
Sementara Elvan bersama Leon dan Fandi baru saja tiba di kampus. Mereka baru saja sampai di tempat parkir. Di saat yang bersamaan pula, Rendra juga baru sampai. Tadinya Rendra ingin mendahului Elvan dan teman-temannya, namun ada obrolan yang membuat Rendra tertarik dan ingin mendengarkannya.
''Kenapa di mimpi semalam ada Alia ya? Kenapa Lili tiba-tiba berubah menjadi Alia,'' gumam Elvan dalam hati.
''El, mana sarapannya? Gue udah bela-belain tiap pagi nggak sarapan supaya bisa makan masakan Alia,'' celetuk Leon.
''Nggak ada. Mulai sekarang makan sendiri aja. Gue udah nggak butuh Alia.'' Ketus Elvan.
''Lah kenapa lo? Gue juga suka makanan Alia,'' timpal Fandi.
''Ya semuanya udah selesai. Taruhan kita udah selesai. Mana mobil kalian?'' tagih Elvan.
''Elo kan cuma dekat doang, nggak sampai jadian," celetuk Leon.
''Heh, kalian aja nggak bisa kan dekat sama Alia. Lah gue, bisa deket sama dia. Bisa buat dia masakin gue, tiap hari ke rumah gue, gue juga kenal baik sama keluarganya. Kalau kalian bisa apa? Tetap gue lah yang menang,'' kata Elvan ngotot.
''Iya-iya gue akuin elo playboy kelas kakap. Alia bisa dengan mudah dekat sama elo. Secara semua orang tahu kalau reputasi elo sebagai bad boy udah merajalela,'' kata Fandi dengan tawanya.
''Heh, kalian juga sama. Sama-sama buaya darat,'' kata Elvan sambil tertawa. Rendra benar-benar tidak menyangka kalau Alia hanya sebagai bahan taruhan mereka saja. Rendra benar-benar geram dan sakit hati mendengar ucapan Elvan dan temannya. Rendra yang emosi langsung menarik Elvan dan menyeretnya ke halaman belakang kampus.
''Woi, apa-apaan nih,'' kata Leon. Fandi dan Leon lalu mengikuti Rendra yang menarik tangan Elvan menuju halaman belakang kampus.
''Gue nggak ada masalah sama elo? Ngapain elo tiba-tiba nyerang gue,'' kata Elvan dengan suara meninggi.
''Gue dengar semua ucapan elo, kalau elo dan temen-temen elo cuma manfaatin Alia dan jadiin dia bahan taruhan. Tega ya.'' Kata Rendra sambil menarik kerah jaket kulit Elvan. Elvan tersenyum tipis lalu menepis tangan Rendra dengan kasar.
''Terus mau elo apa? Hah? Mau jadi pahlawan buat dia? Iya? Terbukti kan kalau dia emang gampangan,'' kata Elvan sinis.
BUG! Rendra mendaratkan tinjunya pada wajah Elvan.
"Woi, hadapi kita juga!" teriak Fandi.
"Kalian nggak usah ikut-ikutan. Ini urusan gue sama dia," kata Elvan yang mencegah Fandi dan Leon untuk ikut campur.
"Mana bisa gue lihat elo kayak gitu. Bibir elo berdarah, El," sambung Leon.
__ADS_1
"Udah kalian diam aja. Gue bukan pengecut."
"Alia salah apa sama elo? Apa Alia nyakitin elo atau Alia gangguin elo. Benar kan dugaan gue kalau elo itu emang cowok pengecut, beraninya sama cewek doang. Sadar, El! Elo juga lahir dari rahim seorang wanita dan Ibu elo juga seorang wanita. Tapi elo dengan mudahnya menyakiti Alia. Seorang gadis baik hati dan sholeha. Dimana perasaan elo? Elo nggak di ajarin apa sama orang tua, elo? Atau Ibu elo juga bukan wanita baik-baik?" Rendra benar-benar tidak bisa mengendalikan emosinya. Rendra benar-benar lepas kontrol dengan semua ucapannya. Amarah Elvan pun tersulut saat mendengar kalimat terakhir Rendra. Elvan mengepalkan tangannya dan membalas memukul wajah Rendra dengan penuh amarah.
