bersama.


''Kayaknya udah deh. Secara materi sudah pasti bisa.''


''Kalau secara mental, udah siap belum? karena setelah menikah, seluruh waktu kita hanya untuk keluarga. Kamu nggak bisa hangout sesuka kamu di klub karena pasti sudah ada istri di rumah.''


''Aku pasti bisa, Di. Terkadang aku juga mikir sih, sebenarnya tujuan hidup aku ini apa? aku minum, have fun di klub sama cewek-cewek tapi kayak ada yang kosong di hati aku. Habis have fun, ya udah rasanya hampa lagi. Aneh nggak sih, Di?''


''Akhirnya kamu merasa seperti itu juga ya, Fan. Coba deh kamu dekatkan diri kamu sama Allah. Perbanyak ibadah dan melakukan kebaikan, kamu mulai saja dari hal kecil. Setelah itu rasakan, bagaimana perasaan kamu?''


''Kamu makin dewasa ya, udah nggak galak lagi.''


''Siapa bilang nggak galak? kalau cowonya modelan kamu, aku nggak segan-segan buat nonjok,'' kata Diana seraya tertawa.


''Kalau aku berubah, apa kamu mau menerima aku?''


''Menerima gimana sih? kita bukanya temenan ya.''


''Maksudnya terima aku sebagai suami kamu.'' Mendengar pengakukan Fandi, Diana terkejut dan terbatuk.


''Uhuk, uhuk, uhuk, uhuk!" Diana segera meminum air mineral yang ada di hadapannya sambil memukul dadanya.

__ADS_1


''Diana, are you okay?'' tanya Fandi dengan panik.


''I-iya nggak apa-apa, keselek aja.'' Kata Diana sembari mengatur nafasnya kembali.


''Jadi gimana, Di?'' tanya Fandi memastikan kembali.


''Apanya yang gimana?'' tanya Diana pura-pura tidak tahu.


''Aku akui sih, aku memang bukan cowok baik. Aku playboy, brengsek, ya semua hal buruk ada sama aku lah. Tapi meskipun begitu, aku juga ingin mendapatkan pasangan yang baik dalam hidup aku. Yang mau menerima aku apa adanya.''


''Terus kenapa harus aku? memangnya kamu yakin kalau aku bakalan mau sama kamu?''


''Ya kita bisa mencobanya. Aku akan membuktikan kalau aku bisa menjadi yang lebih baik.''


''Kenapa harus aku? kenapa bukan gadis lain? stok cewek kamu pasti banyak juga kan?''


''Ya masalahnya, tidak ada yang lebih baik dari kamu, Di. Kamu tidak perlu menjawab sekarang. Aku akan berubah dan memantaskan diri aku untuk kamu.''


''Buktikan saja, Fan.'' Kata Diana yang seolah menantang Fandi.


''Oke, aku akan buktikan. Thanks ya, Di udah kasih aku kesempatan.''


''Ingat ya, aku tidak mudah di luluhkan. Jadi, jangan berharap kalau aku akan dengan mudah menerima kamu. Kamu pikir, aku tidak sedang menyukai seseorang apa.''


''Ya aku akan berusaha merebut hati kamu kembali. Sebelum janur kuning melengkung, aku akan berjuang.''


''Oke, kita lihat saja nanti.''


...****************...


''Rani!" panggil Leon saat melihat Rani hendak masuk ke dalam ruangannya.


''Leon,'' gumam Rani. Leon lalu berlari kecil mendekat ke arah Rani.


''Hai, Ran. Ini beneran Rani kan?'' kata Leon terbata. Ia juga terpesona melihat perubahan Rani yang semakin cantik dan anggun saat mengenakan hijab.


''Iya, ini aku Leon. Ada angin apa kemari?'' ketus Rani.


''Ketus amat sih, Ran. Aku kesini niat baik kali,'' kata Leon. Rani tetap saja menatap Leon penuh selidik.


''Nggak di ajak masuk nih?'' sambung Leon.


''Aku sibuk,'' ketus Rani.


''Ini kan jam makan siang. Aku kesini mau ngajakin kamu makan rujak sama es kelapa muda. Siang-siang gini kan seger. Habis aku juga bete di kantor. Fandi, Elvan, semuanya sibuk,'' cerocos Leon dengan nada penuh pengaduan dan modus.


