Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"

Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"
EPS. 56 Assalamualiakum Cinta


__ADS_3

''Assalamualaikum,'' sapa Rendra pagi itu sembari mengetuk pintu rumah Alia.


''Siapa jam segini bertamu?'' gumam Pak Samir.


"Biar Andra yang buka aja, Yah." Kata Andra sembari beranjak dari duduknya.


''Oh ya, Alia sekalian siap-siap dulu ya, Yah. Kan harus ke kampus. Sarapan Alia juga udah selesai.''


''Iya, nak.'' Kata Pak Samir.


''Nak Elvan, kamu gimana? sudah beneran baikan?''


''Sudah kok, Om. Saya juga mau siap-siap ke kampus langsung saja.''


''Ya sudah kalau begitu.'' Kata Pak Samir. Elvan pun segera menuju kamar Andra dan bersiap.


''Waalaikumsalam, eh Pak Rendra.''


''Hai, Ndra. Kakak kamu ada?''


''Ada kok. Silahkan duduk, Pak.''


''Terima kasih ya.''


''Sebentar saya panggilkan,'' kata Andra.


''Waduh, kak Alia emang beruntung di rebutin dua cowok keren sekaligus,'' gumam Andra dalam hati sembari berlalu.


''Siapa Ndra?'' tanya Alia yang kebetulan keluar dari kamarnya.


''Itu Pak Rendra, Kak. Udah aku suruh tunggu. Aku siap-siap dulu ya Kak, udah jam segini.''

__ADS_1


''Iya, Ndra.'' Alia kemudian segera menuju ruang tamu menghampiri Rendra.


''Hei, Ren. Ada apa? kok udah kesini aja.''


''Iya maaf ya. Aku khawatir aja sama kamu, Al. Apalagi kamu kemarin hampir mau pingsan karena pusing.''


''Aku nggak apa-apa kok. Kamu jangan kenceng-kenceng ngomongnya, aku nggak mau Ayah khawatir. Lagian juga cuma tensi sedang turun.''


''Iya, kamu tenang aja. Oh ya itu di depan mobil siapa? kayak nggak asing,'' selidik Rendra.


''Mobil gue,'' sela Elvan tiba-tiba. Rendra benar-benar terkejut melihat Elvan ada di rumah Alia.


''Lho, ngapain Elvan disini, Alia?'' tanya Rendra yang merasa heran. Alia pun bingung bagaimana cara menjawabnya.


''Emangnya kenapa? nggak boleh? elo keberatan? hah?'' kata Elvan dengan gaya sengaknya.


''Alia, apa kamu bisa jelasin ini? kenapa dia bisa disini? Alia, kamu tahu kan dia cowok seperti apa?'' kata Rendra dengan tutur kata lembutnya.


''Gue semalam pingsan pas ngantar Alia pulang. Kebetulan hujan jadi gue tidur sini. Emangnya elo apanya Alia sih? kalian ada hubungan apa? hah?'' kata Elvan dengan ketus. Pak Samir yang mendengar keributan segera menuju ruang tamu.


''Om. Assalamualiakum,'' sapa Rendra sembari mencium punggung tangan Pak Samir.


''Waalaikumsalam nak Rendra.''


''Om kenal juga sama dia?'' tanya Elvan.


''Iya ini nak Rendra. Teman kampus Alia sekaligus pemilik cafe, tempat Andra bekerja,'' jelas Pak Samir.


''Oh begitu,'' singkat Elvan yang menyimpan rasa kesal pada Rendra.


''Ayah, Andra berangkat dulu ya,'' sela Andra.

__ADS_1


''Andra, kakak bareng sama kamu aja ya.''


''Lho kan ada Kak Elvan sama Pak Rendra. Kakak kan tinggal pilih salah satu,'' goda Andra.


''Udah kamu jangan macam-macam. Berangkat sama kamu lebih aman dan tidak beresiko,'' kata Alia sambil menggandeng lengan adiknya.


''Baiklah kalau begitu. Ayah, kita berangkat dulu ya. Assalamualaikum,'' pamit Andra yang di ikuti Alia sembari mencium punggung tangan Ayahnya.


''Waalaikumsalam. Kalian hati-hati ya,'' pesan Pak Samir.


''Kalu begitu saya juga pamit ya, Om. Maaf kalau pagi-pagi sudah buat keributan. Saya hanya khwatir saja dan ingin tahu keadaan Alia pasca melepas perban kakinya.''


''Iya nak Rendra, terima kasih ya kamu sudah baik dan perhatian dengan Alia."


"Sama-sama, Om. Kalau begitu saya permisi, asaalamualaikum," kata Rendra sembari mencium punggung tangan Pak Samir.


"Iya nak Rendra. Hati-hati ya." Rendra pun segera pergi ke kampus, sembari menyusul Alia yang pasti belum jauh.


"Ya udah Om, kalau begitu saya juga pamit. Terima kasih ya Om. Om dan Alia juga Andra sudah merawat saya. Saya seperti punya keluarga baru disini. Saya sudah lama sekali tidak makan bersama dengan keluarga. Setiap hari saya harus selalu makan sendiri."


"Iya nak Elvan. Saya juga senang kalau kamu disini. Pesan saya, kalau kamu ada waktu, sempatkanlah untuk sholat. Karena itu bisa membuat hati kamu lebih tenang."


"Iya Om. Saya akan belajar. Boleh saya peluk Om Samir?" kata Elvan.


"Boleh," jawab Pak Samir yang dengan senang hati menerima pelukan dari Elvan. Memeluk Pak Samirz membuat Elvan merindukan keluarganya yang dulu utuh dan bahagia.


"Terima kasih ya, Om. Elvan pamit." Kata Elvan sembari melepaskan pelukannya.


"Iya nak. Kamu hati-hati ya.''


''Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


...Bersambung.......


__ADS_2