Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"

Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"
EPISODE 6 Cafe


__ADS_3

Alia kembali perlahan melepas tangan Elvan yang menggenggamnya. Alia mengusap lembut tangan Elvan, supaya ia segera melaksanakan kewajibannya. Alia segera mengambil air wudhu dan sholat di kamar Elvan. Dengan khusyuk Alia menjalankan kewajibannya. Sementara, Endrew baru saja tiba di rumah Elvan. Seperti biasa Endrew langsung masuk begitu saja. Endrew melihat Bi Marni yang membawa secangkir teh menuju lantai atas. Namun langkahnya terhenti saat Endrew memanggilnya.


" Bi, Elvan sudah siap-siap?" suara Endrew mengagetkan Bi Marni.


" Ya ampun Den Endrew, mengagetkan saja. Itu Den, anu, mmmmm.....,"


" Apaan sih, Bi. Anu, itu, apa," kata Endrew dengan kesal.


" Den Elvan mabuk lagi, sekarang pingsan terus tadi jatuh dan pelipisnya berdarah." Jelas Bi Marni.


" Apa? kenapa nggak telepon sih?" Endrew panik dan segera menuju kamar Elvan. Namun kepanikan Endrew seketika sirna, saat melihat seorang gadis tengah sholat dengan khusyuk. Dan Endrew menoleh ke arah Elvan yang terbaring tidak sadarkan diri.


" Bi, itu siapa?" bisik Endrew pada Bi Marni yang berdiri di belakangnya.


" Itu Mbak-Mbak loundry," jawab Bi Marni.


" Hah? Mbak-Mbak loundry?" sahut Endrew terkejut.


" Ayo kita tunggu di bawah saja, biarkan gadis itu menyelesaikan sholatnya." Sambung Endrew yang kemudian turun ke bawah, di ikuti oleh Bi Marni.


Alia segera melepas mukena dan melipatnya, kemudian segera turun kebawah. Alia terkejut saat ada pria yang duduk di sofa, ruang tengah dan Bi Marni berdiri di sampingnya. Seorang pria yang ketampanannya tidak kalah dengan Elvan.


" Bi, ini mukenanya. Terima kasih ya," kata Alia sembari menyodorkan mukena dan sajadah.


" Kamu siapa? dan kenapa bisa ada di kamar Elvan?" tanya Endrew.


" Silahkan duduk dulu, saya ingin bicara sama kamu. Dan itu silahkan di minum dulu, Bibi sudah membuatkan untuk kamu," sambung Endrew. Alia hanya mengangguk dan melempar senyumnya. Kemudian Alia meminumnya.


" Saya, Alia, Tuan. Saya mengantar baju, saya dari jasa loundry."


" Oh begitu tapi kenapa kamu bisa di kamar?" tanya Endrew yang mengulang pertanyaannya.


" Tadi pas saya jalan keluar, Elvan turun dari mobil dalam keadaan mabuk. Terus badannya jatuh ke saya dan reflek saya mendorongnya, sampai pelipisnya terbentur. Maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja. Saya hanya berusaha melindungi diri dan kehormatan saya. Saya pikir Elvan tadi mau macam-macam. Terus waktu saya selesai mengobati lukanya, Elvan menarik tangan saya. Dia menggenggam erat tangan saya sambil memanggil nama Mamanya. Dan akhirnya saya putuskan numpang sholat di sini karena sudah masuk waktu maghrib," jelas Alia dengan gugup. Mendengar penjelasan Alia, Endrew terdiam sejenak.


" El, kamu pasti sangat terluka," gumam Endrew dalam hati.


" Elvan? kamu kenal dia?"


" Kebetulan kita satu kampus. Tapi saya baru melihatnya belakangan ini."

__ADS_1


" Oh jadi kalian satu kampus. Tapi aneh kenapa kamu baru melihatnya? bukanya dia di kampus terkenal ya?" tanya Endrew yang makin penasaran.


" Iya, begitu katanya, Tuan. Saya tidak terlalu memperhatikan tentang itu, mungkin saja saya tahu tapi saya tidak terlalu peduli dengan hal itu. Karena fokus utama saya hanya untuk kuliah dan bekerja saja. Jadi mungkin ketenaran Elvan terlewat oleh saya."


" Hahahaha, kamu ini lucu juga ya. Jarang lho di kampus ada yang nggak kenal sama Elvan, apalagi dengan keributan yang dia buat. Tapi kamu benar juga, lebih baik fokus kuliah saja."


" Kalau boleh tau, Tuan siapa?"


" Oh, saya Endrew. Kakaknya Elvan. Jangan panggil Tuan, panggil Kakak saja." Kata Endrew dengan ramah.


" Oh Kakaknya Elvan. Sekali lagi saya minta maaf atas kesalahan saya. Saya tidak sengaja."


" Tidak apa-apa, Alia."


" Oh ya, saya mau pamit. Saya harus pulang."


" Iya, Alia. Terima kasih ya. Dan maafkan kelakuan adik saya,"


" Tidak apa-apa. Bi, terima kasih ya untuk teh dan mukenanya. Assalamualaikum," pamit Alia dengan langkah kaki yang terburu-buru.


