
Elvan kemudian mendekat ke arah Alia. Elvan meminta Alia untuk berdiri menghadapnya. Elvan membelai wajah cantik istrinya. Di rabanya kepala juga rambut Alia, kemudian Elvan mencium kening Alia penuh kasih sayang.
''Alia, aku sangat bahagia karena sekarang kamu sudah sah menjadi istriku. Apa kamu bahagia?''
''Iya, aku juga bahagia.'' Elvan kemudian memeluk tubuh Alia. Terasa sesuatu yang begitu kenyal saat ia memeluk Alia. Elvan bisa merasakan jika Alia tidak mengenakan bra. Berbeda saat ia memeluk Alia, disaat pesta tadi. Elvan tersenyum nakal, saat mengusap punggung Alia, ia tidak menemukan tali bra. Elvan kemudian melepaskan pelukannya. Ia menatap lekat wajah wanita di hadapannya. Elvan kemudian mengangkupkan kedua tangannya pada wajah Alia. Elvan memberanikan diri mengecup bibir Alia. Dan akhirnya bibir mereka bersentuhan. Alia merasakan tubuhnya memanas, jantungnya berdegup kencang. Alia merasakan ada yang berdenyut di bawah sana, saat Elvan mulai mencium dan memainkan bibirnya dengan sangat lembut. Nafas mereka saling memburu. Alia lalu memberanikan diri membuka bibirnya dan membalas ciuma Elvan. Tangan Alia mengenggam erat sisi baju Elvan. Elvan kemudian melepaskan ciumannya. Elvan kemudian mulai mengecup leher Alia. Tentu saja Alia merasa geli namun juga ada rasa nikmat. Alia hanya bisa mendesis nikmat. Sungguh nikmat yang luar biasa, ketika kemesraan ini dilakukan setelah menikah. Elvan kemudian mengangkat tubuh Alia mendudukkan Alia di bibir tempat tidur. Elvan melepas baju tidurnya dan melempar sembarangan. Terlihat dada bidang Elvan yang berbulu tipis juga perut Elvan yang six pack. Sungguh sebuah pemandangan yang yang baru pertama kali Alia lihat dalam hidupnya. Tangan Elvan kemudian melepas tali kimono milik Alia namun tiba-tiba saja Alia mencegahnya.
''Jangan, El!" ucap Alia lirih.
''Kenapa?''
''Aku... aku malu. Apakah kita benar-benar telanjmmmmpppphhhhh,'' belum sempat Alia melanjutkan ucapannya, Elvan sudah membungkam Alia dengan bibirnya. Membuat Alia merasa sesak karena Elvan bagaikan vacum cleaner. Elvan kemudian melepaskan dan tampak bibir Alia memerah. Elvan yang nakal pun tersenyum lalu Elvan kemudain melanjutkan aksinya melepas tali kimono milik Alia. Lalu Elvan menurunkannya pelan. Alia hanya bisa memejamkan matanya saat Elvan mulai menurunkan kimono Alia. Tampak sebuah bukit kembar yang sangat indah membulat sempurna, dengan ujung yang begitu ranum.
''Astaga! Istriku benar-benar masih ori,'' gumam Elvan dalam hati. Alia yang masih memejamkan matanya, seolah menjadi kesempatan bagi Elvan untuk mencicipi bukit kembar itu. Elvan benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatam indah di depan matanya. Alia yang sama sekali belum mahir bercinta hanya bisa menurut dan malu-malu setiap kali Elvan ingin bermain-main dengan tubuh Alia. Dan entah berapa kali Alia menutup tubuhnya dengan selimut karena ia merasa malu dalam keadaan telanjang seperti itu. Terlebih saat melihat Elvan tak mengenakan sehelai benang pun. Sesuatu yang tak pernah Alia lihat sebelumnya. Membuat Alia tercekat dan semakin berdebar. Canggung dan aneh. Namun berkali-kali Elvan membujuknya dan merayunya untuk bersikap biasa saja.
__ADS_1
''Sayangku Alia. Pahala besar yang akan kamu dapat ketika kamu bisa memuaskan suamimu. Kamu tidak usah banyak bergerak. Cukup aku saja yang bekerja. Aku adalah suamimu dan kamu adalah istrimu. Sangat halal kita melakukan ini.'' Bisik Elvan pelan.