''Hah? rujak?'' kata Rani dengan mata membulat. Matanya membulat penuh bahagia mendengar apa yang di bawa oleh Leon.


''Iya rujak. Mau nggak nih?'' tanya Leon.


''Mau banget lah, kebetulan aku lagi pingin. Ya udah kita makan di taman belakang aja.'' Kata Rani.


''Boleh deh,'' kata Leon. Rani dan Leon lalu berjalan menuju taman belakang kantor. Keduanya duduk di bangku kayu, di bawah pohon yang rindang.

__ADS_1


''Sini aku bantu buka,'' kata Leon.


''Thanks ya.'' Kata Rani sembari melahap rujak di hadapannya.


''Sama-sama. Oh ya, kamu sekarang pakai hijab?''


''Iya. Memangnya kenapa?''


''Nggak apa-apa. Kamu semakin cantik dan anggun. Aku pangling sih lihat kamu,'' kata Leon.


''Halah, basi banget. Rayuan playboy kamu sama sekali tidak akan mempan.''


''Siapa sih yang merayu? aku serius kali, Ran. Kamu mau nggak jadi istri aku?'' kata Leon tanpa banyak basa-basi. Rani pun juga terkejut dengan apa yang Leon ucapkan, sampai-sampai membuatnya terbatuk.


''Hati-hati, Ran.'' Kata Leon sambil menyodorkan es kelapa muda. Rani pun meminumnya untuk meredakan batuknya karena kaget dengan ucapan Leon.


''Gimana? udah enakan?'' sambung Leon.


''Iya udah enakan kok.''


''Jadi gimana Ran?''


''Apanya yang gimana, Le?''


''Ya tadi ajakan gue.''


''Tadi beneran serius? serius mau nikah? emang udah siap? terus kenapa aku yang kamu ajak? sudah habis stok cewek-cewek kamu?'' cerocos Rani yang seperti sudah paham kalau lelaki di hadapannya itu hanya bercanda.


''Serius, Ran. Ngapain sih aku bohong. Masa iya aku cari istri sembarangan. Aku saat ini beneran single, Ran. Ya mungkin sudah saatnya aku berubah. Kalau aku cuma main-main, mana mungkin aku datang menemui kamu, Ran. Kamu juga sedang sendiri kan?''


''Kebetulan iya. Aku sendiri sudah nggak mau pacaran-pacaran nggak penting. Sudah saatnya serius.''


''Nah, aku juga serius Ran.''


''Rasanya mustahil seorang Leon serius mau menikah. Kalau kamu menikah, kamu tidak akan bisa sebebas dulu, Le. Tanggung jawab kamu juga bertambah dan semakin besar. Apa yang bisa kamu berikan sama aku? sampai kamu berani mengajakku menikah?''


''Aku jamin kamu sudah pasti bahagia, Ran. Tampan sudah pasti. Materi, kamu pasti tidak akan kekurangan.''


''Bagi aku itu semua tidak terlalu penting, Le. Ada hal yang lebih penting daripada itu.''


''Memangnya apa, Ran kalau bukan itu?''


''Apa kamu bisa membimbing aku ke surga-Nya?'' mendengar pertanyaan Rani, seketika membuat Leon terdiam.


''Kalau itu, aku akan berusaha, Ran. Aku akan belajar dan kamu bimbing aku. Aku juga ingin berubah menjadi seseorang yang lebih baik lagi.''


''Jangan lakukan itu untuk aku, Le. Lakukan itu karena kamu sebagai umat-Nya. Tunjukkan rasa cintamu pada-Nya, baru setelah itu aku bisa mempertimbangkan tawaran kamu. Bekal dunia itu mudah di cari dan pasti akan habis, Le. Tapi bekal akhirat itu adalah bekal yang kekal karena kesana kita semua akan kembali.''


''Iya, Ran. Aku janji akan berubah.''


''Aku tidak butuh janji kamu tapi bukti.''


''Baiklah, aku akan membuktikannya. Aku harap kamu bersabar untuk menunggu aku.''

__ADS_1


''Insya Allah, Le.'' Keduanya lalu saling melempar senyum dan saling menatap sejenak.


Bersambung...


__ADS_2