
''Assalamualaikum, Al,'' sapa Rendra yang mengagetkan Alia.
"Eh Rendra. Waalaikumsalam.''
''Wah, pangeran udah datang nih. Aku sama Dia menjauh dulu ya,'' goda Rani sembari menarik tangan Diana untuk duduk di tempat lain.
"Makasih ya, Ran.'' Kata Rendra. Rendra kemudian duduk berjarak satu bangku dari Alia.
''Ada apa Ren?''
''Mmm aku mau tanya, kenapa Elvan bisa di rumah kamu? Bahkan kalian terlihat sangat akrab sampai makan satu meja.''
''Elvan sendiri udah jelasin kan, Ren. Apa yang di ucapkan Elvan semuanya benar dan dia tidak bohong.''
''Maafin aku, Al. Aku hanya khawatir saja kalau dia berbuat sesuatu yang aneh sama kamu. Secara kita semua tahu, dia dan gerombolannya itu seperti apa.''
''Kamu tenang saja ya. Dia nggak akan berani macam-macam sama aku.''
__ADS_1
''Baiklah kalau begitu. Kalau memang ada sesuatu, kamu langsung hubungi aku aja ya.''
''Iya, Ren. Kamu tenang ya, buktinya aku baik-baik saja kan.''
''Al, apa perasaan kamu masih sama dengan ku?'' tanya Rendra dengan sorot mata yang menatap lembut Alia.
''Iya. Perasaan ini masih sama kok.''
''Tapi entah kenapa semakin kesini, aku merasa perasaan kamu berbeda, Al. Al bagaimana kalau aku secepatnya melamar kamu? dan setelah lulus nanti, aku akan segera menikahi kamu.'' Alia benar-benar terkejut mendengar ucapan Rendra. Ia tidak tahu bagaimana cara menjawabnya. Disaat yang bersamaan, Elvan pun juga ada di perpustakaan dan ia sendiri sedang mencari Alia. Elvan juga sangat terkejut, mendengar ucapan Rendra pada Alia yang begitu serius.
''Gentle juga dia. Tapi kenapa dada gue sesak ya,'' kata Elvan dalam hati. Elvan lalu segera menghampiri Alia dan Rendra. Elvan kemudian sengaja duduk di tengah-tengah mereka berdua. Elvan sepertinya tidak ingin mendengar jawaban Alia dari pertanyaan yang di ajukan oleh Rendra.
''Ngapain sih disini?'' kata Rendra dengan kesal.
''Ini kan perpustakaan, bukan tempat elo. Iya kan?'' bantah Elvan.
''Turunin tangan kamu dari Alia!" perintah Rendra.
__ADS_1
''Oh, sorry!" ucap Elvan sambil menurunkan tangannya dari pundak Alia.
''Dan juga dari aku,'' sambung Rendra. Elvan pun lalu menurunkannya.
''Ada apa El?'' tanya Alia.
''Ini gue punya coklat buat elo. Ya sebagai tanda terima kasih karena elo udah ngrawat gue,'' kata Elvan sambil menyodorkan coklat pada Alia.
''Makasih ya,'' kata Alia sambil menerima coklat itu dengan senyuman.
''Alia, kamu jangan percaya sama dia. Dia ini playboy. Ini pasti trik dia untuk dapetin kamu. Aneh aja kan seorang Elvan, tiba-tiba bisa deketin kamu yang jelas-jelas secara nyata, kalau kamu bukan tipe Elvan,'' kata Rendra dengan penuh rasa cemburu.
''Apaan sih lo? kalau gue suka beneran sama Alia, elo mau apa? selera kan bisa berubah.'' Bantah Elvan. Alia cukup terkejut dengan pengakuan tidak langsung Elvan. Namun ketika mengingat pengakuan Elvan bahwa dirinya hanya sebagai barang taruhan saja, masih menyimpan rasa kecewa di sudut hatinya.
''Nggak mungkin kamu suka Alia. Lagian kamu juga bukan tipe Alia. Mana mungkin Alia suka cowok dengan reputasi buruk seperti kamu. Mungkin kamu hebat di hadapn cewek di luar sana tapi belum tentu di hadapan Alia,'' tegas Rendra.
''Ya biarin dong! Gue bakal bikin Alia jatuh cinta sama gue,'' ucap Elvan dengan penuh keyakinan, sambil mengerlingkan matanya pada Alia. Melihat sikap Elvan, Alia hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Elvan kemudian segera pergi dari perpustakaan. Rendra dan Alia hanya saling melempar pandangan. Hati Rendra benar-benar terbakar oleh cemburu. Ia tidak menyangka bahwa Elvan akan bersikap seperti ini.
__ADS_1
''Ini pasti ada yang nggak beres. Aku nggak akan biarin Alia jatuh ke tangan orang yang salah. Alia boleh memilih siapa saja, asal jangan Elvan. Aku tidak ingin Elvan jika nanti menyakiti Alia,'' gumam Rendra dalam hati.
Bersambung