
''Waduh, kalau Rendra di tolak, terus nasib gue gimana? terus siapa cowok yang di jodohin sama Alia? berarti sama aja dong usaha gue kalau ujung-ujungnya zonk. Tapi gue nggak akan menyerah, semangat Elvan!" gumam Elvan dalam hati. Sementara Alia pun berjalan keluar untuk segera berangkat ke kampus.
''Ehem.. ehem.. ehem..," Alia pun terlonjak kaget saat melihat Elvan sudah ada disana.
''Elvan! kamu ngagetin aja," kata Alia sambil menyentuh dadanya.
''Maaf, maaf! Aku cuma mau ngajakin kamu berangkat ke kampus bareng,'' kata Elvan.
''Tapi aku naik angkot.''
''Ya udah lah nggak apa-apa. Sekali-kali nggak masalah lah.''
''Ya udah deh kalau gitu, ayo!" Elvan dan Alia kemudian jalan bersama menuju halte.
''Kamu baru aka sembuh, seharusnya kamu istirahat di rumah dan berangkat naik mobil. Supaya kamu nggak kecapekan dan kepanasan.''
''Nanti aku juga pulang. Kan rumah aku lagi di renovasi dan sepertinya butuh waktu lama.''
''Benarkah? Bukan karena ada alasan lain?'' ucap Alia yang berusaha memancing kebenaran dari bibir Elvan.
''Iya lah benar. Untuk apa aku bohong,'' ucap Elvan dengan senyumnya.
''Kamu terus berbohong dan kamu selalu pandai menyimpan luka. Perasaan kamu tercabik tapi kenapa kamu bisa menahannya? Bahkan kamu masih bisa tersenyum, tertawa dan ceria. Tanpa disadar mereka sampai di halte. Elvan pun mulai merasakan panas, ia berkali-kali mengibaskan tangannya di depan wajahnya.
''Masih lama angkotnya?'' tanya Alia pada Elvan.
''Itu udah kelihatan,'' kata Alia. Elvan lalu melihat sekeliling dan ada beberapa orang yang juga sedang menunggu angkot. Saat angkot sudah berhenti, semua orang berebut untuk naik, termasuk Alia. Alia pun hampir terjatuh karena di dorong seseorang saat akan naik, untung saja Elvan dengan cepat menangkap Alia yang hampir saja terjatuh.
''Woi! Hati-hati dong, Mas,'' bentak Elvan.
''Udah-udah, aku nggak apa-apa,'' kata Alia yang berusaha menenangkan Elvan.
''Budayain antre gitu kek, kalau masuk. Main desak aja! Nggak lihat ada cewek!" lanjut Elvan.
''Mau naik nggak, Mas?'' teriak supir angkot.
''Nggak usah! Pergi sana, Bang!" ketus Elvan.
''Ya udah, santai aja dong. Nggak usah nge-gas,'' bantah supir angkot.
__ADS_1
''Penumpang elo tuh yang nge-gas, buta apa! Dasar resek!" Elvan pun benar-benar marah melihat Alia di perlakukan kasar. Angkot pun akhirnya pergi.
''Kamu kok biarin angkotnya pergi sih? kita kan ada ujian. Nanti kita terlambat, El. Kamu juga jangan emosian gitu lah. Aku udah biasa berebut naik angkot kayak gitu. Disini susah nyari taksi.''
''Tapi aku lihat kamu di dorong dan kamu hampir jatuh. Kalau nggak ada aku, kamu udah pasti jatuh dan mereka juga nggak akan peduli,'' ucap Elvan dengan marah-marah. Elvan kemudian mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Fandi.
''Halo, Fan. Elo dimana?''
''Gue di jalan sama, Leon. Ada apa?''
''Jemput gue sekarang! Di halte Jalan Delima.''
''Oke! Gue jalan kesana,'' kata Fandi mengakhiri panggilannya.
''Kamu duduk aja. Ini makin panas. Sebentar lagi Fandi datang,'' kata Elvan. Alia pun merasa kesal dengan sikap Elvan yang mudah sekali tersulut amarah. Suasana pun menjadi hening. Tak lama kemudian, sebuah ranger rover warna hitam berhenti di depan mereka.
''Ayo naik!" kata Fandi saat membuka kaca mobilnya. Melihat Alia, Leon pun berinisiatif untuk turun dan membukakan pintu bangku belakang untuk Alia.
''Alia, sang bidadari surga, silahkan masuk,'' kata Leon dengan lembut bak seorang pelayan kerajaan.
