Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"

Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"
EPISODE 7 Playboy Beraksi


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Pak Samir sedang menunggu kedatangan anak-anaknya. Pikirannya terasa tidak tenang, kenapa kedua anaknya kompak belum pulang juga. Pak Samir yang tengah duduk di ruang tamu, merasa lega ketika mendengar suara motor milik Andra. Namun kali ini dua suara motor yang beriringan.


"Assalamualaikum," ucap Alia sembari membuka pintu.


"Waalaikumsalam. Akhirnya kalian datang juga. Ayah dari tadi cemas sekali memikirkan kalian." Alia dan Andra kompak mencium punggung tangan Ayahnya.


"Ada yang ingin Alia bicarakan, Yah. Dan ini tentang Andra." Mendengar ucapan Alia, Andra hanya bisa menunduk.


"Mau bicara apa? kok sepertinya serius sekali."


"Andra selama ini kerja, Yah. Dia bukan belajar kelompok. Dia membohongi kita."


"Maafkan Andra, Ayah. Andra salah." Sahut Andra sembari menunduk.


"Andra, kenapa kamu tidak menuruti Kakakmu. Dan kenapa kamu membohongi kami? seharusnya kan kamu bisa bicara baik-baik dan kita bisa mendiskusikannya."


"Maafkan Andra, Yah. Andra hanya ingin berbagi beban dengan Kak Alia. Andra tidak sanggup melihat Kak Alia jika harus bekerja sendirian. Apalagi sejak perusahaan tempat Ayah bekerja gulung tikar dan sejak Ayah sakit. Semua beban kita, di tanggung oleh Kak Alia. Andra sebagai anak laki-laki seharusnya bisa bertanggung jawab, bukanya Kak Alia." Kata Andra sembari menunduk.


"Andra, Kakak tidak ingin sekolah mu terganggu. Kakak ingin kamu mengejar impian kamu."


"Kak, Kakak tidak usah khawatir. Aku sudah dewasa dan aku bisa mengatur waktu belajarku. Aku hanya bekerja paruh waktu saja, Kak. Sama seperti yang Kakak lakukan. Kak, aku ingin membuat Ayah dan Kakak bangga. Kalaupun bisa, aku ingin Kakak fokus kuliah dan biarkan aku yang bekerja."


"Maafkan, Ayah. Ayah sama sekali tidak berguna untuk kalian. Semua ini karena penyakit kadar gula Ayah dan sekarang Ayah pengangguran. Ayah sudah menyusahkan kalian." Kata Pak Samir yang merasa tidak berguna di hadapan kedua anaknya.


"Tidak, Yah. Sudah saatnya kami yang menjaga dan merawat Ayah." Kata Andra. Mereka berdua lalu kompak memeluk Pak Samir.


****


Keesokan harinya di kampus, Alia sedang sibuk mengerjakan tugasnya di perpustakaan kampus. Tiba-tiba suara Rendra mengagetkannya.


"Assalamualaikum," sapa Rendra dengan lembut.


"Eh, Rendra bikin kaget aja. Waalaikumsalam."


"Gimana, Al? apa kamu sudah membuat keputusan tentang Andra? aku sama sekali tidak tahu kalau Andra itu adik kamu. Karena aku sendiri juga jarang berada di cafe dan kebetulan malam itu, aku sedang di sana."


"Aku mengijinkannya, Ren. Tapi tetap paruh waktu ya. Dia ngotot sekali ingin bekerja untuk membantuku."


"Ah, syukurlah. Aku juga senang karena sejak ada Andra di sana, cafe ku semakin ramai. Sepertinya dia visual yang baik untuk cafe ku."


"Maaf ya Ren, kalau semalam kamu harus melihat keributan dan maaf juga kalau ucapan ku menyinggung kamu."


"Nggak kok, Al. Aku sama sekali tidak tersinggung."

__ADS_1


"Titip Andra, ya. Kalau dia salah, kamu marahin aja. Dia kekeh banget kerja di sana karena dia bermimpi punya usaha cafe. Ya lebih tepatnya tentang bisnis dunia kuliner lah. Makanya dia ngotot kerja sekalian belajar juga. Dia ingin menjadi seorang wirausaha sukses dan nanti bisa membuka lapangan pekerjaan. Jadi dia bisa membantu banyak orang dan merasa hidupnya berguna untuk orang lain."


"Pemikiran yang bagus sekali untuk anak seusia dia, Al. Aku senang karena dia sangat pekerja keras."


"Oh ya, aku juga baru tahu lho kalau kamu punya cafe. Sukses ya, Ren."


"Kamu tahu sendiri aku yatim piatu, Al. Uang yang aku gunakan adalah warisan dari orang tua aku. Jadi, aku memanfaatkannya untuk membuka usaha kecil-kecilan dan alhamdulillah, bisa berkembang. Kalau kayak gitu kan ada manfaatnya daripada di biarkan. Dan bisa membantu orang lain juga untuk bekerja."


