Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"

Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"
EPS. 31 Serius atau Trik?


__ADS_3

Alia segera menuju dapur untuk membuatkan teh dan pisang goreng untuk Elvan dan Ayahnya. Alia lalu keluar menuju teras rumah di bantu oleh Andra membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat dan piring berisi pisang goreng.


''Silahkan, Yah, Mas Elvan,'' kata Andra.


''Maaf ya harus minta bantuan Andra, aku nggak bisa bawa.''


''Nggak apa-apa,'' kata Elvan.


''Ayah, Alia masuk dulu ya. Elvan, makasih udah nolongin kita.'' Kata Alia yang kemudian segera masuk ke dalam rumahnya.


''Andra juga masuk dulu ya. Mau ngerjain tugas.''


''Ya udah nak Elvan, ayo silahkan makan. Maaf ya cuma ada teh sama pisang goreng.''


''Iya, Om. Nggak apa-apa,'' kata Elvan. Elvan kemudian mencoba mencicipi pisang goreng buatan Alia. Dan entah kenapa Elvan merasa sangat suka. Rasa pisang goreng ini mengingatkan Elvan pada pisang goreng buatan mamanya.


''Kenapa enak banget? padahal cuma pisang goreng doang. Dan rasanya sama persis kayak buatan mama,'' gumam Elvan dalam hati.


''Nak Elvan, kok melamun. Nggak enak ya?''


''Mmmm enak kok, Om. Elvan boleh bungkus pisang gorengnya?''


''Boleh, boleh. Ini pisangnya dari kebun sendiri.''


Dari balik ruang tamu, Alia mengintip kedekatan Elvan dan Ayahnya.


''Dia mau juga makan pisang goreng buatan ku. Bahkan sampai mau di bungkus segala. Ini orang aneh banget. Kadang baik tapi kadang juga nyebelin. Nggak nyangka juga dia mau bertamu di rumah aku yang sederhana ini,'' gumam Alia dalam hati. Alia lalu segera masuk ke kamarnya.


''Om, saya pamit dulu ya. Sudah jam segini juga.''


''Iya nak Elvan. Terima kasih sudah membantu Andra dan Alia.''


''Oh ya, biar besok motornya di antar ke rumah saja ya,'' kata Elvan.


''Tunggu sebentar, Om bungkusin pisang gorengnya dulu ya.'' Pak Samir segera menuju dapur untuk membawa kotak makanan. Pak Samir kemudian memasukkan semua pisang goreng ke dalam kotak.


''Ini nak Elvan.''


''Terima kasih, Om. Saya jadi ngrepotin.''


''Tidak, tidak. Justru saya yang berterima kasih.''


''Kalau begitu saya permisi dulu ya.''


''Nggak pamitan sama Alia dulu?''


''Tidak usah, Om. Alia pasti sudah istirahat. Kan dia habis kerja juga. Bilang saja sama Alia kalau pisang gorengnya saya bawa pulang,'' kata Elvan.

__ADS_1


''Iya, nanti saya sampaikan.''


''Saya permisi dulu, Om. Selamat malam.''


''Selamat malam nak Elvan. Hati-hati ya.'' Selepas Elvan pulang, Alia pun keluar dari kamarnya.


''Elvan udah pulang Yah?'' tanya Alia pada Pak Samir yang sedang mengunci pintu.


''Iya. Baru saja. Oh ya pisang gorengnya di bawa pulang semua sama dia.''


''Syukurlah kalau dia suka, Yah. Alia pikir dia nggak mau makan pisang goreng buatan orang miskin.''


''Ssssttt jangan bicara seperti itu. Tehnya ada di habisin, cuma sisa cangkirnya aja,'' ucap Pak Samir sambil tertawa dan menunjukkan cangkir yang kosong.


''Orang kaya rakus juga ya, Yah.''


''Mungkin saja dia kelaparan sama kehausan, nak.''


''Hehehehe, mungkin juga. Ya udah Ayah istirahat ya.''


''Kamu juga ya, nak. Kamu pasti capek.''


''Iya, Yah. Selamat istirahat ya buat Ayah.''


''Buat kamu juga ya, nak.''


Malam itu Elvan pulang dengan wajah bahagianya. Ia berjalan menuju kamarnya sembari memegang kotak warna biru berisi pisang goreng dan membawanya ke kamar. Sementara Bi Marni yang baru saja membukakan pintu untuk Elvan, merasa heran saat melihat aura bahagia di wajah Elvan. Bi Marni pun segera ke belakang menghampiri Bi Minah, yang sedang mengontrol sayur dan bumbu yang telah habis di dapur.


''Bi, tumben Den Elvan pulang nggak mabuk. Tapi malah senyum-senyum sambil bawa kotak makanan gitu,'' kata Bi Marni pada Bi Minah.


''Bagus dong kalau Den Elvan nggak mabuk lagi.''


''Tapi apa yang membuat Den Elvan sumringah ya?''