BUG, BUG, BAM!
"Elo boleh marah sama gue, elo boleh hajar gue sampai puas tapi jangan pernah elo bawa nyokap gue. Jangan hina nyokap gue! Nyokap gue wanita baik-baik dan wanita terhormat," kata Elvan sembari menarik kerah baju Rendra dan menatap Rendra penuh kebencian.
"Seharusnya elo juga bisa memperlakukan Alia dengan baik," kata Rendra yang kembali memukul Elvan. Terjadilah adegan baku hantam antara Elvan dan Rendra. Fandi dan Leon melihat kalau keadaan sudah tidak kondusif lagi. Mereka berdua lalu kompak melerai Elvan dan Rendra.
"Cukup! Kalian udah pada bonyok. Udah jangan ribut lagi," kata Fandi sambil memegangi tubuh Elvan dengan kuat.
"Iya, Ren. Udah, udah. Kita ngaku salah. Kita bakal minta maaf sama Alia," kata Leon yang juga berusaha memegang tubuh Rendra dengan kuat. Mendengar ucapan Leon, Rendra lalu meminta Leon untuk melepaskannya.
"Lepasin gue!" Kata Rendra.
"Gue tunggu permintaan maaf dan pengakuan elo untuk Alia," kata Rendra dengan tegas sambil menunjuk wajah Elvan. Tatapan mata Elvan yang penuh kemarahan benar-benar tidak bisa di ia bendung, ia mengeratkan rahangnya dan begitu marah mendengar ucapan Rendra tentang Mamanya. Rendra pun segera pergi dengan wajah lebam dan berdarah. Sandra yang melihat kejadian itu segera mencari Alia untuk meminta pertanggung jawaban pada Alia. Hingga akhirnya Sandra menemukan Alia sedang berada di taman kampus.
"Hei, Alia." Kata Sandra ketus.
"Ada apa, San?"
"Maksud kamu apa sih?"
"Udah nggak usah pura-pura polos deh. Dasar munafik!"
"Hei, Mbak. Jangan asal bicara ya. Memangnya kenapa sama Alia? Bisa kan bicara yang sopan tanpa merendahkan orang lain?" kata Rani dengan suara meninggi.
"Rendra habis mukulin Elvan. Mereka berdua berantem dan saling pukul gara-gara elo. Emang ya elo biang kerok? Dua cowok sekaligus mau elo embat juga. Gila ya lo, berlindung di balik jilbab kepalsuan," kata Sandra dengan wajah penuh kebencian pada Alia.
"Sandra! Jaga ucapan kamu!" tegas Diana.
"Dasar kalian, sekumpulan wanita penuh kepalsuan." Ucap Sandra sembari berlalu begitu saja.
''Sebentar ya, aku mau cari Rendra dulu. Kenapa Rendra bisa lepas kontrol seperti itu? Sejak pertama kenal dia, aku nggak pernah denger kalau dia memukul orang.''
__ADS_1
''Ya udah deh, Al. Kamu hati-hati ya. Kita tunggu kabar dari kamu.'' Kata Rani. Alia dengan langkah terburu segera mencari Rendra. Tempat pertama Alia adalah musjid kampus. Benar dugaan Alia, Rendra sedang duduk di teras masjid. Rendra terlihat kesakitan dengan luka lebam di wajahnya.
''Assalamualaikum. Rendra, apa yang terjadi?'' kata Alia dengan panik.