"Alhamdulillah, Ren. Aku jadi seneng dengernya. Oh ya, sudah ada tujuan magang belum?"


"Aku, magang di cafe milikku saja, Al." Sahut Rendra terkekeh.


"Wah kamu, mentang-mentang ambil jurusan ekonomi dan bisnis jadi magangnya di bisnisnya sendiri. Nanti nilainya bagus semua dong."


"Hahaha, kamu bisa aja, Al. Ya bagus juga untuk pengembangan usaha aku, Al. Aku kan juga ingin berkembang dan membuka banyak cabang. Kamu sendiri dimana?"


"Oh, aku di Adhitama Company."


"Wah, bagus tuh. Kamu kan memang cerdas jadi sudah pasti kampus memilihkan perusahaan terbaik untuk kamu."


"Emang iya ya, Ren?"


"Aduh, kamu ini gimana sih? kampus ini itu milik Adhitama Company, Al. Masak kamu baru tahu sih?"


"Yah, apapun itu semangat untuk kamu ya, Ren. Aku doain, supaya usaha kamu sukses dan bisa berkembang lebih besar lagi,amin."


"Terima kasih ya, Al. Doa yang baik juga untuk kamu." Kata Rendra.


"Amin."


"Seperti aku, yang selalu menyebut namamu dalam doa sepertiga malam ku," gumam Rendra dalam hati.


''Assalamualaikum bidadari surga," suara seorang laki-laki mengagetkan Rendra dan Alia.


''Waalaikumsalam, maaf siapa ya?" tanya Alena polos.


''Apa? kamu nggak kenal aku?" seru Leon dengan nada seolah tidak percaya.


"Maaf, tapi memang aku tidak mengenal kamu." Kata Alia dengan polos.


"Dia, anggota geng Rich Man, Al." Sahut Rendra.


''Nah, betul sekali. Tuh dia aja tahu, masak kamu nggak." Sahut Leon dengan gaya slengekannya.

__ADS_1


"Ada perlu apa ya?"


''Kenalin aku, Leon." Kata Leon sembari mengulurkan tangannya.


"Oh, maaf, aku, Alia," jawab Alia sembari menangkupkan kedua tangannya.


"Oke, nggak masalah. Aku boleh ngajakin kamu makan siang di kantin kampus?"


''Maaf, bukanya menolak tapi aku tidak bisa. Aku ada ada syiar islam sama komunitas hijabku selepas sholat Dzuhur."


"Oh begitu. Memang biasanya kalian ngapain?"


"Selesai sholat, kita mendengarkan syiar selama sepuluh menit, kemudian baru makan siang."


''Baiklah, aku ikut."


''Hah? serius? kamu nggak malu, kan cewek semua."


''Kan aku bisa menunggu di luar masjid. Baiklah aku pergi dulu ya. Assalamualaikum bidadari surga." Kata Leon yang pergi berlalu begitu saja.


"Waalaikumsalam." Jawab Alia yang menatap kepergian Leon dengan penuh tanya.


"Aneh banget mereka tiba-tiba deketin kamu, Al." Sahut Rendra.


"Aku juga heran, Ren. Kenapa aneh gitu ya?"


''Bukannya suudzon tapi kamu hati-hati ya, Al. Jaga diri kamu karena aku tahu mereka itu pada nggak bener. Hobinya main cewek dan mabuk-mabukan. Aku cuma khawatir aja."


''Tenang saja, Ren. Aku bisa jaga diri kok. Aku yakin kalau dia nggak akan macam-macam." Kata Alia sembari tersenyum manis.


Basecamp Rich Man


"Gimana?" tanya Fandi.


''Susah banget dapetinnya. Semua ini karena dua mobil, kalau nggak, ogah deh gue. Tapi cantik sih. Dan demi ngajakin dia makan, gue mesti pura-pura nungguin dia dengerin ceramah dan sholat." Cerita Leon. Mendengar cerita Leon, Fandi pun tertawa terbahak.


"Masak gitu aja nyerah, tunjukkin pesona elo, Le. Eh Elvan mana ya? masak dia nggak masuk? nggak ada hubungin kita lagi."


" Paling juga habis main cewek, kan kemarin dia di samperin sama cewek."


" Palingan juga mabuk, Fan. Udah ah bodoh amat si Elvan. Nanti pulang kampus kita tengokin dia. Yang penting sekarang atur strategi buat deketin target."


"Okelah dan setelah elo, ganti gue ya."

__ADS_1


''Suka-suka elo deh. Kita lihat siapa yang paling playboy." Kata Leon dengan tawa menggelegarnya.


__ADS_2