
''Assalamualaikum calon istriku,'' sapa Elvan berbisik. Alia cukup terkejut dengan ucapan Elvan.
''Apaan sih kamu, El. Sudahlah jangan modus,'' kata Alia yang sibuk mengerjakan tugas di perpustakaan.
''Haduh kalian Rich Man, minggir deh. Kita mau belajar,'' seloroh Rani saat melihat Elvan, Leon dan Fandi berkerumun di setiap sisi Alia.
''Iya nih ganggu aja. Kita mau belajar, sebentar lagi ujian, skripsi dan wisuda. Jadi, kalian silahkan pergi dari sini,'' timpal Diana.
''Kita ikutan deh. Lumayan lah sejak di ajari Alia, nilai yang tadinya E jadi D,'' seloroh Leon.
''Astaga nilai D aja masih bisa senyum. Makanya jangan cewek melulu yang di pikirin. Ganteng, tajir tapi kalau otaknya kosong sama aja dong,'' sindir Rani.
''Pedes amat sih mulut elo,'' sahut Leon.
''Itu kenyataan kali. Kalian kan emang modal tampang dan kekayaan doang, makanya cuma cewek-cewek bodoh dan otaknya nol yang mau sama kalian,'' timpal Diana.
''Rani, Diana, udah! Nggak boleh ngomong gitu ah,'' tegur Alia.
''Tuh dengerin bidadari surga lagi ngomong. Suara lembut dan menenangkan hati,'' kata Fandi.
''Kalau kalian mau ikutan boleh kok,'' kata Alia.
''Terima kasih Alia yang baik hati seperti bidadari,'' kata Leon yang langsung mengambil tempat duduk tepat di samping Alia.
''Elo duduk disana! Ini tempat gue,'' kata Elvan dengam suara meninggi.
''Ah elo, El. Itu masih banyak yang kosong.''
''Tapi gue duluan yang nyamperin Alia,'' kata Elvan.
''Kalian ini mau beneran belajar atau berantem sih, kayak anak kecil aja,'' ketus Diana.
''Cepetan minggir, Le!" kata Elvan. Leon mendengus dan duduk di samping Diana. Alia kemudian mulai memberikan bimbel untuk Diana dan Rani. Rich Man pun ikut bergabung bersama mereka. Mereka pun tampak serius untuk mendengarkan semua penjelasan materi dari Alia.
__ADS_1
Sementara itu Rendra hari ini benar-benar kecewa dengan penolakan Ayah Alia. Padahal Rendra sudah membayangkan kalau ia akan mendapat restu dengan mulus. Kini Rendra tengah duduk di bangku taman, tempat dimana ia menyatakan perasaannya pada Alia.
''Al, kenapa kamu nggak pernah cerita tentang perjodohan ini? Siapa laki-laki itu, Al?'' gumam Rendra dalam hati. Di tengah lamunannya tiba-tiba Sandra datang mengagetkannya.
''Woi!" ucap Sandra sambil menepuk bahu Rendra.
''Eh, Sandra,'' singkat Rendra.
''Kenapa wajah kamu, Ren? kok kusut amat sih. Udah di tekuk aja tu wajah,'' ledek Sandra.
''Ah nggak apa-apa kok, San.''
''Udahlah cerita aja. Santai aja lagi, Ren. Pasti karena Alia kan? Siapa lagi yang bisa bikin kamu jadi seperti kalau bukan Alia.''
''Iya kamu benar. Lamaran aku di tolak sama orang tuanya Alia.''
''Hah? serius? Mau cari calon mantu kayak gimana sih orang tuanya Alia. Miskin aja belagu,'' sinis Sandra.
''Jangan bicara seperti itu, San. Kamu tidak tahu alasannya jadi kamu jangan mengambil kesimpulann negatif.''
''Belum, aku butuh waktu sendiri dulu sebelum bicara dengan Alia. Kamu tidak bersama Elvan?''
''Iya tadinya aku nyariin dia. Eh lihat kamu disini deh.''
''Tadi aku lihat Alia bersama Elvan juga teman-temannya sedang belajar di perpustakaan.''
''Apa? Elvan bergaul sama cewek itu? Jangan-jangan Elvan lagi yang di incar Alia, makanya orang tuanya nolak kamu. Secara Elvan kan punya segalanya.''
''Kamu ini terlalu cepat mengambil kesimpulan. Itu namanya suudzon, San.''
''Apalah itu namanya, aku nggak suka Alia dekat-dekat sama Elvan. Nggak yang boleh milikin Elvan selain gue,'' tegas Sandra sembari berlalu meninggalkan Rendra.
...****************...