" Waalaikumsalam," sahut Endrew dan Bi Marni kompak.


" Iya, Den. Tapi Den Endrew kan sudah punya istri, masak mau poligami."


" Husss, ya bukanlah, Bi. Maksud aku, untuk Elvan."


" Untuk Den Elvan? memangnya Mbak Alia mau?" ceplos Bi Marni. Mendengar ucapan Bi Marni, Endrew tertawa terbahak-bahak.


" Baru kali ini ada pertanyaan seperti itu, Bi. Bukan apa Elvan mau tapi malah ceweknya mau apa nggak?"


" Kan benar, Den. Mbak Alia cantik, sholeha, pekerja keras, baik, meskipun saya baru mengenalnya barusan. Tipe Mbak Alia itu bukan tipe cewek matre, Den."


" Sepertinya memang begitu. Bibi kayak peramal saja. Bi, kalau begitu aku berangkat. Sudah pasti Elvan tidak akan bisa ikut. Kalau ada apa-apa hubungi ya."


" Siap, Den." Endrew pun segera pergi meninggalkan rumah Elvan. Sementara Alia sedang perjalanan menuju rumah. Namun di tengah perjalanan, ia melihat motor Andra di sebuah cafe. Sebuah cafe yang kekinian dan sesak dengan pengunjung. Alia memutuskan untuk berhenti di cafe tersebut.


"Andra? katanya belajar kelompok tapi kenapa motornya di sini? bukanya pulang malah di sini." Gerutu Alia dengan kesal. Alia lalu masuk ke dalam cafe tersebut. Alia begitu terkejut saat Andra sibuk melayani pengunjung dan wara-wiri mengantar pesanan dari meja ke meja. Andra tak menampakkan wajah lelahnya. Andra begitu semangat dan selalu senyum dengan ramah. Tampaknya Andra menjadi visual di cafe tersebut. Karena beberapa pengunjung meminta foto bersama Andra, terutama para gadis. Namun tidak dengan Alia. Alia diam mematung dan menatap sedih adiknya yang justru malah sibuk bekerja keras. Hingga akhirnya Andra menyadari kehadiran Alia, yang sedari tadi menatapnya.


"Kakak," gumam Andra dengan tatapan nanar. Alia mendekat lalu menggandeng paksa tangan Andra dan mengajaknya keluar. Andra hanya bisa diam dan pasrah.

__ADS_1


" Kamu bohong sama Kakak? kenapa kamu lakukan ini? kamu pikir Kakak senang melihat kamu seperti ini? sejak kapan kamu memulai ini semua?" kata Alia dengan nada setengah teriak.


" Maafkan Andra, Kak. Sudah dua bulan ini Andra part time. Andra tidak ingin menyusahkan Kakak. Andra ingin membantu Kakak. Apalagi Andra anak laki-laki. Andra tidak bisa tinggal diam saat melihat Kakak banting tulang sendirian." Kata Andra sambil menunduk karena tidak berani menatap Kakaknya.


" Kakak sudah pernah bilang, fokus sama sekolah Andra. Jangan memikirkan hal lain. Biar semuanya menjadi urusan, Kakak. Kamu tanggung jawab Kakak, Andra." Ucap Alia sembari meneteskan air mata.


" Kak, maafin Andra. Maaf kalau Andra bohongin Kakak dan juga Ayah. Tolong ijinkan Andra bekerja di sini. Andra senang bekerja di sini, Kak."


" Nggak. Kakak nggak ijinkan kamu. Kamu masih sekolah."


" Kak, Andra mohon." Ucap Andra sembari menggenggam tangan Kakaknya.


"Permisi, ada keributan apa di depan cafe saya?" suara seorang laki-laki yang mengagetkan Alia dan Andra.


"Rendra? kamu?" kata Alia yang tampak terkejut.


"Pak Rendra. Maaf atas keributan ini," sahut Andra sembari membungkuk pada Rendra.


" Alia? Andra? kalian?" tanya Rendra dengan heran.


" Dia adik aku, Ren."


" Jadi Andra adik kamu? kenapa kalian ribut?"


" Ini cafe kamu?"


" Iya, alhamdulillah ini punya aku, Al. Aku suka lho sama kinerja Andra. Dunia ternyata sempit sekali." Kata Rendra. Alia lalu melepas apron yang menempel di tubuh Andra. Lalu memberikannya pada Rendra.


" Maaf ya, Ren. Hari ini juga Andra berhenti bekerja." Kata Alia dengan tegas.


" Andra, ayo kita pulang. Cepat." Kata Alia dengan tegas. Andra hanya terdiam dan menuruti kemauan Kakaknya.


" Al, kamu tidak seharusnya marah pada Andra. Kita bisa bicara baik-baik, Al." Kata Rendra yang berusaha menenangkan Alia.


" Maaf ya, Ren. Dan terima kasih untuk semuanya, assalamualaikum."


" Pak Rendra, maafkan saya. Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam," jawab Rendra yang hanya bisa melihat menatap kepergian Alia dan Andra.

__ADS_1


next?? ayo like, komen dan vote ya, terima kasih 🙏❤️


__ADS_2