
''Alia kamu mau cerita apa sama Ayah?''
''Sebenarnya Alia sudah nggak kerja di laundry. Tapi Mbak Santi memberhentikan Alia dengan cara terhormat kok, Yah.''
''Lho kenapa bisa gitu?''
''Ya karena Alia sakit dan nggak masuk, Mbak Santi kuwalahan jadi ambil karyawan lagi. Mbak Santi butuh yang full jadi terpaksa Alia di berhentikan.''
''Ya sudah lah, nak nggak apa-apa. Rezeki kan jalannya bisa darimana aja. Untuk sementara kamu di rumah aja nggak apa-apa. Tapi kamu kok bisa belanja banyak banget. Ada buah, sayur, ikan dan daging sebanyak itu darimana?''
''Sebenarnya dua hari ini Alia bekerja untuk Elvan.''
''Kamu kerja sama nak Elvan? kerja apa?'' selidik Pak Samir.
''Ayah jangan salah paham dulu. Jadi waktu Alia antar makanan malam itu, Elvan suka sama masakan Alia. Dan dia meminta Alia untuk masakin dia setiap pagi, siang dan malam. Dan gajinya juga lumayan, Yah. Jadi Alia cuma masak aja. Dan semua belanjaan itu Elvan yang belanjain, sekalian untuk kita makan.''
''Nak, Ayah tidak melarang kamu dekat dengan siapapun tapi tetap jaga kehormatan kamu sebagai seorang wanita. Apalagi kamu memakai hijab.''
''Iya Alia paham, Yah. Alia tidak ada pilhan, Yah. Yang Alia pikirkan saat ini, bisa membantu pengobatan Ayah dan memenuhi kebutuhan kita sehari-hari. Insya Allah Alia kerjanya halal kok, Yah.''
''Maafkan Ayah ya, nak. Ayah menyusahkan kamu. Ayah merasa tidak berguna sebagai orang tua. Seharusnya orang tua yang membanting tulang untuk kebutuhan anak-anaknya tapi malah sebaliknya.''
''Ayah, jangan bicara seperti itu terus. Ayah justru bangga sama anak-anak Ayah karena anak-anak Ayah bisa mandiri. Alia dan Andra ikhlas melakukan semua ini. Ini sebagai bakti kami berdua sebagai seorang anak.''
''Sudah pasti Ayah bangga sekali memiliki kalian berdua.''
''Oh ya, Yah. Sejujurnya Alia juga heran dengan sikap Elvan. Kenapa dia suka sama masakan Alia, padahal di rumah ada banyak pembantu.''
''Apa mungkin dia suka sama kamu?''
''Suka? nggak mungkin lah. Elvan itu cowok playboy, Yah. Sudah pasti dia sukanya sama cewek seksi-seksi. Kalau sama Alia, nggak akan ngefek lah, Yah. Jadi Ayah tenang saja kalau Alia berteman sama Elvan.''
''Oh begitu, kalau sama Rendra?''
''Ayah ini, mau interogasi Alia ya.''
__ADS_1
''Kan anak Ayah sudah dewasa jadi Ayah berhak tahu dong, seperti apa lelaki yang di sukai sama anak Ayah.''
''Alia nggak muluk-muluk kok, Yah. Bagi Alia sholih adalah yang utama. Rendra memiliki segalanya dan Alia mengakui itu, Yah. Sebenarnya kami saling berkomiten untuk saling memantaskan diri.''
''Oh jadi sudah ada obrolan serius sama Rendra,'' goda Pak Samir.
''Kita nggak pacaran kok, Yah. Kita berteman biasa aja. Kita saling berdoa dan bersujud di sepertiga malam, hingga tiba saatnya Allah memberi kami petunjuk bahwa kita saling berjodoh satu sama lain. Nggak salah kan Yah kalau kami melakukan itu?''
''Tidak, nak. Itu justru lebih baik karena Allah adalah sebaik-baiknya petunjuk. Supaya hati kamu nanti semakin mantap melangkah ke depan bersama calon imam kamu nanti. Karena jodoh, itu juga misteri. Jadi itu kesepakatan yang tepat untuk saling meminta petunjuk sama Allah.''
''Alia juga takut jika perasaan kami saling berkembang sebelum pernikahan, akan menggoyahkan iman kita. Jadi ya kita sepakat seperti itu untuk menghindari dosa, Yah.''
''Pesan Ayah, selalu jaga kehormatan kamu sebagai seorang wanita berhijab. Selalu perbaiki akhlak kamu di setiap harinya ya karena manusia memang tidak ada yang sempurna. Selalu memeperbaiki diri itu lebih baik.''
''Terima kasih ya, Yah untuk nasihatnya. Oh ya, setelah maghrib, Alia ke rumah Elvan ya. Nanti kalau Andra pulang, selesai sholat dan makan malam, tolong minta Andra untuk jemput Alia di rumahnya Elvan ya, Yah.''
''Iya, nak.''
''Alia kan masaknya sudah selesai, Ayah makan saja dulu. Alia mau sholat dulu.''
''Ya udah kalau gitu, kita berjamaah aja. Kamu nggak makan sekalian?''
''Ya sudah, ayo kita ambil air wudhu dulu.''
...****************...