__ADS_1
Sandra pun segera menuju perpustakaan dan benar apa yang di katakan oleh Rendra. Elvan berada di sana, bahkan Elvan duduk tepat di samping Alia. Sandra yang telah di kuasai api cemburu datang melabrak Alia.
GUBRAK! Sandra memukulkan tangannya pada meja yang membuat mereka semua tercekat.
''Sandra! Apa-apaan lo," kata Elvan mengingatkan.
''Heh elo wanita munafik! Jangan berlindung dengan jilbab elo dari kebusukan. Dasar ganjen lo, sok suci! Dulu dekat sama Rendra, sekarang dekat sama Rich Man. Elo mau nunjukkin kalau elo bisa memikat mereka semua. Elo mau nunjukkin kalau elo bisa membuat Rich Man bertukuk lutut di hadapan elo. Dasar wanita murahan!" cerocos Sandra yang membuat Elvan geram. Elvan lalu beranjak dari duduknya dan hendak menampar Sandra. Sandra pun segera memalingkan wajahnya. Namun Alia lah yang menahan tangan Elvan. Alia tersenyum dan menggelengkan kepalanya pada Elvan.
''Jangan pernah bicara sembarangan tentang Alia. Kita sendiri kok yang mau belajar sama Alia, apa salah? Apa salah kalau gue sama Fandi dan Leon bergaul dengan Alia? Secara Alia salah satu mahasiswi terbaik disini. Apa salah kalau Rich Man gerombolan bad boys, mau berubah menjadi lebih baik? Seburuk-buruknya manusia, pasti di sudut hatinya masih punya naluri kebaikan. Masak cuma modal ganteng doang, kita kan pingin punya otak juga. Temen-temen dengerin semuanya ya? Justru gue salut sama Alia, dia tetap mau ngajarin gue dan teman-teman gue ini. Tidak pernah sedikitpun dia melihat sisi buruk kita sebagai Rich Man. Rich Man nyaman kok berteman dengan Alia dan Alia juga nggak keberatan. Kalian tahu sendiri Alia sangat baik dan benar-benar wanita sholeha. Dia tidak pernah mengkotak-kotakkan manusia. Jadi kalian jangan pernah berpikiran buruk tentang Alia. Elo aja San, yang syirik kan? Menurut kalian gimana? Kalian tahu sendiri Alia orangnya seperti apa? Bagus dong Alia masih mau anggap kita sebagai teman.''
''Iya, gue setuju sana Alia. Lagian bagus dong, seorang Alia bisa membuat Rich Man lebih baik. Nggak cuma modal kaya dan ganteng doang,'' sahut salah satu dari mereka.
''Ah elo nih, San. Aneh. Masak orang belajar di katain yang nggak-nggak. Sumbu pendek lo,'' sahut yang lainnya. Semua yang ada di perpustakaan pun justru balik menyerang Sandra. Sandra pun tak berkutik, ia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dan mengeratkan rahangnya.
''Sandra, kalau kamu mau ikutan boleh kok,'' sahut Alia. Namun Sandra yang sudah kepalang malu, memutuskan untuk pergi.
''Huuuuuu dasar cewek aneh,'' sorak mereka semua pada Sandra. Rani dan Diana pun kompak memberikan tepuk tangan untuk Elvan.
''Sekarang kita semua temenan deh. Elo udah belain Alia,'' kata Rani.
''Gue nggak belain lagi. Gue kan emang bicara apa adanya sesuai fakta,'' kata Elvan.
''Wah kali ini gue makin ngefans sama kalian,'' timpal Diana.
''Makasih ya, El.''
''Untuk apa, Al? Aku mengatakan yang sesungguhnya. Kamu memang baik, pintar, wanita sholeha dan istri idaman,'' kata Elvan dengan menatap mesra Alia.
''Ehem... ehem... woi ada kita juga nih disini. Pakai tatap-tatapn segala, belum muhrim!" sahut Leon sambil memukul-mukulkan bolpoin di atas meja.
''Wah, kayaknya ada yang kejebak cinta nih,'' sahut Fandi.
''Ya udah lah, Al. Bagus tuh, ajakin Elvan hijrah sekalian biar sembuh,'' celetuk Diana cekikikan.
__ADS_1
''Udah kalian ini apaan sih? Ayo lanjut lagi belajarnya,'' kata Alia yang tersipu malu. Dan rupanya dari balik pintu, Rendra melihat itu semua. Rendra juga melihat bagaimana Elvan begitu marah saat Sandra memaki Alia di hadapan semua orang. Padahal tadinya Rendra yang ingin mencegah Sandra namun Elvan justru sebaliknya. Elvan lebih tegas untuk menghadapi Sandra dan mengendalikan situasi. Entah kenapa hati Rendra terasa sakit dan perih melihat itu semua.
Bersambung...