''I-iya, baiklah." Ucap Alia pasrah. Malam ini Elvan bekerja sangat keras bahkan seperti bekerja sendiri. Alia yang benar-benar lugu dan polos dalam hal bercinta, memang terlalu pasif. Namun bukan masalah besar bagi Elvan, justru Elvan sangat senang karena ia bisa menikmati tubuh istrinya. Hanya desahan dan erangan nikmat yang terdengar dari bibir Alia. Elvan semakin tidak sabar, cinta dan nafsunya melebur menjadi satu. Perjuangan yang keras dan berat bagi Elvan, saat akan membobol gawang pertahanan milik Alia. Beberapa kali Elvan harus menghentikannya karena Alia menagis dan merintih kesakitan. Namun bukan Elvan namanya kalau ia tidak bisa menghentikan tangis Alia. Dengan sabar dan lembut Elvan merayu Alia, sampai akhirnya junior yang kokoh tak tertandingi berhasil menghujam gawang hingga roboh. Teriakan dan desahan panjang keluar dari bibir keduanya. Bercak kesucian pun nampak sebagai bukti jika hal itu selalu terjaga. GOOOAAAALLLLLLLLL!?!?!?! Tim kesebelasan teriak. Malam itu Elvan hanya bisa menghajar Alia satu babak saja. Elvan sadar bahwa ini pengalaman pertama Alia. Elvan kemudian memeluk Alia dan akhirnya mereka tertidur. Alia begitu cepat terlelap karena Alia merasa ada sesuatu yang perih di bawah sana. Tulangnya bahkan rasanya remuk. Elvan tersenyum puas, malam ini bisa memenangkan tubuh Alia. Elvan kemudian pun tertidur.
...****************...
Keesokan harinya, Elvan bangun terlebih dahulu. Di kecupnya Alia dengan penuh kasih sayang. Elvan segera beranjak dari tempat tidurnya dan segera mandi. Ingin rasanya pagi ini ia menyerang Alia di dalam kamar mandi. Namun ia tidak tega jika membangunkan Alia. Ia tidak mau terburu-buru dan membuat Alia kehilangan tenaga. Apalagi Elvan menyadari bahwa juniornya itu sangat luar biasa. Setelah selesai mandi, Elvan lah yang berinisiatif menyiapkan sarapan untuk Alia. Hanya sebuah sandwich dan segelas jus jeruk saja yang Elvan siapkan. Elvan kemudian membawa sarapan itu ke kamar.
''Alia benar-benar sangat pulas. Bahkan ia masih tak mengenakan pakaian dari semalam. Apakah aku terlalu kuat sampai membuatnya benar-benar terseok-seok,'' gumamnya dengan senyum penuh kemenangan.
''Kamu nyenyak banget tidurnya. Ini sudah jam 7 lho.''
''Apa? jam 7? Ya Allah, kamu kenapa tidak membangunkan aku, El. Kita sama-sama melewatkam sholat subuh pertama kita.'' Kata Alia dengan mata terbelalak.
''Maaf, aku sendiri baru bangun. Aku juga sudah membuatkanmu sarapan.''
__ADS_1
''Apa? sarapan? Ya Allah, aku bahkan melewatkan membuat sarapan pagi untukmu.'' Alia kemudian berusaha bangun namun sekujur tubuhnya sangat sakit. Apalagi ada rasa nyeri di bawah sana. Alia yang tak sadar menyingkap selimutnya begitu saja dan hendak menuju kamar mandi.
''Astaghfirullah, bajuku mana? kenapa aku seperti ini?'' tanya Alia dengan polosnya.
''Itu berserakan di lantai. Terima kasih ya Alia untuk semalam. Terima kasih juga kamu begitu menjaganya untuk aku.'' Peluk Elvan pada Alia yang masih tanpa mengenakan sehelai benangpun pakaian.
''Iya. Sudah menjadi tugasku untuk menjagamu. Tapi kenapa dada aku merah? apa banyak nyamuk?''
''Hehehe kamu benar-benar polos sekali. Ini adalah stempel dari ku, maafkan aku yang memberikan banyak tanda pada leher dan juga dads indahmu. Ini tanda bahwa kamu resmi milikku.''
''Elvan, kamu ini. Ya sudah aku mandi dulu ya.'' Elvan kemudian melepaskan pelukannya sementara Alia memumungut kimononya kembali dan segera menuju kamar mandi.
''Aduhhh, semakin nafsuan aja lihat istri,'' gumam Elvan dalam hati.
Bersambung......
__ADS_1