
Keesokan paginya, seperti biasa, Alia pergi ke kampus bersama Andra. Alia sangat terharu, saat sampai di halaman kampus, Rani dan Diana sudah menunggu Alia.
''Kalian udah lama disini?'' tanya Alia pada Rani dan Diana.
''Kita juga baru datang. Dan kita sengaja nungguin kamu, Al. Kita kan setia kawan. Kita tahu kamu lagi sakit jadi kita jemput kamu disini,'' kata Diana.
''Ya Allah, aku terharu banget sama kalian. Padahal kemarin kalian kan udah jengukin aku.''
''Ya udah ayo ke kelas,'' kata Rani. Rani dan Diana lalu berjalan beriringan mengapit Alia. Alia sangat senang memiliki sahabat yang tulus seperti Rani dan Diana. Rendra yang baru saja tiba di kampus, segera menuju kelas Alia. Disana ia melihat Alia sedang bercengkrama dengan Rani dan Diana.
''Assalamualaikum, Alia,'' sapa Rendra dengan suaranya yang lembut.
''Hei, Ren. Waalaikumsalam,'' balas Alia dengan ramah.
''Gimana kaki kamu?''
''Alhamdulillah udah baikan kok.''
''Alhamdulillah kalau gitu, Al.'' Kata Rendra sembari menatap lekat wajah cantik Alia.
''Ehem! Belum muhrim,'' celetuk Rani yang melihat mata Rendra enggan lepas dari wajah Alia.
''Hehehe, maaf. Ya udah aku ke kelas dulu ya.''
''Iya, Ren.''
''Baik-baik ya kamu.''
''Iya makasih, Ren.'' Kata Alia. Sementara mobil Elvan baru saja memasuki halaman kampus. Fandi dan Leon segera menghampiri Elvan yang baru saja datang.
''El, elo nggak apa-apa kan?'' tanya Leon.
''Nggak!'' singkat Elvan.
''Kenapa elo nggak mau bareng sama kita? biasanya kita juga bareng terus,'' sahut Fandi.
''Sorry ya. Gue cuma lagi ingin sendiri aja.'' Mendengar jawaban Elvan, justru semakin membuat Fandi dan Leon merasa cemas.
''Oh ya elo di panggil ke ruang dosen. Gara-gara ujian kemarin,'' kata Fandi.
''Oke, gue kesana.'' Ucap Elvan sembari berlalu meninggalkan kedua sahabatnya itu.
''Tu bocah kenapa ya? selalu berubah nggak jelas auranya,'' kata Fandi.
''Iya. Auranya awur-awuran,'' ceplos Leon dengan tawanya. Elvan dengan langkah santainya segera menuju ruang dosen.
''Bapak panggil saya?'' tanya Elvan dengan santai. Belum di suruh, Elvan sudah duduk sembari menyilangkan kakinya bahkan dengan kacamata yang masih bertengger di wajah tampannya. Pak Wahyu, hanya bisa menghela nafas panjang melihat kelakuan Elvan yang tak pernah berubah.
''Kemarin kamu kemana? tidak mengikuti ujian akhir. Kamu tahu kan, nilai ujian kamu semuanya E. Bahkan dari semua mata kaliah hanya lima kali kamu mengikuti ujian. Kamu bisa mengulang lagi, Elvan.'' Kata Pak Wahyu dengan suara meninggi.
__ADS_1
''Ya udah lah, Pak. Daripada ngulang, mending saya drop out. Toh kampus ini milik Papa saya. Sekalipun saya nggak kuliah, saya tetap bisa sukses kok.'' Jawab Elvan dengan entengnya.
''Baik kalau itu memang keputusan kamu. Saya akan menghubungi Tuan Tama.''
''Oh, mau ngadu. Aduin aja, Pak. Saya nggak takut. Apa sih pentingnya nilai kalau nanti saya juga akan menjadi pewaris utama kekayaan Papa saya. Kenapa kesuksesan seseorang selalu di patok dengan nilai?'' kata Elvan dengan sinis.
''Kamu ini memang benar-benar keterlaluan ya. Jangan mentang-mentang, kamu bisa seenaknya. Kampus ini juga punta aturan dan standrat untuk setiap mahasiswanya. Saya disini juga punya tanggung jawab pada seluruh mahasiswa yang saya ajar. Paham kamu? Saya minta, kamu mengikuti ujian ulang semua mata kuliah saya. Saya akan meminta mahasiswa lain untuk memberikan bimbingan khusus sama kamu.''
''Terserah Bapak saja, pusing,'' ucap Elvan sembari beranjak dari duduknya dan pergi berlalu tanpa pamit.
''Elvan! Keterlaluan kamu ya,'' bentak Pak Wahyu sembari menggebrak meja. Namun Elvan tetap acuh dan berlalu begitu saja. Pak Wahyu pun mencoba menghela nafas dengan tenang. Berusaha menteralkan emosinya karena sikap Elvan yang tidak pernah berubah.
''Elvan!" panggil Sandra yang melihat Elvan keluar dari ruangan dosen. Langkah Elvan pun terhenti. Sandra berlari dan memeluk Elvan dari belakang.
''Please! jangan menghindar. Aku kangen banget sama kamu. Kita udah lama nggak hangout bareng, El,'' kata Sandra dengan manja.
''Lepasin, San!" bentak Elvan.
''Nggak! Kemarin aku lihat kamu gendong cewek. Siapa dia? Sepertinya dia bukan tipe kamu,'' kata Sandra. Elvan lalu dengan paksa melepaskan tangan Sandra.