''Terima kasih ya,'' ucap Alia dengan senyumnya. Alia pun segera masuk, sementara Elvan kesal sekali dengan sikap Leon yang berlebihan pada Alia. Saat Elvan akan masuk, Leon justru kembali menutup pintu. JEBRET!
''Elo lewat sana dong! Gue kan cuma bukain pintu buat biadadari surga. Nah elo apaan?'' celetuk Leon dengan sinis.
''Awas ya lo," kata Elvan dengan geram sambil mengepalkan tangannya pada Leon. Elvan pun akhirnya masuk melewati pintu sebelah kanan. Fandi hanya bisa menggeleng melihat kekonyolan sahabatnya itu, begitu pula dengan Alia. Alia kemudian menurunkan ranselnya dan meletakannya di tengah-tengah, untuk membatasi dirinya dan Elvan. Elvan hanya tersenyum melihat sikap Alia.
''Alia, mumpung kamu ada disini, aku mau minta maaf sama kamu,'' kata Fandi.
''Iya Alia. Aku juga mau minta maaf. Maaf karena kita keterlaluan. Kita juga yang memaksa Elvan untuk melakukan semua itu. Padahal Elvan sendiri menolaknya.'' Sambung Leon.
''Iya, aku sudah memaafkan kalian. Kita lupain aja yang pernah terjadi,'' kata Alia.
''Makasih ya, Al. Kamu udah mau maafin kita.''
''Iya sama-sama.''
''Kalau gitu, kita teman kan?'' kata Leon.
''Iya. Kita semua adalah teman,'' kata Alia dengan senyumnya.
__ADS_1
''Oh ya kalau boleh tahu kenapa kalian barengan? dan elo Elvan, kapan elo keluar dari rumah sakit? kenapa nggak ngabarin kita?'' kata Fandi.
''Panjanglah ceritanya. Nanti gue ceritain,'' kata Elvan.
''Oh ya katanya Papa sama Mama elo udah di Indo ya?'' tanya Leon.
''Udahlah jangan bahas mereka. Gue lagi nggak mood,'' ketus Elvan.
''Hmmm kalau udah gini biasanya pasti ada masalah,'' sahut Leon. Namun Elvan memilih diam tak berkomentar. Hening.
...****************...
Sesampainya di kampus, seperti biasa kedatangan Elvan, Fandi dan Leon selalu menjadi pusat perhatian. Namun kalia ini mengundang kasak-kusuk karena ada Alia di tengah-tengah mereka. Mereka semua saling berbisik dan menggunjing Alia. Bagaimana seorang gadis alim dan berhijab berteman dengan para bad boy. Elvan memperhatikan tatapan sinis orang-orang pada Alia.
''Kamu lebih baik menjauh dari aku ya. Karena keberadaan kamu bersama kita, mengundang bahan gunjingan. Aku akan marah kalau ada yang bicara buruk sama kamu,'' bisik Elvan pada Alia. Alia pun memahami ucapan Elvan dan segera menyingkir dari barisan Rich Man. Alia pun mempercepat langkahnya menuju kelas.
''Assalamualikum Rani, Diana,'' sapa Alia.
''Waalaikumsalam. Hai, Al.'' Kata Rani dan Diana dengan kompak.
''Makin berseri aja nih,'' goda Rani.
''Apaan sih, biasa aja kali,'' kata Alia malu-malu.
''Al, kita bituh bimbel dari kamu nih. Sebentar lagi ujian, terus skripsi, jadi please ya bantuin kita,'' rengek Diana.
''Iya insya allah, aku akan bantuin kalian. Tapi kan aku siangnya mesti kerja.''
''Ya udah kita gunain waktu istirahat sekalian belajar aja,'' kata Rani.
''Betul, ide bagus,'' timpal Diana.
''Ya udah kalau itu mau kalian, nggak masalah kok.''
''Nanti kalau aku dapat nilai jelek, bisa di ambil semua fasilitas aku,'' kata Rani.
''Kita senasib, Ran. Nggak bakal ada uang jajan lagi, yang ada langsung di kirim ke hutan belantara,'' kata Diana.
''Kalian ini ada-ada aja,'' kata Alia terkekeh. Diana dan Rani adalah sahabat Alia sejak SMP. Mereka sendiri belum siap untuk berhijab, sementara Alia sudah berhijab sejak SMP. Mereka berdua sangat senang bersahabat dengan Alia. Karena Alia adalah seseorang yang baik, tulus, dan tentunya orang tua Rani dan Diana juga lebih tenang jika anak-anaknya bergaul dengan Alia. Karena Alia selalu membawa pengaruh positif pada Rani dan Diana.
__ADS_1