''Waalaikumsalam. Aku, aku nggak apa-apa,'' kata Rendra tergagap. Alia lalu duduk di samping Rendra. Alia lalu mengambil kotak P3K di dalam tasnya. Alia selalu siap sedia kotak P3K di dalam tasnya sejak dulu. Itu adalah kebiasaan yang di tanamkan oleh Ibunya untuk berjaga-jaga. Alia mengambil kapas dan betadine untuk mengobati luka di wajah Rendra.
''Ya Allah, Ren. Lihat ujung bibir kamu sampai berdarah. Apa yang sebenarnya terjadi? Kata Sandra kamu berantem sama Elvan.'' Kata Alia sembari mengobati luka Rendra.
''Pelan-pelan, Al. Perih,'' kata Rendra lirih. Alia lalu meniup dengan lembut saat mengobati wajah Rendra. Alia kemudian mengoleskan salep berbentuk jel pada wajah Rendra yang lebam. Rendra menatap tulus wajah Alia. Ia benar-benar marah saat mendengar Elvan, hanya menganggap Rendra barang taruhan saja. Saat Elvan berjalan menuju basecamp, Elvan melihat Alia sedang mengobati luka Rendra di teras masjid. Elvan benar-benar marah melihat itu semua, Elvan kemudian melanjutkan langkahnya untuk menuju basecamp.
''Udah, Ren. Kalau di obati cepat, besok nggak akan sampai bengkak.''
''Makasih ya.''
''Sejak pertama mengenal kamu, aku tidak pernah melihat atau mendengar kamu bertengkar sama seseorang. Apalagi sampai baku hantam kayak gini.''
''Maafin aku, Alia. Aku benar emosi dan lepas kontrol. Aku marah karena aku mendengar, Elvan dan teman-temannya menjadikan kamu taruhan. Aku benar-benar hilang kendali mendengar semua itu. Kamu tidak pantas di perlakukan seperti itu, Alia. Mereka keterlaluan dan mereka salah orang. Tega-teganya dia menyakiti kamu seperti itu.''
''Dari awal mereka mencoba mendekati aku, aku sendiri sudah tidak yakin. Apalagi dengan cerita tentang mereka yang sudah terkenal di kampus ini. Sampai pada akhirnya aku mendengar mereka sendiri membicarakan tentang taruhan ini. Aku hanya tidak menyangka kenapa mereka memilih aku sebagai targetnya. Untung saja aku tidak terpancing dengan rayuan mereka. Akhirnya aku memutuskan tetap diam dan mencoba berteman dengan mereka. Meskipun mereka segerombolan bad boy tapi mereka tidak pernah satu kalipun bersikap kurang ajar sama aku. Sebenarnya aku selama ini juga kerja sama Elvan. Aku bekerja masak untuk dia.''
''Masak? Emang nggak ada pembantu apa di rumahnya? Kenapa harus nyuruh kamu? Pasti itu trik dia untuk deketin kamu.''
''Aku juga berpikiran seperti itu, Ren. Tapi ya sudahlah, dia juga menggaji aku kok.''
''Alia, kenapa kamu nggak marah sama mereka? Ya Allah Alia hati kamu terbuat dari apa sih? Kamu nggak pantas untuk di sakiti. Aku semakin kagum dan semakin kuat rasa aku untuk kamu.''
''Lebih baik sekarang kita temui Elvan dan minta maaf.''
''Minta maaf? Untuk apa? Seharusnya dia yang minta maaf sama kamu.''
''Ren, kamu yakin kalau kamu tidak menyakiti perasaan Elvan juga?'' kata Alia yang seolah tahu bahwa Rendra memang mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati Elvan.
''Baiklah. Demi kamu dan untuk kamu.''
''Aku juga ingin tahu gimana Elvan. Apa pukulan kamu juga membuat wajah Elvan seperti ini?'' kata Alia dengan senyumnya.
__ADS_1
''Ya Allah, dalam kondisi seperti ini kamu masih bisa tersenyum juga Al,'' gumam Rendra dalam hati.
Bersambung....