''Bukan urusan elo,'' ketus Elvan. Elvan kembali melanjutkan langkahnya. Namun Sandra terus mengejarnya dan berusaha mengimbangi langkah Elvan. Langkah Elvan terhenti di kantin.
''Kamu nggak ke kelas?'' tanya Sandra.
''Ngapain sih ngikutin orang melulu.''
''Aku kangen sama kamu, El. Kangen banget. Kamu mau makan apa biar aku traktir deh.''
''Oke,'' jawab Sandra dengan senang hati.
''Ya lumayan lah, bisa jadi pelayan,'' gumam Elvan dalam hati. Sandra segera beranjak dari duduknya dan memesak mie ayam untuk Elvan. Tak butuh waktu lama, Sandra sendiri yang membawa nampan berisi mie ayam dan jus jeruk.
''Ini, silahkan,'' kata Sandra dengan senyumnya.
''Thanks," singkat Elvan. Elvan pun memakannya dengan lahap tanpa ada rasa jaim di hadapan Sandra.
''Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi, El.''
''Pertanyaan yang mana?''
''Cewek kemarin.''
''Gue udah bilang itu bukan urusan elo. Budek ya,'' bentak Elvan.
''Sorry. Aku nggak akan tanya.''
''Tapi gue harus cari tahu siapa cewek itu. Cewek itu jelas bukan tipe Elvan. Tapi kenapa Elvan sampai gendong tuh cewek dan bawa cewek itu ke mobilnya. Pasti ada yang nggak beres nih,'' gumam Sandra dalam hati.
...****************...
__ADS_1
Mata kuliah pun selesa dan Rendra sudah tampak berdiri di depan kelas Alia.
''Al, pangeran kamu tuh udah datang,'' bisik Rani pada Alia.
''Apaan sih kalian ini,'' kata Alia sambil tersipu.
''Lihat tuh udah senyum-senyum aja si Rendra. Udah sana,'' kata Diana.
''Ya udah sama kalian ya. Kalau berdua kan nggak enak,'' kata Alia.
''Ya udah nanti kita nyusul deh,'' kata Rani.
''Iya udah sana. Kasihan tuh udah berdiri kayak satpam,'' celetuk Diana. Alia lalu beranjak dari duduknya.
''Ada apa Ren?'' tanya Alia malu-malu.
''Ke kantin yuk!''
''Boleh. Tapi aku ajak Rani dan Diana ya?''
''Iya, boleh kok.''
''Udah kalian duluan aja. Nanti kita nyusul. Kita mau nemuin dosen dulu,'' sahut Rani.
''Oh gitu. Ya udah aku ajak Alia duluan ya,'' kata Rendra.
''Oke, Ren,'' jawab Rani. Rendra dan Alia dengan perlahan melangkahkan kaki menuju kantin. Rendra begitu ingin menghabiskan waktu dengan Alia lebih lama. Begitu juga dengan yang Alia rasakan. Namun rasa di hati mereka masih terbentengi kuat oleh iman dan islam jadi mereka sangat paham akan batasan.
''Ren, kemarin Andra cerita katanya kamu sama cewek di cafe ya? maaf ya kalau aku terkesan lancang dan mencampuri urusan kamu,'' kata Alia dengan hati-hati.
''Oh itu iya nggak apa-apa. Itu Sandra. Dia anak kampus sini juga kok. Itu lho anak fashion yang katanya primadona kampus ini. Dia cuma balas kebaikan aku aja kok soalnya aku pernah tolongin dia. Yah daripada dia mau traktir di tempat lain jadi aku ajak ke cafe. Sekalin kan bisa nambahin omset cafe,'' certia Rendra dengan terkekeh.
''Dasar kamu, Ren. Emang ya kalau pikirannya udah ke bisnis,'' celetuk Alia.
''Hitung-hitung promosi lah, Al. Sekali-kali kamu mau ya aku ajak ke cafe.''
''Iya boleh. Oh ya, aku makasih banget karena sejak Andra kerja di tempat kamu, kamu selalu bawain dia makanan. Tapi maaf juga kalau Andra harus menolaknya. Aku tidak mau bergantung sama orang lain, Ren. Dan aku khawatir kalau ada kesenjangan sosial antar karayawan kamu.''
''Oh itu, iya nggak apa-apa kok. Aku paham maksud kamu. Maafin aku juga kalau aku terkesan lancang, aku hanya berusaha berbuat baik sama kamu.''
''Makasih ya karena kamu udah mengerti.''
''Iya nggak masalah kok.'' Sesampainya di kantin, Rendra dan Alia segera memesan makanan. Elvan dan Sandra pun masih disana. Sandra berusaha mengambil tisu dan menyeka bibir Elvan yang belepotan.
''Udah ngagk usah!" ucap Elvan sambil menangkis tangan Sandra.
''El, aku cuma mau perhatian sama kamu.'' Kata Sandra memelas.
''Tapi aku bukan anak kecil,'' ucap Elvan penuh dengan penekanan. Sandra hanya bisa diam dan mengalah akan sikap keras Elvan. Elvan segera beranjak dari duduknya dan pergi. Elvan melihat Rendra dan Alia sedang makan bersama sembari bercengkrama. Alia yang melihat Elvan melintas di hadapannya, berusaha melempar senyum. Namun hanya tatapan sinis yang Elvan berikan pada Alia.
__ADS_1
''Kenapa sih ni anak? sebentar baik, sebentar jutek,'' gumam Alia dalam hati.
bersambung... ayo like komen dan vote ya 🙏😍... Siapa nih yang tim Elvan? dan siapa yang tim Rendra?