Jam menunjukkan pukul 7 malam. Elvan baru saja tiba di rumahnya dengan keadaan mabuk. Di saat yang bersamaan, Endrew juga baru saja sampai di rumah Elvan. Endrew mendapati Elvan turun dari mobilnya dalam keadaan mabuk. Endrew segera mendekati Elvan dan mencoba membantunya.
''Sini aku bantu,'' ucap Endrew sembari mengalungkan tangan Elvan ke lehernya.
''Nggak usah sok baik. Pergi sana!" kata Elvan sambil mendorong Endrew.
''Mau sampai kapan kamu seperti ini El?''
''Udah lah nggak usah ikut campur. Gue muak sama elo. Elo udah merebut semuanya dari gue, pergi sana!'' kata Elvan dengan suara meninggi. Terjadilah keributan dan adu mulut antara Elvan dan Endrew di halaman depan rumah Elvan.
__ADS_1
''Papa dan Mama sebentar lagi pulang, El. Jangan sampai mereka tahu kalau kamu masih seperti ini.''
''Mereka mau pulang atau nggak itu urusan mereka, gue nggak peduli. Dan dia buka nyokap gue. Nyokap gue udah meninggal dan semua itu gara-gara nyokap elo. Nyokap gue malam itu nangis dan semua itu karena elo dan nyokap elo. Elo udah ngrusak kebahagian gue dan nyokap gue. Elo sama nyokap elo sama-sama nggak tahu diri! perebut suami dan perebut kebahagiaan!" ucap Elvan dengan suara meninggi sambil menunjuk wajah Endrew. Endrew pun terbawa emosi dan menarik baju Elvan.
''Kamu boleh hina aku, mencaci aku tapi jangan hina Mama. Kamu nggak tahu apa-apa jadi diam, El,'' bentak Endrew.
''Hah, elo pikir gue nggak tahu? gue tahu semuanya, gue tahu semuanya. Kalian berdua parasit dan perusak!'' ucap Elvan penuh dengan kebencian.
''Terserah kamu mau benci aku seperti apa, El. Cukup kamu tahu, aku dan Mama tulus sayang sama kamu. Aku dan Mama sama sekali tidak pernah membenci kamu, ingat itu!" kata Endrew sambil melepaskan kerah baju Elvan. Endrew segera masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi.
''Pergi sana! pergi yang jauh! kalian perusak!'' teriak Elvan dengan penuh amarah. Kemudian Elvan pun menangis dan terduduk di bawah. Alia ternyata melihat pertengkeran dua saudara beda ibu tersebut. Saat Alia turun dari ojek dan hendak masuk ke dalam rumah Elvan, ia melihat Endrew dan Elvan turun dari mobil yang berbeda. Alia melihat dari luar gerbang rumah Elvan. Alia tidak menyangka jika Elvan dan Endrew akan bertengkar hebat di hadapannya. Ada rasa iba di sudut hati Alia. Alia perlahan melangkahkan kakinya, ia melihat Elvan duduk menangis memeluk kakinya, tepat di samping mobilnya.
''Elvan,'' panggil Alia lirih. Mendengar suara Alia, Elvan mengangkat kepalanya melihat ke arah Alia. Terlihat mata Elvan sangat merah, bibirnya bergetar seperti orang ketakutan.
''Ngapain elo kesini?'' ketus Elvan.
''Ini aku mau antar makan malam,'' ucap Alia sambil melemparkan senyumnya. Elvan pun segera berdiri, namun kepalanya sangat berat.
''Kamu mabuk ya? aku mencium bau alkohol,'' kata Alia.
''Memangnya kenapa? masalah buat elo,'' ketus Elvan. Pandangan Elvan tiba-tiba kabur dan hendak pingsan, namun Alia buru-buru menopang tubuh Elvan.
''Tolong antar gue ke kamar,'' kata Elvan sambil memijit keningnya.
''Tapi bukan muhrim.''
''Di saat seperti ini, bukan saatnya cerama,'' ketus Elvan. Elvan lalu mengalungkan lengannya pada leher Alia. Akhirnya Alia mengalah dan mau tidak mau memapah Elvan.
''Den Elvan, kenapa Den?'' tanya Bi Minah dengan panik saat melihat Elvan masuk bersama Alia.
''Sepertinya mabuk, Bi. Tolong buatkan susu ya, Bi. Dan tolong siapkan makan malam Elvan. Ini rantangnya.'' Kata Alia sambil menyodorkan rantangnya pada Bi Minah.
''I-iya Mbak Alia.'' Alia yang masih menggunakan kruk berusaha berjalan perlahan.
''Untung saja kaki ku sudah baikan. Tadi security juga nggak ada lagi. Mana berat lagi. Ya Allah ampuni aku,'' gumam Alia dalam hati. Alia dengan sekuat tenaga membantu Elvan masuk ke dalam kamarnya. Sesampainya di kamar, Alia mendorong begitu saja tubuh Elvan di atas tempat tidur. Bahkan Alia membiarkan Elvan masih menngenakan sepatunya. Alia memilih duduk sofa sambil mengatur nafasnya kembali.
__ADS_1
''Aku ini tukang masak, pembantu atau baby sitter sih,'' gerutu Alia dalam hati.
Bersambung....