Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"

Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"
EPS. 53 Berbagi Luka


__ADS_3

Alia lalu menuju dapur, membuatkan jahe hangat untuk Elvan.


''Udah aku gantiin baju Kak Elvan, Kak.'' Kata Andra yang baru saja keluar dari kamarnya.


''Makasih ya, Andra,'' kata Alia. Alia segera masuk ke kamar Andra. Alia segera mengompres Elvan. Pak Samir dan Andra pun ikut menemani Alia karena mereka juga merasa khawatir.


''Andra, tolong ambilkan obat penurun demam di kotak p3k nya,'' pinta Alia pada adiknya.


''Iya, Kak.'' Jawab Andra sembari berlalu.


''Nak, memangnya orang tua nak Elvan tidak khawatir?''


''Elvan di rumah sendirian, Yah. Hanya ada pembantu dan satpam yang menemaninya.'' Kata Alia sembari menatap wajah Elvan yang tampak pucat.


''Lalu orang tuanya?''


''Mereka di luar negeri, Ayah.''


''Jadi Elvan sendiri disini?''


''Nanti Alia ceritain ya, Yah.''


''Kak, ini obatnya,'' sela Andra.


''Makasih ya. Kita tunggu Elvan sadar dulu.'' Kata Alia. Elvan kemudian perlahan membuka matanya. Pandangannya mengedar melihat ada wajah Alia di hadapannya.


''Aku dimana?'' tanya Elvan lirih.


''Di rumah aku.'' Jawab Alia. Elvan kembali merasakan pening dan ingin muntah. Alia yang mengetahui Elvan akan muntah, segera menyodorkan sebuah baskom untuk Elvan. Dan Elvan pun memuntahkan semuanya. Alia lalu membantu Elvan meminum jahe hangat untuk Elvan. Tubuh Elvan yang terasa lemas, hanya bisa menurut pada apa yang di lakukan Alia.


''Aku mau pulang,'' kata Elvan sembari mencoba bangkit dari tempat tidur.


''Kamu demam? bahaya menyetir sendirian, El.'' Kata Alia dengan lembut.


''Kamu disini dulu tidak apa-apa, nak. Daripada kamu pulang malah bahaya,'' kata Pak Samir. Elvan lalu menatap ke arah Alia. Alia menyunggingkan senyumnya dan mengangguk, memberi kode untuk menurut dengan apa yang di katakan oleh Ayahnya.

__ADS_1


''Sekarang kamu minum obat dulu ya.'' Alia lalu membantu Elvan meminum obat dan Elvan pun menurut.


''Apa kamu sudah makan?''


''Belum makan daritadi pagi.''


''Aku kan tadi sudah mengirim makan pagi. Apa kamu tidak memakannya?''


''Dimakan Leon sama Fandi.'' Jawab Elvan dengan polosnya.


''Andra buatkan bubur untuk Kak Elvan ya?''


''Iya Andra. Sebaiknya kamu buatkan bubur untuk nak Elvan. Masakan Andra juga sangat enak,'' sahut Pak Samir.


''Iya, terima kasih.'' Kata Elvan. Andra pun segera menuju dapur di ikuti oleh Pak Samir. Kini tinggal Elvan dan Alia berdua di kamar. Elvan menatap lembut wajah Alia namun Alia memilih menundukkan pandangannya.


''Aku keluar dulu. Kamu istriahat saja. Kalau udah baikan, sebaiknya kamu pulang,'' kata Alia yang bergegas meninggalkan kamar. Namun Elvan mencegahnya. Elvan menggenggam pergelangan tangan Alia.


''Maafin aku,'' kata Elvan lirih. Alia menoleh menatap Elvan lalu tersenyum. Mendapat senyuman dari Alia, Elvan melepaskan cengkraman tangannya dan membiarkan Alia pergi.


''Sini kakak bantuin,'' sahut Alia yang melihat Andra dan Ayahnya sibuk di dapur.


''Udah nggak usah, Kak. Biarin aku yang masak. Aku mau nunjukkin kemampuan ku sebagai chef.'' Kata Andra dengan bangganya.


''Baiklah adikku.''


''Nak, melihat sikap kamu pada nak Elvan, sepertinya kamu sangat dekat dan seperti terbiasa mengurusnya. Bahkan kamu seperti tahu apa yang harus kamu lakukan disaat dia sedang seperti itu,'' kata Pak Samir. Mendengar ucapan Ayahnya, membuat Alia baru menyadari bahwa apa yang dikatakan Ayahnya itu benar. Ia seperti terbiasa mengurus Elvan.


''Mungkin perasaan Ayah saja,'' kata Alia.