''Semoga itu hal baik, Marni. Setiap kali lihat Den Elvan mabuk, aku jadi sedih Marni. Nyonya Maya juga pergi terlalu cepat. Terlalu banyak masalah di keluarga ini yang sulit untuk di terima Den Elvan. Semoga Den Elvan segera kembali ceria seperti dulu. Sebelum Mamanya meninggal,'' cerita Bi Minah dengan sedih.


''Iya, Bi. Kita disini hanya kerja jadi mau ikut campur urusan mereka juga nggak berani. Semoga Den Elvan selalu seperti ini. Kita lihatnya juga seneng banget.''


''Iya, Marni. Semoga ya,'' harap Bi Minah. Bi Minah lah yang tahu semua masalah dalam keluarga ini. Tapi Bi Minah pun tidak mau ikut campur, dia hanya pekerja disini. Ia hanya berusaha menjaga amanah Bu Maya untuk terus menjaga Elvan.


Di kamarnya, Elvan baru saja selesai mandi. Setelah berganti pakaian, Elvan duduk di sofa kamarnya dan membuka pisang goreng itu. Masih tercium aroma harum dari pisang goreng itu. Elvan pun kembali memakannya dengan lahap. Saat Elvan begitu menikmatinya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.


''Tok tok tok tok.'' Mendegar suara ketukan pintu, Elvan segera membukanya. Tampak Endrew sudah berdiri di depan pintu dengan senyumnya.


''Elo. Ngapain malam kesini?''


''Nggak. Aku masuk ya,'' kata Endrew yang menerobos masuk begitu saja. Mata Endrew tertuju pada sebuah kotak berwarna biru di atas meja.

__ADS_1


''Apa itu?'' tanya Endrew penasaran.


''Jangan sentuh! Itu milik gue. Elo nggak ada hak buat nyentuh apapun,'' ketus Elvan.


''Siapa juga, cuma mau lihat isinya apa ini? oh pisang goreng.'' Kata Endrew dengan menjulurkan kepalanya melihat isi kotak itu.


''Udah pulang sana! Elo pasti mau ngecek gue mabuk apa nggak, iya kan? elo kan mata-matanya Papa.''


''Udah lah jangan bahas itu. Aku nggak mata-matain siapapun. Aku minta satu ya, kayaknya enak nih,'' kata Endrew.


''Jangan! Gue udah bilang jangan sentuh apalagi ambil,'' kata Elvan sambil merebut kotak itu dan mendekapnya.


''Sepertinya itu dari seseorang spesial. Padahal cuma pisang goreng aja. Sampai nggak boleh di sentuh,'' ucap Endrew penuh selidik.


''Udah lah bukan urusan elo. Pulang sana.''


''Oh ya thanks ya udah jagain Chelsea. Dan sampein terima kasih aku untuk Alia. Soalnya dia udah nylametin nyawa Chelsea. Tapi sepertinya aku harus menemui Alia untuk berterima kasih padanya langsung.''


''Iya terserah elo aja.''


''Oke, kalau gitu aku pamit dulu.'' Endrew kemudian segera keluar dari kamar Elvan. Endrew tersenyum penuh arti saat melihat sikap Elvan yang begitu erat memeluk kotak makanan itu. Endrew berharap ada seseorang yang mampu membuat hati Elvan lembut kembali tanpa dendam dan amarah.


Sesampainya di rumah, Endrew segera masuk ke kamarnya. Ia melihat Milka masih sibuk di hadapan cermin.


''Kamu dari rumah Elvan?''


''Iya, sayang darimana lagi kalau bukan ngontrol si Elvan."


"Terus gimana? mabuk lagi?"


"Nggak. Aku mergokin dia makan pisang goreng. Malah aku pas mau minta, eh dia benar-benar melarang aku buat nyentuh."


"Pisang goreng? tumben dia bersikap aneh. Biasanya tiap pulang, wajah kamu selalu sedih dan stres setiap habis dari rumah Elvan," ucap Milka.


"Aku curiga itu dari orang yang spesial. Tapi apapun itu, melihat dia seperti tadi sudah cukup membuatku lega. Oh ya sayang, aku hampir lupa, kita besok harus ketemu sama Alia. Soalnya dia udah selamatin Chelsea.''


''Alia teman Elvan itu?''


''Iya, sayang. Ya udah besok kita sempetin waktu untuk ketemu sama dia. Habis jemput Chelsea kita ajak dia makan siang aja sama Elvan sekalian. Aku juga penasaran banget pingin ketemu sama Alia.''


''Oke, besok kita langsung ke kampus aja buat jemput Alia.''


''Aku setuju, Mas.''


''Dan semoga Elvan mau juga kita ajak. Aku berharap Alia bisa bersama Elvan. Kayaknya cuma Alia yang bisa melunakkan hati Elvan.''


''Tinggal Alia-nya aja, mau apa nggak sama Elvan,'' celetuk Milka dengan tawa kecilnya.

__ADS_1


bersambung... Jangan lupa like, komen dan vote ya, makasih 🙏😘


__ADS_2