''Nak, Ayah ini Ayah kamu. Dan kamu anak Ayah. Dan kamu sudah dewasa bukan anak kecil lagi.''


''Baiklah, Alia mau cerita sama Ayah. Oh ya, nanti kalau buburnya udah jadi, kamu bawa ke kamarnya Elvan ya, Ndra. Kakak mau bicara sama Ayah.''


''Iya Kak.'' Jawab Andra. Alia lalu mengajak Ayahnya menuju teras belakang rumahnya yang sangat sederhana. Mereka duduk di atas kursi yang terbuat dari bambu.

__ADS_1


''Sekarang cerita sama Ayah? dia mabuk kan?'' selidik Pak Samir. Pak Samir khawatir jika Elvan bukan lelaki baik-baik.


''Iya, Yah. Dia mabuk.'' Mendengar jawaban Alia, membuat Pak Samir menghela nafas panjang.


''Apa hubungan kamu sama dia?'' kata Pak Samir dengan sinis.


''Alia tidak ada hubungan apa-apa, Yah. Alia mohon Ayah jangan salah paham.''


''Tapi cara dia menatap kamu beda. Apa dia lelaki pemabuk dan suka judi?''


''Tidak, Yah. Dia selalu mabuk untuk melampiaskan kemarahannya. Berharap dengan mabuk, ia bisa segera tertidur dan melupakan semua rasa sakitnya.''


''Maksud kamu? apa orang tuanya tidak peduli? apa dia disini tidak punya saudara?''


''Ada saudara. Tapi mereka saudara beda ibu. Dan itu menyakitkan untuk Elvan. Ayah, dia tampan dan memiliki segalanya tapi dia kesepian. Mamanya sudah meninggal saat dia berusia 9 tahun. Elvan dan Mamanya mengalami kecelakaan namun nyawa Mamanya tidak tertolong. Dan......'' Alia kemudian menceritakan semua yang di alami oleh Elvan pada Ayahnya. Semua yang telah di ceritakan Bi Minah, Alia ceritakan pada Ayahnya. Hingga tak terasa air mata Alia membasahi pipinya.


''Hhhh, kasihan dia.''


''Alia mohon, Ayah bisa menyimpan rahasia ini. Elvan sendiri tidak pernah menceritakan kesedihannya. Dia selalu berusaha kuat di hadapan semua orang. Tapi luka hatinya terlalu dalam, Ayah. Bi Minah meminta Alia untuk selalu berada di sampingnya. Meskipun dia seperti itu, dia tidak pernah bersikap kurang ajar pada Alia. Dia mabuk, gonta-ganti pacar, hanya untuk berusaha menutupi lukanya. Alia yakin, Elvan itu baik. Dia sangat peduli dengan orang di sekitarnya. Karena Alia melihat sendiri betapa tulusnya dia kepada anak penjual tisu waktu itu. Dan kebaikan itulah yang di ajarkan oleh Mamanya.''


''Lalu, apa kamu mencintainya?'' pertanyaan Pak Samir, seketika membuat Alia terkejut.


''Cinta? sepertinya bukan, Yah. Mungkin Alia hanya peduli sebagai teman.'' Mendengar ucapan putrinya, Pak Samir menyunggingkan senyumnya. Alia lalu memeluk lengan Ayahnya dan menyandarkan kepalanya di bahu Ayahnya dengan manja.


''Ayah, apa Ayah akan melarang Alia untuk dekat dengan Elvan?''


''Tidak, nak. Dia hanya salah jalan. Dia boleh marah dan sakit hati, tapi jangan dengan cara menyakiti diri sendiri dan membenci Tuhan. Mendengar cerita kamu, memang tidak mudah menjadi dia. Di usai yang masih 9 tahun, harus menghadapi kenyataan yang menyakitkan. Apalagi Papanya yang seolah tidak peka dengan perasaan anaknya. Kasihan sekali dia, nak. Jangan jauhi dia tapi bimbing dan ajari dia untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Kebaikan yang kamu tanam, kelak pasti akan berbuah manis.''


''Terima kasih ya Ayah. Terima kasih telah menjadi Ayah yang super baik untuk Alia. Ayah berhasil mendidik Alia dan Andra seperti ini. Alia sangat beruntung memiliki Ayah seperti Ayah.''


''Ayah juga bersyukur memiliki kamu dan Andra. Ya sudah, ayo kita masuk. Coba kamu lihat Elvan sudah mau makan belum?''


''Iya Ayah.'' Pak Samir lalu menyeka dengan lembut air mata anaknya.


''Ya Allah, baru kali ini aku melihat putriku menangisi seorang pria selain diriku. Berikanlah dia jodoh yang terbaik,'' gumam Pak Samir dalam hati.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2